Begadang, Antara Picu Stres atau Jadi Lebih Kreatif

Para ilmuwan menemukan orang-orang dengan IQ yang tinggi lebih produktif saat beraktivitas pada malam hari.

JEDA.ID—Kebiasaan begadang mungkin dianggap wajar bagi sebagian orang. Mereka baru beranjak tidur saat larut malam, bahkan ada yang tidak tidur hingga pagi hari.

Selama ini begadang kerap disorot karena berkaitan dengan masalah kesehatan. Sejumlah pakar menyebut waktu tidur ideal adalah 7-8 jam dalam sehari. Waktu tidur malam hari yang diideal disebut-sebut pukul 9 sampai 10 malam hingga sekitar pukul 6 pagi.

Pada 2015 lalu disebutkan dua per tiga dari penduduk dunia secara teratur memiliki tidur malam yang berkualitas dari tujuh sampai delapan jam. Sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, negara dengan kebiasaan tidur terbaik adalah Indonesia: 85 persen warganya mendapat cukup tidur setiap malam.

Di tempat kedua adalah India, sebanyak 77 persen dari penduduknya cukup tidur, dan di tempat ketiga adalah Chhina, dengan 73 persen dari seluruh penduduknya memiliki tidur yang cukup. Ini cukup mengejutkan, karena negara ini memiliki penduduk paling banyak di dunia.

Hanya setengah dari semua orang Rusia mendapatkan tidur yang cukup untuk mempertahankan gaya hidup sehat. Sedangkan, penduduk Amerika Serikat 62 persen memiliki waktu tidur yang cukup.

Namun, tidak sedikit orang Indonesia yang hobi begadang. Nun, 21, mahasiswi ini mengaku sering kesulitan tidur di malam hari dan memilih untuk bermain gawai agar segera tidur.

”Saya biasanya tidur jam 2 pagi. Pernah juga tidak tidur sama sekali. Paginya langsung kuliah. Tidru lagi biasanya jam 12 siang atau jam 3 sore. Karena biasanya saya banyak pikiran. Untuk mengisi waktu agar cepat tidur saya biasanya bermain HP seperti menonton YouTube ataupun menonton Film,” kata dia kepada jeda.id, Jumat (16/8/2019).

Kerjakan Tugas

Kelvin, 22, mengaku sering begadang lantaran sering bangun siang. Mahasiswa ini biasa tidur pukul 3 atau 4 pagi dan baru bangun sekitar pukul 12 siang. ”Setelah itu saya mandi, makan, dan tidur lagi,” ujar dia.

Anik, 21, mengaku sering begadang hingga tiba waktu Subuh. Hal tersebut ia lakukan lantaran harus mengerjakan tugas kuliah. Selain itu, ada beberapa orang yang mengaku sering begadang karena nongkrong dan atau bertemu dengan teman-temannya hingga larut malam.

Disebutkan begadang bisa mendampak kepada kesehatan seperti bisa memicu diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kanker, dan penyakit jantung. Begadang juga disebut bisa menjadikan depresi.

begadang

Ilustrasi sedang begadang (Freepik)

Penelitian dari University of Birmingham and Surrey di Britania Raya dan Monash University di Melbourne, Australia, membuktikan bahwa dengan penyesuaian gaya hidup sederhana, orang-orang yang memiliki kebiasaan begadang bisa mengurangi risiko penyakit.

Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, salah satu penulis Andrew Bagshaw menjelaskan pola tidur yang berbeda bisa menyebabkan masalah kantuk hingga kesehatan mental yang lebih buruk. Mereka mencari 22 sukarelawan yang suka begadang dan melakukan sejumlah intervensi selama tiga pekan. Sukarelawan itu diminta melakukan empt hal:

  1. Bangun 2 sampai 3 jam lebih awal dari biasanya dan berusaha mendapatkan pencahayaan di luar ruangan pada pagi hari.
  2. Tidur 2 sampai 3 jam lebih awal dari biasanya dan meminimalkan paparan sumber cahaya di malam hari sebelum tidur.
  3. Menjaga waktu bangun dan waktu tidur yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan.
  4. Mengonsumsi sarapan setelah bangun tidur, makan siang di waktu yang konsisten setiap harinya, dan makan malam paling lambat jam tujuh malam.

Mereka melaporkan berkurangnya perasaan depresi dan stres, serta kantuk di siang hari. ”Intervensi juga dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan mental dan rasa kantuk yang dirasakan, yang berarti itu adalah hasil yang sangat positif bagi para peserta,” sebut Bagshaw.

Lebih Produktif

Urusan begadang juga diteliti para peneliti dari London School of Economics. Para ilmuwan menemukan orang-orang dengan IQ yang tinggi lebih produktif saat beraktivitas pada malam hari. Mereka lebih fokus membaca, melakukan riset, serta melakukan banyak hal.

Sejalan dengan penelitian tersebut, penelitian lainnya dari Catholic University of the Sacred Heart di Milan juga menyebutkan orang-orang yang tidur lebih larut ternyata mempunyai kreativitas yang tinggi.

”Orang-orang yang bangun pagi memang lebih produktif, tapi beberapa orang yang tidur lebih malam ternyata lebih kreatif,’ ujar Marina Giamperto, salah satu tim peneliti, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Menurut dia, orang-orang yang terbiasa membutuhkan waktu lebih lama untuk tidur sangat menggunakan waktu di malam hari dengan baik. Waktu malam tersebut mereka gunakan untuk membuat dan menciptakan sesuatu yang baru.

Kemampuan kognitif mereka meningkat ketika tidak ada cahaya atau suara. Kemudian juga telah dibuktikan bahwa beberapa orang yang sering beraktivitas di malam hari lebih sedikit mengalami tingkat stres.

Bedasarkan penelitian dari Weestminster, orang yang bangun pagi ternyata mempunyai tingkat kortisol (hormon stres pada tubuh) lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang masih tidur.

“Bangun lebih pagi dapat diasosisasikan untuk lebih berkonsentrasi, lebih sibuk dan lebih sering marah. Sedangkan orang-orang yang sering begadang justru lebih santai, sehingga produktivitasnya lebih tinggi,” Ujar Dr. Angela Clow, salah satu tim peneliti.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.