Cerita Ibunda Bahlil Lahadalia, Tukang Cuci yang Anaknya Menatap Kursi Menteri

Saat masih SD, Bahlil Lahadalia membantu orang tua berjualan kue dan saat SMP sampai SMK menjadi kernet angkutan kota di Fak Fak.

JEDA.ID–Sinyal Bahlil Lahadalia akan masuk jajaran menteri di pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin mencuat September 2019. Sebulan berselang, Bahlil Lahadalia dipanggil Presiden Jokowi di Istana Negara dalam rangka pengenalan calon menteri.

Bahlil Lahadalia datang ke Istana Kepresidenan, Selasa (22/10/2019), dengan mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam seperti calon menteri lainnya yang lebih dulu dipanggil Presiden Jokowi. Bahlil Lahadalia masuk salah satu calon menteri muda.

Peristiwa Bahlil Lahadalia yang datang ke Istana ini mengingatkan kembali momentum saat Jokowi hadir dalam Musyawarah Nasional XVI Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) pada September 2019 lalu.

Kala itu, Jokowi memberi kode bahwa Bahlil yang merupakan mantan Ketua Umum Hipmi bisa masuk dalam kabinetnya di periode kedua. Dalam pidatonya saat itu, Jokowi juga menyandingkan Bahlil dengan Ketum Kadin Rosan P. Roeslani.

”Tadi adinda Bahlil menyorong-nyorongkan dan merekomendasikan beberapa yang hadir di sini. Beliau menunjuk-menunjuk Abang Lutfi, menunjuk-menunjuk Ketua Kadin Abang Rosan, tapi saya tahu ini adinda Bahlil ini pinter. Sebetulnya beliau itu menyorongkan diri sendiri tapi ditutup oleh kedua beliau. Saya nangkep saya nangkep, beliau berdua ini pesaingmu lho,” kata Jokowi dikutip dari Detikcom.

Dalam Pilpres 2019, Bahlil Lahadalia merupakan salah satu pengusaha yang menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf. Laki-laki kelahiran 7 Agustus 1976 ini merupakan pengusaha muda yang mengelola sekitar 10 perusahaan di bawah holding PT Rifa Capital dengan omzet miliaran rupiah.

Bahlil kerap menjadi contoh salah satu pengusaha muda yang inspiratif. Sebab, Bahlil Lahadalia lahir dari keluarga yang penuh keterbatasan. Sebagaimana dikutip dari laman Kemendikbud, ayah Bahlil, almarhum Lahadalia, adalah kuli bangunan dan ibunya, Nurjani, bekerja menjadi tukang cuci gosok di rumah-rumah tetangganya.

Bahlil Lahadalia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dengan kehidupan seperti itu, orang tua Bahlil tidak pernah ada kata menyerah. Di berbagai kesempatan, Bahlil mengakui keberhasilannya membangun bisnis tak lepas dari ajaran kedua orang tuanya.

“Bapak saya sosok yang bersahaja penuh tanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga. Selain itu juga tegas dan displin. Sedang mamak saya mengajari mandiri, telaten dan kreatif,” ujar dia sebagaimana tertulis di laman Kemendikbud.

Perjuangan Besarkan 8 Anak

Bahlil Lahadalia

Ibunda Bahlil Lahadalia (Kemendikbud)

Walaupun orang tua tidak mampu memberikan nafkah berkecukupan semasa kecil, tapi nilai-nilai yang ditanamkan kepada dirinya agar selalu bersikap jujur, mandiri dan kreatif dapat menghantarkan dirinya membangun bisnis di Papua.

”Terwujudnya bisnis yang saya bangun berkat nilai-nilai orang tua yang ditanamkan sejak saya kecil,” jelas Bahlil.

Dengan segala keterbatasan ekonomi yang dimiliki, Bahlil dan tujuh saudaranya mampu menyelesaikan gelar kesarjanaan. Saat ini, sebagian menjalani profesi sebagai pegawai negeri dan guru.

Orang tua Bahlil Lahadalia tinggal di Fak Fak, Papua Barat. Dikutip dari laman Kemendikbud, ibunda Bahlil Lahadalia, Nurjani, menceritakan perjuangannya mendidik dan membesarkan delapan anak.

