Kisah Petani Buta Huruf Antarkan Anaknya Jadi Bupati TTU

Pasangan suami istri yang sudah berusia senja ini tetap pergi ke sawah, berjualan di pasar, dan menggembala sapi meski anaknya sudah menjadi Bupati TTU.

JEDA.ID–Sawah, ladang, dan sapi. Itulah keseharian yang dihadapi Yakobus Manue Fernandez, 85, dan Margaretha Hati Manhitu, 80. Keduanya adalah pasangan suami istri, orang tua Bupati TTU (Timor Tengah Utara), Raymundus Sau Fernandes.

Sejak pagi buta, rutin setiap hari Yakobus dan Margaretha meninggalkan rumah mereka di Desa Bijeli, Noemuti, TTU, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di tengah jalan, keduanya berpisah. Margaretha menuju sawah dan ladang dan Yakobus menggembalakan sekitar 30 sapi di sebuah padang di pinggir sungai.

Keduanya berjalan kaki sejauh sekitar 1 kilometer. Baru menjelang Magrib keduanya kembali ke rumah. Pekerjaan lain menanti keduanya yaitu mengupas biji buah asam sampai dini hari. Biji buah asam yang akan dijual Margaretha di pasar.

Tidak setiap hari ibunda Bupati TTU itu berjualan di pasar. Hanya setiap Rabu dia berdagang, selebihnya waktunya banyak habis di sawah dan ladang. Aktivitas di ladang, sawah, pasar, dan mengurusi sapi sudah dilakukan Yakobus dan Margaretha selama 50 tahun terakhir.

Bagi mereka, bekerja keras menjadi satu-satunya cara untuk menghidupi keluarga. Mereka sadar bukan keluarga yang berkecukupan, bahkan bisa dikatakan di bawah garis kemiskinan.

Yakobus dan Margaretha tidak ingin anak mereka mengalami kemiskinan seperti yang mereka alami . keduanya punya semangat yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya.

”Meskipun hidup susah, pendidikan itu penting. Kami ingin anak-anak sekolah setinggi-tingginya. Kami berdua itu buta huruf, jadi anak-anak harus sekolah agar tidak buta huruf dan agar hidup lebih baik,” tutur Margaretha sebagaimana dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, Selasa (5/11/2019).

Kerja keras yang dilakukan pasangan suami istri ini tidak sekadar untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka menanamkan ajaran kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian lewat acara mereka.

”Jalani hidup ini dengan kerja keras, lakukan setiap pekerjaan apa pun dengan penuh tanggung jawab dan diselesaikan sampai tuntas. Itu yang saya tanamkan ke anak-anak. Dengan melihat langsung apa yang kami lakukan, anak-anak akan dengan sendirinya mengikutinya,” ujar Margaretha dalam bahasa Uab Meto.

Aktivitas Tak Berubah

Bupati TTU

Margaretha, 80, ibunda Bupati TTU Raymundus beraktivitas di sawah (Sahabat keluarga Kemendikbud)

Aktivitas rutin yang dilakoni pasangan usia senja itu tidak berubah sama sekali meski anaknya Raymundus Sau Fernandes mulai menapaki kesuksesan di dunia politik mulai jadi ketua DPRD, Wakil Bupati TTU, dan kini dua kali menjabat sebagai Bupati TTU.

Raymundus yang menjadi Bupati TTU itu merupakan anak kelima sekaligus anak pertama pasangan ini. Empat anak pasangan Yakobus dan Margaretha meninggal sejak bayi.

Raymundus yang merupakan lulusan Jurusan Peternakan Universitas Nusa Cendana punya empat adik. Ada yang menjadi guru, wirausahawan, dan ibu rumah tangga.

Pasangan Yakobus dan Margaretha kukuh menjalani aktivitas seperti biasa meski usia mereka tak lagi muda. Mereka tak betah di rumah tanpa aktivitas.

Anak-anaknya sudah sering meminta mereka beristirahat, tidak lagi bekerja, dan menikmati hari tua. Namun, bagi Yakobus dan Margartha, melakukan aktivitas atau bekerja itu tak lagi sekadar mencari uang tapi sudah menjadi panggilan jiwa.

”Di rumah Kakak Ray [Raymundus], mama dan papa paling betah bertahan dua hari. Selalu ingin pulang, selalu ingin ke sawah, ladang, dan menggembala sapi,” ujar Melky, salah sat adik Raymundus.

