Mahasiswa S2 Nekat Bunuh Diri, Kaum Terpelajar Rentan Depresi?

Diduga depresi, seorang mahasiswa S2 Institut Teknologi Bandung (ITB) berinisial MA, 25, nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

JEDA. ID—Seorang mahasiswa S2 Institut Teknologi Bandung (ITB) berinisial MA, 25, nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. MA disebut gantung diri di kamar kosnya. Polisi tak menemukan bekas luka di tubuh mahasiswa yang dikenal cukup pintar itu.

“Saat ditemukan tidak ada kekerasan fisik di tubuh korban,” ucap Kapolsek Coblong AKP Auliya Djabar kepada detikcom via pesan singkat, Rabu (4/9/2019).

MA ditemukan meninggal dengan cara gantung diri. MA tergantung di kusen kamar kosnya di Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung pukul 17.15 WIB, Selasa (3/9/2019). Ada dugaan MA mengakhiri hidup karena mengalami depresi.

Menurut Auliya Djabar dugaan ini berdasarkan temuan surat kontrol dokter kejiwaan Rumah Sakit Melinda, Bandung. Dalam surat itu, tertulis korban mengalami depresi. “Ada surat kontrol dari RS Melinda 2 dari dokter kejiwaan menerangkan bahwa korban mengalami depresi,” kata dia.

MA merupakan mahasiswa S2 di ITB, yang berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Jasad MA kemudian dibawa oleh tim Inafis Polrestabes Bandung. Petugas membawa jasad MA ke Rumah Sakit Hasan Sadikin sebelum diserahkan kepada keluarganya.

Peningkatan

Terkait fenomena ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menerbitkan penelitiannya tentang perkiraan tingkat bunuh diri. Penelitian selesai dilakukan 2016 dengan sedikit penyempurnaan terakhir tahun 2018. Dari beberapa tahun sebelumnya, terlihat peningkatan angka bunuh diri di Indonesia.

WHO menyebutkan pada 2000 ada 5,9 pria dari 100.000 pria melakukan bunuh diri. Pada 2010, angkanya turun sedikit menjadi 5,6. Pada 2015, angkanya kembali turun menjadi 5,3. Pada 2016, angka itu kembali turun menjadi 5,2. Sementara angka bunuh diri yang dilakukan perempuan juga turun sejak 2000. Saat itu tercatat angkanya berada pada 2,7 per 100.00 orang. Pada 2010 menjadi 2,4. Pada 2015 turun menjadi 2,2. Pada 2016 angka itu tetap sama.

Bila dirata-rata dari kedua jenis kelamin, tingkat bunuh diri di Indonesia pada 2000 adalah 4,3. Angka itu turun menjadi 4 pada 2010. Pada 2015 angka itu menjadi 3,7. Terakhir pada 2016, tingkat bunuh diri Indonesia tetap pada angka 3,7.

Dengan angka 3,7 itu, Indonesia berada di peringkat 159 dalam hal tingkat bunuh diri di dunia. Negara dengan tingkat mengakhiri hidup tertinggi di dunia adalah Guyana dengan angka 30,2. Disusul di peringkat kedua ada Lesotho dengan tingkat bunuh diri 28,9. Di ranking ke-3, ada Rusia dengan angka 25,5.

Korea Selatan berada di urutan ke-10 dengan angka 20,2. Jepang berada di urutan ke-30 dengan tingkat bunuh diri 14,3. Amerika Serikat (AS) ada di urutan ke-34 dengan angka 13,7. Posisi paling buncit, yakni di urutan ke-183, ditempati oleh Barbados dengan angka 0,4.

WHO menyebut bunuh diri sebagai fenomena global. Faktanya, 79% kasus orang mengakhiri hidup terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah pada 2016.  Bunuh diri merupakan pembunuh ke-18 di dunia pada 2016, karena 1,4% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh bunuh diri. Bahkan bila lingkup umur dipersempit, yakni kematian usia 15-29 tahun, bunuh diri menjadi pembunuh nomor dua di dunia.