”Suami saya itu kuli bangunan, setiap hari mengaduk semen dan pasir. Karena sering mengisap serbuk semen dan debu, paru-parunya kena. Sembuh satu hari, 4 hari sakit, begitulah sampai meninggal tahun 2010 lalu,” kenang perempuan kelahiran Banda ini.

Nurjani kemudian membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tukang cuci dan gosok di sekitar 8 rumah di Fak Fak. Perjuangan Nurjani kian berat sejak suaminya sakit-sakitan sehingga biaaya kehidupan harus ditanggungnya.

Kala itu, Bahlil Lahadalia masih kuliah dan baru lulus tahun 2002, sedangkan adik-adiknya bersekolah, ada yang SD sampai SMA. ”Saya sekolahkan anak-anak sampai SMA. Saya minta kalau mau kuliah nyari uang sendiri, mama hanya bisa mendoakan,” ujar dia.

Dia mengaku upah sebagai tukang cuci gosok langsung dibagi-bagi untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nurjani membuat aneka kue dan jajanan pasar.

Anak-anaknya diminta membantu membawanya untuk disimpan di warung sekolah dan warung-warung di pemukiman serta pasar. Dengan kondisi itu, sehari-harinya, tak jarang mereka hanya makan nasi dengan garam dan sedikit sayuran.

Untuk urusan pakaian, Bahlil Lahadalia dan saudaranya menggunakan pakaian secara turun temurun artinya pakaian untuk anak paling besar kemudian diwariskan kepada adik.

Begitu pula dengan perlengkapan sekolah seperti sepatu yang sangat terbatas. Bahkan, Bahlil Lahadalia dan keluarga punya istilah khusus yaitu sepatu aspal untuk sepatu yang alasnya sudah rusak sampai menginjak aspal.

”Anak-anak saya sering bilang, mah, sepatunya sudah robek, saya bilang, enggak apa-apa, kan atasnya masih bagus, bawahnya kan enggak kelihatan,” kata Nurjani.

Bahlil Berprestasi di Sekolah

Bahlil Lahadalia

Bahlil Lahadalia (Antara)

Nurjani bercerita keluarga Bahlil sejatinya bukan asli Fak Fak, Papua Barat. Nenek moyangnya berasal dari Sulawesi Tenggara namun merantau ke Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Kepindahan mereka ke Fak Fak terjadi saat terjadi erupsi Gunung Banda Api pada April 1988.

Dia pun berkisah tentang masa kecil Bahlil. Nurjani mengisahkan Bahlil selalu berprestasi di sekolah dan punya semangat untuk maju. Saat masih SD, Bahlil membantu orang tua berjualan kue dan saat SMP sampai SMK menjadi kernet angkutan kota di Fak Fak.

”Sekolahnya kan siang, pagi harinya jadi kenek angkot. Pulang sekolah kembali jadi kenek sampai jam 10 malam, “kata Nurjani bangga.

Kini Bahlil menjadi salah satu pengusaha muda yang memiliki sejumlah usaha. Menurut dia, Bahlil yang memulai mengangkat derajat orang tua dan adik-adik serta kakaknya. Setelah lulus kuliah dan bekerja, Bahlil yang membiayai kuliah kakak dan adik-adiknya.

Bahlil juga membiayai pernikahan adik-adiknya termasuk memberangkatkan orang tuanya pergi berhaji ke Tanah Suci dan membangunkan rumah orang tua. Bahlil Lahadalia mengaku beruntung dibesarkan dari keluarga yang pantang menyerah.

Dia menyebut saat orang tua menyuruhnya ikut berjualan kue adalah nilai awal penanaman daya juang. ”Saya pikir apa yang diajarkan ibu dan bapak itu bukan menyiksa anak-anak dengan disuruh cari uang sejak kecil, tapi merupakan penanaman daya juang. Dengan jualan kue, mental bisnis dan mental penguaha saya sudah diuji,” kata dia di laman Kemendikbud.

Bahlil Lahadalia yang sempat memimpin Hipmi pada 2015-2018 kini menatap kursi menteri. Dia bertemu dengan Presiden Jokowi termasuk mengenai penyusunan kabinet Jokowi-Ma’ruf.

”Kami bicara ekonomi dalam konteks yang luas ya, bisa juga ada UMKM-nya, ada investasinya, ada perdagangannya, nanti kita lihat, yang tahu hanya Allah SWT dan Pak Jokowi,” ujar Bahlil Lahadalia sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.