Kisah Pemilik Disc Tarra Banting Setir Jadi Petani Sayur

Dia mempelajari metode pertanian dengan cara door to door.

JEDA.ID-Pemilik Disc Tarra, Wirawan Hartawan, sebelumnya tak pernah terpikir menjadi petani sayur. Pemilik Disc Tarra ini merasa penutupan Disc Tarra dan beralih ke pertanian menjadi semacam berkat.

Ya! Dulu, dia memimpin Tarra Group, sebuah perusahaan yang menaungi toko CD dan kaset musik terbesar di Indonesia, Disc Tarra. Bahkan kala itu, sampai mengorbitkan banyak penyanyi-penyanyi Indonesia yang berbakat.

Lalu bagaimana kisahnya pemilik Disc Tarra ini banting setir ke pertanian sayur? Kisah inspiratif ini berawal pada 2012  saat Wirawan menderita stroke, saluran otak sebelah kirinya tersumbat. Sudah banyak dokter yang ia datangi namun tak ada yang bisa membantunya untuk sembuh.

Hanya satu dokter yakni Terawan Agus Putranto yang berhasil membuat sumbatan di otaknya kembali lancar. Namun hanya bertahan 3 bulan, sumbatannya kembali muncul.

Waduh! Serat Sintesis dari Pakaian Cemari Arktik

Hal itu membuatnya bingung. Dokter Terawan tak bisa lagi menolongnya. Dia hanya memberikan nasehat jika dirinya harus mengubah kebiasaan makan dan pola hidup. Misalnya dengan banyak makan makanan sehat seperti sayuran.

Ia mulai menjalankan kebiasaan baru yakni mengonsumsi sayur dan makanan alami. Apa yang dia lakukan berbuah manis, kondisi tubuhnya mulai membaik meskipun masih harus mengonsumsi obat-obatan untuk menekan penyakit yang masih ada di dalam tubuhnya.

“Waktu itu saya bisa makan 20 macam obat untuk tekan saya punya penyakit. Dari situ, saya bertekad saya harus belajar menanam sayur dan saya konsumsi, sayur ini yang bisa menyehatkan,” jelas eks bos Disc Tarra tersebut seperti dikutip dari detikcom, Sabtu (16/1/2021).

Kemudian dia mulai mempelajari bertanam sayuran dengan metode hidroponik. Di dalam negeri dia tak mendapatkan ilmu tersebut, Wirawan pergi ke beberapa negara untuk mempelajarinya. Negara yang dia datangi seperti Belanda, Prancis, Amerika Serikat (AS), Israel, Jepang, Taiwan, China, Malaysia, Bangkok sampai Turki.

Dalam perjalanannya dia mempelajari metode pertanian dengan cara door to door. “Saya keliling, saya ketuk pintu orang, pak anda tanam apa? Saya boleh masuk dan kerja di sini? Nggak usah bayar saya, saya mau kerja aja, saya mau belajar,” jelas dia.

Nah di sinilah dia mempelajari cara bertani mulai dari peralatan sampai konsep pertanian modern. Selain pertanian, dia juga mempelajari raw food therapy. Atau terapi makanan mentah. Raw food therapy ini mengonsumsi sayuran mentah, buah mentah. Kemudian dia mengonsumsi suplemen seperti virgin coconut oil (VCO), cuka apel, garlic juive dan madu.

10 Objek Wisata Paling Ekstrim di Dunia, Mau Coba?

Hal tersebut rutin dia lakukan selama enam bulan dan berdampak pada normalnya tekanan darah, gula darah. Hingga obat darah tinggi yang diberikan dokternya bisa ditekan, bahkan dihilangkan sama sekali. Anak pertama dari 3 bersaudara ini menceritakan, perubahan yang terjadi dalam hidupnya sangat cepat dengan makan-makanan sehat tersebut.

“Dari situ saya merasa Tuhan sudah baik, saya janji dan bilang Tuhan, tadinya saya sudah mau mati dan tidak ada obat tapi sekarang saya semakin sehat makanya saya masuk pertanian dan mengajari orang-orang gaya hidup sehat,” jelas dia.

Mempelajari Teknik Pertanian

Wirawan menyebutkan hal yang dia pelajari adalah jika hidup sehat adalah menyeimbangkan kerja organ inti agar bisa berjalan sempurna.