Kalangan Muda Terpelajar

Suicidolog atau ahli kajian bunuh diri, Benny Prawira, menyebut kecenderungan untuk mengakhiri hidup juga menyasar kalangan kaum muda terpelajar. Pendiri sekaligus Kepala Koordinator Into The Light, kelompok pemerhati pencegahan bunuh diri itu pernah melakukan penelitian angka pemikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri di kalangan mahasiswa Jakarta.

Dia mengatakan, penelitian serupa  di Yogyakarta pernah dilakukan oleh Karl Peltzer pada tahun sebelumnya. “Tesis saya menemukan 34,5% mahasiswa berusia 18-24 tahun di Jakarta ini punya pemikiran suicidal dalam satu tahun terakhir,” kata Benny yang saat ini tengah menyelesaikan penelitian di Magister Psikologi Sosial Kesehatan Unika Atma Jaya ini.

Adapun menurut penelitian Peltzer, angka pemikiran bunuh diri di Yogyakarta lebih kecil, yakni 6,9%.  Sebagai perbandingan, sebelumnya pernah pula ada penelitian regional Asia Tenggara yang dilakukan Karl Peltzer dan kawan-kawan pada 2016, terbit di Journal of Psychiatry, tentang perilaku bunuh diri mahasiswa di enam negara ASEAN.

Mereka menyurvei 4.675 mahasiswa S1 dari Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam, termasuk dari Indonesia. Umur responden adalah 18-30 tahun dan rata-rata berusia 20,6 tahun. Di Indonesia, mereka mengambil 231 responden dari mahasiswa-mahasiswa yang menuntut ilmu di Yogyakarta.

Hasilnya, angka pikiran untuk melakukan bunuh diri dari mahasiswa di sejumlah negara ASEAN itu mencapai 11,7%. Sedangkan angka percobaan bunuh diri sebesar 2,4%. Responden dari Indonesia (Yogyakarta) menunjukkan angka pikiran bunuh diri 6,9% atau terendah ketimbang mahasiswa-mahasiswa di kota lain di ASEAN. Angka pikiran bunuh diri tertinggi ada di Myanmar dengan 16,3%.

Bila dilihat dari data WHO di atas, tingkat bunuh diri di Indonesia tidak terlalu parah dibanding negara-negara lain. Namun fenomena bunuh diri bukanlah sesuatu yang bisa diungkap dengan mudah. Masalah itu lebih banyak berada di sudut gelap aib keluarga, tak boleh kelihatan, luput dari jangkauan survei.

“Kalau secara statistika, yang terlaporkan mungkin terlihat kecil. Tapi harus diperhatikan, kematian akibat bunuh diri selalu merupakan angka gunung es,” kata Benny Prawira.

Benny menduga tingkat bunuh diri di Indonesia lebih banyak ketimbang yang terekam survei WHO. Soalnya, pandangan masyarakat terhadap bunuh diri teramat negatif, sehingga membuat masalah ini tidak dapat diungkap sepenuhnya.

Copycat suicide

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kemenkes, Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ., MPH, perilaku bunuh diri merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi, baik faktor pribadi pelaku, sosial, psikologis, budaya, biologi, dan lingkungan.  Karena itu, lingkungan keluarga hingga media massa memiliki peran penting dalam mencegah seseorang melakukan bunuh diri.

Remaja dan pemuda merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perilaku bunuh diri. Salah satu hal yang juga harus diperhatikan dari kasus ini adalah adanya fenomena copycut suicide. Copycat suicide adalah tindakan bunuh diri yang dilatarbelakangi ingin meniru kasus sebelumnya.

Pemberitaan  di media berpotensi menyebabkan individu melakukan copycat suicide, fenomena ini disebut juga dengan Werther Effect. Di era digital, Internet telah menjadi sumber utama informasi yang memberikan penggambaran tidak pantas mengenai kasus orang bunuh diri dan masalah kesehatan mental.

Menurut Fidiansjah, media massa sesungguhnya memiliki peran yang sangat strategis dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan jiwa. Dalam hal ini, media massa tidak hanya berperan sebagai penyebar informasi namun juga sebagai sarana untuk menghapuskan stigma dan diskriminasi terhadap penyintas. Berdasarkan sejumlah sumber, berikut cara mencegah keinginan mengakhiri hidup.

