Gara-Gara Jalin Asmara, Warga Desa Ini Tak BAB Sembarangan

Inovasi Jalin Asmara untuk memutus kebiasaan BAB sembarangan lahir dari keprihatinan banyaknya warga yang masih BAB di kolam ikan.

JEDA.ID–Cerita Susilo Ratnawati dimulai 2015. Sanitarian di Puskesmas Panjatan II, Desa Bojong, Kulonprogo, DI Yogyakarta, itu biasa melihat kebiasaan warga yang buang air besar atau BAB sembarangan. Kolam ikan yang berada di pekarangan rumah warga sudah biasa menjadi sasaran BAB.

Tugas perempuan yang akrab disapa Nana itu tentu tidak lepas dari edukasi kepada warga mengenai pentingnya sanitasi dan kesehatan lingkungan. Nana pun menggandeng sejumlah pihak untuk memulai mengubah kebiasaan warga BAB sembarangan.

Ada 17.000 warga di bawah Puskemas Panjatan II yang harus diedukasi mengenai pentingnya sanitasi yang baik. Bhabinkamtibmas dari kepolisian, Babinsa dari TNI, dan elemen lain digandeng Nana. Awalnya Nana dan tim menggulirkan program Kerja Lintas Sektor dalam Akses Sanitasi Masyarakat atau Jalin Asmara.

Kisah Petani Buta Huruf Antarkan Anaknya Jadi Bupati TTU

”Kendalanya adalah masing-masing sektor memiliki kepentingan,” jelas Nana saat mengisahkan awal mula program Jalin Asmara seperti dilansir dari laman jpp.go.id, Senin (23/12/2019).

Namun, bukan itu kenmdala terbesarnya. Kebiasaan masyarakat BAB sembarangan yang sudah bertahun-tahun tidak mudah diubah dalam waktu singkat. Alhasil, tahun pertama Jalin Asmara diugulirkan, Nana dan tim lebih banyak berfokus kepada edukasi mengenai sanitasi.

Baru pada 2016, Bhabinkamtibmas dan Babinsa bersama Puskesmas Panjatan II menjalankan program ini lebih gencar. Selain edukasi, mereka juga mengajak masyarakat untuk gotong royong membangun saluran air dan toilet.

Gotong Royong

 Susilo Ratnawati

Susilo Ratnawati (jpp.go.id)

Di pengujung, 2016 perjuangan Nana dan tim mulai membuahkan hasil, tersisa 4,83 persen masyarakat Desa Bojong yang melakukan BAB sembarangan.

Pemerintah desa pun ikut tergerak dengan menggencarkan budaya gotong royong sebagai kearifan lokal untuk memberbaiki kualitas sanitasi warga.

Anggaran APBDes pun digelontorkan tahun berikutnya untuk pembuatan toilet atau jamban menjadi 11 lokasi. Ada juga yang dikembangkan masyarakat menjadi 56 lokasi. Perjuangan Nana dan tim lewat Jalin Asmara ini terasa saat 2017 Desa Bojong sudah 100% bebas dari BAB sembarangan.

PNS Lebih Rawan Dahulukan Keluarga Dibanding yang Bayar

Perjuangan Nana di lingkup kecil ini bisa menjadi potret bagaimana keuletan selama beberapa tahun akan membuahkan hasil. Nana pun diganjar penghargaan The Future Leader dalam ajang Anugerah ASN 2019.

Namun, tantangan Nana belum berakhir karena BAB sembarangan hanya salah satu pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat.

Ada pula kebiasaan cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Desa STBM

BAB sembarangan

Susilo Ratnawati menerima penghargaan 9Pemkab Kulonprogo)

Kelima pilar itu adalah bagian dari mewujudkan Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Untuk mencapainya, pilar pertama hingga kelima harus dilakukan oleh 30 persen warga desa.

”Pilar pertama sudah kita lalui, yakni seratus persen warga tidak BAB sembarangan. Kami fokus ke pilar selanjutnya,” ujar Nana.

Ibu dua anak ini mengatakan dirinya tergerak melakukan terobosan karena melihat masalah di lingkungannya. Inovasi selalu lahir dari masalah yang muncul dalam masyarakat.

”Harapan saya untuk pemerintah pusat untuk mendukung kinerja kita, berikan kami ruang luas, berikan kami kepercayaan, bahwa kami ASN yang mau berubah dengan terobosan,” kata dia.

Asal Usul Slogan 4 Sehat 5 Sempurna yang Kini Tinggal Sejarah

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengakui inovasi Jalin Asmara mengakomodasi kebutuhan masyarakat secara maksimal termasuk bisa menjadikan desa bebas BAB sembarangan.

Camat Panjatan Setiawan Tri Widodo menyatakan mengubah perilaku masyarakat bukan hal mudah. Ide yang dikembangkan Nana itu pun bisa diterima masyarakat sehingga tidak ada lagi warga yang BAB sembarangan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Sri Budi Utami menyatakan dampak dari Jalin Asmara langsung dirasakan masyarakat. Mereka tidak lagi BAB sembarangan karena ada tempat MCK yang memadai.

Kejadian penyakit diare di desa turun hingga 45,28%. Dia memastikan progranm Jalin Asmara ini akan dikembangkan di semua puskesmas di Kulonprogo hingga wilayah itu bisa bebas dari BAB sembarangan.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.