“Dulu kalau saya ngajarin orang nyanyi atau di musik, sekarang saya sayuran, pertanian, makan sehat nomor satu,” imbuh dia. Dia mulai mendirikan greenhouse untuk menjadi laboratorium eksperimen bercocok tanam menggunakan hidroponik. Ini yang merupakan awal Hydrofarm.

Selama 5 tahun dia bersama anak-anaknya membangun smart system untuk hydroponik. “Saya belum jualan, saya masih eksperimen dulu,” ujarnya.

Dia menyebutkan dirinya juga mempelajari teknik-teknik pertanian di beberapa wilayah di Indonesia. Menurut dia saat itu teknologi pertaniannya masih sangat tradisional dan ketinggalan berpuluh-puluh tahun.

Sekarang dia berupaya mengajak para petani untuk memajukan sektor pertanian agar bisa menghasilkan kualitas yang bagus. Menurut dia pertanian di Indonesia masih perlu sama-sama dibangun.

Hydrofarm sendiri berasal dari Hydro yang berarti air dan Farm pertanian. Di sini dia berkomitmen menciptakan kesadaran hidup sehat melalui pertanian hidroponik yang tepat.

Kemudian keahlian dan teknologi tinggi digabungkan untuk memberikan kualitas terbaik dalam sistem dan produksi hidroponik. Hydrofarm Indonesia saat ini memasok produk pertanian dan perkebunan hidroponik terbesar di Indonesia. Selain itu Hydrofarm juga menyediakan berbagai kebutuhan hidroponik baik skala kecil maupun besar.

Saat ini Hydrofarm Indonesia memiliki anak perusahaan yang bergerak di dalam dunia kesehatan dan produk organik seperti Eat Me Brand dan Suka yang pemasarannya melalui sosial media Instagram @eatmebrand.id, @hydrofarmindonesia dan @sukaorganic. Selain itu juga ada website hydrofarm.co.id.

Corat-Coret Di Kertas Ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan Mental Loh

Eat Me Brand adalah merek yang menyediakan produk pertanian berteknologi tinggi dan greenhouse berkontrol iklim. Hal ini diharapkan bisa mengoptimalkan pertumbuhan dan kualitas tanaman sehingga menghasilkan buah dan sayur yang segar, bebas pestisida, non GMO, bersih dari virus dan bakteri serta mengandung nutrisi yang lebih tinggi.

Wirawan menceritakan penyebab penutupan toko-tokonya bukan karena Disc Tarra kalah saing. Dia menyebut jika penutupan merupakan keputusan pribadi dan keluarganya. “Waktu Disc Tarra tutup, itu memang keputusan saya sendiri,” ujarnya di bilangan Tangerang, belum lama ini.

Nasib Disc Tarra

Wirawan menceritakan saat 2015 Disc Tarra masih memiliki 238 cabang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tapi keputusan menutup memang harus dieksekusi, pasalnya pabrik suku cadang mesin yang biasa dia gunakan untuk duplikasi CD dan berasal dari Eropa sudah bangkrut. Tak ada lagi yang memasok kebutuhan suku cadang mesin tersebut.

Hingga mesin yang dimiliki tinggal 3 unit, itupun hasil kanibal dari mesin yang lain. “Jadi saya pikir, kalau masih kontrak sama mal itu kan 5 tahun, mesin ini bisa tahan nggak 5 tahun lagi? Kalau saya kontrak tapi tidak produksi, mau jualan apa? Sewa harus bayar, pegawai bayar, listrik bayar. Ada di mal tapi nggak ada CD nya,” ujarnya

Nah dari situ dia memutuskan untuk tak melanjutkan kontrak-kontrak dengan mal dan menutup toko. Dia menegaskan Disc Tarra tutup bukan karena kerugian, walaupun  berita yang beredar seperti itu.

Setelah masalah tersebut selesai, dia membereskan masalah pabrik yang juga harus ditutup. Karena tidak adanya suku cadang hingga tak ada lagi produksi. Dengan sisa simpanan, Wirawan mengungkapkan menyiapkan diri untuk dunia yang baru.

“Kalau saya waktu itu enggak tutup, coba bayangkan hari ini mal buka enggak? Harus bayar sewa nggak? Tahun lalu berapa banyak restoran yang ramai pun nggak kuat. Apalagi musik, anak saya saja sudah nggak beli CD, beli Spotify Rp 50.000 saya bisa dengarkan dari seluruh dunia. Tuhan kasih berkat, elo tutup [Disc Tarra]!” imbuhnya.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.