Dekat dengan alam saat travelling akan membuat jauh dari depresi (freepik)

Dekat dengan alam saat travelling akan membuat jauh dari depresi (freepik)

1. Cari dukungan

Keinginan untuk mengakhiri hidup, biasanya diawali perasaan depresi. Orang yang depresi cenderung menarik diri dari pergaulan, bahkan menjauh dari keluarga atau sahabat dekat.  Padahal, mendapatkan dukungan dari orang lain merupakan suatu hal yang sangat penting. Pada kasus depresi, hadirnya orang-orang tercinta dapat membantu berpikir jernih atau memotivasi diri.

Pastikan untuk tetap terhubung dengan orang lain dan ikut ambil bagian dalam aktivitas sosial. Ini akan memberikan efek yang positif pada suasana hati dan persepsi  Carilah teman atau siapa pun yang bisa membuat Anda berkeluh kesah secara terbuka, jujur, dan tidak merasa dihakimi.

2. Miliki hewan peliharaan

Meski tak ada yang bisa menggantikan hubungan sesama manusia, hewan peliharaan dapat membawa sukacita dan persahabatan ke dalam hidup Anda. Merawat hewan peliharaan juga bisa membuat Anda sejenak melupakan berbagai masalah, dan memberi Anda perasaan yang dibutuhkan. Keduanya merupakan obat yang baik untuk depresi.

3. Akvitas fisik

Olahraga merupakan penawar depresi yang luar biasa. Studi menunjukkan bahwa olahraga yang rutin dilakukan sama efektifnya dengan obat-obatan untuk meredakan gejala depresi. Olahraga juga membantu mencegah depresi.

Untuk mendapatkan manfaat terbaik, lakukan olahraga paling sedikit 30 menit per hari. Meski durasinya singkat, ini sudah dapat memperbaiki mood Anda selama dua jam berikutnya. Lakukanlah bersama teman atau kelompok. Selain bisa meningkatkan minat dan motivasi, berolahraga bersama juga membuat Anda bisa bersosialisasi maupun bertukar pikiran dengan orang lain.

4. Konsumsi makanan sehat

Studi menemukan bahwa kekurangan vitamin B, seperti asam folat dan B12, dapat memicu depresi. Karena itu, konsumsilah makanan yang mengandung zat gizi tersebut, misalnya jeruk, sayuran hijau, kacang-kacangan, ayam, dan telur. Jika Anda tak terlalu suka, konsumsi suplemen vitamin B kompleks dapat dijadikan sebagai solusinya.

Di samping itu, perbanyak pula makanan yang kaya asam lemak omega-3, yang berperan penting dalam menstabilkan mood. Sumber terbaik omega-3, yakni ikan berlemak seperti salmon, kembung, teri, sarden, dan tuna. Alternatif lainnya adalah suplemen minyak ikan.

5. Salurkan hobi

Setiap individu pasti punya kesenangan pada hal-hal atau kegiatan tertentu yang biasa disebut hobi. Lakukan hobi yang akan membuat Anda lebih bersemangat, asalkan positif. Banyak hobi yang akan membuat hidup Anda lebih rileks, seperti berkebun, membaca buku, memancing, travelling, dan lain-lain.

6. Melakukan terapi

Cari tahu apa penyebab Anda stres dan depresi. Apakah itu karena beban kerja yang berlebihan, kesulitan ekonomi, atau masalah pada hubungan interpersonal. Kemudian, cari cara terbaik untuk mengurangi tekanan, agar Anda kembali dapat mengontrol diri. Beberapa cara yang bisa dicoba, misalnya terapi pernapasan dalam, meditasi, atau mengikuti kelas yoga.

Sebelum berpikir untuk mengakhiri hidup, ingatlah mengakhiri hidup tak akan menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Karenanya, jangan biarkan keinginan itu muncul. Lakukan kiat di atas, dan segera kunjungi dokter atau psikiater guna mengetahui cara terbaik untuk terbebas dari jerat depresi.

Berikut lima rumah sakit juga disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan:
1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.