Membiayai pendidikan empat anak di tengah keterbatasan ekonomi bukanlah perkara mudah. Apalagi kalau keduanya buta huruf dan setiap harinya hanya bergelut dengan sawah, ladang, dan menggembala sapi.

Namun, Yakobus dan Margaretha membuktikan bila niat dan semangat yang kuat terbukti bisa mengalahkan segala bentuk keterbatasan itu. Margaretha berkisah Raymundus yang saat ini menjadi Bupati TTU lahir pada 1972 saat NTT berada dalam kondisi yang ekstrem.

Kala itu masa paceklik berkepanjangan, rawan pangan, dan kelaparan melanda hampir seluruh wilayah. Untuk bertahan hidup, keluarga Yakobus mengandalkan hasil hutan, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, dan biji asam serta pohon putak.

Suatu kemewahan bila dapat menikmati sepiring nasi atau sepiring jagung rebus. Selain mengurus sawah, ladang, dan menggembala sapi, Yakobus mencari tambahan penghasilan dengan membuat pagar pembatas ladang, memperbaiki rumah, dan sebagainya.

Berbagi Peran

Terkadang juga menjadi buruh tani dan sesekali masuk hutan untuk mencari makanan. Sementara Margaretha membuat periuk tanah liat yang hasilnya kemudian dijunjung keliling beberapa kampung di sekitar Kecamatan Noemuti untuk dibarterkan dengan makanan dan kebutuhan lainnya.

”Kita tabung sedikit demi sedikit untuk jaga-jaga bila anak membutuhkan biaya besar. Kalau tetap tidak cukup, ya saya pinjam ke keluarga dan selanjutnya suami saya mencari uang untuk melunasinya,” kata Margaretha sebagaimana dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Menurut Melky, seolah-olah ada pembagian peran di antara orang tuanya itu. Ketika ada kebutuhan yang besar dan mendesak, seperti biaya sekolah, ibunya berperan mendapatkan uang secepat mungkin dengan membuka tabungan hasil menjual hasil sawah atau ladang dan menjual sapi

Bila tak ada atau tak mencukupi, maka ibunya pinjam ke keluarga. ”Peran bapak adalah bagaimana caranya melunasi secepatnya,” katanya.

Bupati TTU Raymundus mengatakan ayahnya bisa dikatakan melanggar budaya di TTU. ”Bagi orang TTU, sapi itu hanya sebagai status sosial, tidak dikomersialkan, artinya tidak untuk dijual demi kebutuhan keluarga. Tapi ayah saya melanggar budaya itu, sapi dijual untuk kebutuhan kuliah agar anak-anaknya maju dan bisa hidup lebih baik.”

Bupati TTU Raymundus

Bupati TTU Raymundus (Sahabat Keluarga Kemendikbud)

Bupati TTU ini mengatakan sejak sebelum SD, orang tuanya mengajarkan untuk membantu pekerjaan seperu ke kebun dan ke kandang sapi. Selama sudah sekolah, aktivitas membantu orang tua dilakukan setelah pulang sekolah.

Itu dilakukan Raymundus hingga kuliah. Dikutip dari laman Kemendikbud, saat kuliah, Bupati TTU ini bekerja dengan berjualan ikan di pasar. Kisah sukses Raymundus dimulai pada 1999 saat berusia 26 tahun menjadi Ketua DPRD TTU. Karier politiknya menanjak hingga sejak 2010 menjadi Bupati TTU hingga saat ini.

Dapat Penghargaan

Cerita Yakobus dan Margaretha ini menjadikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberi penghargaan kepada mereka karena memberikan inspirasi.

“Intinya itu menjadi sumber inspirasi bagi orang tua yang lain bahwa dalam suasana yang sulit orang tua masih mendedikasikan diri untuk anak-anak, terutama mendorong anak-anak sekolah pendidikan sampai dengan sarjana,” kata Raymundus sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Orang tua Raymundus bersama beberapa orang tua lain bakal diganjar penghargaan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemendikbud karena berhasil mengasuh anak.

Penghargaan ini diberikan untuk menginspirasi orang tua lain dalam mendidik dan membesarkan anak mereka. Acara itu rencananya digelar di Jakarta, Rabu-Kamis (6-7/11/2019).

Orang tua Raymundus memintanya tidak terlalu memikirkan keduanya. Mereka beralasan punya aktivitas sehari-hari yaitu mengurus sawah dan sapi.

Yakobus dan Margaretha bahkan minta Raymundus untuk lebih memikirkan warga TTU daripada orang tua atau keluarga. Sebab itulah tanggung jawab Bupati TTU.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.