Beda Banjir Era Batavia hingga Jakarta, Mana Paling Parah?

Banjir sudah terjadi sejak zaman kolonial dan terus berlanjut hingga sekarang.

JEDA.ID – Banjir besar melanda Jakarta pada awal tahun 2020. Hingga Kamis (2/1/2019) siang WIB setidaknya 16 orang meninggal dan lebih dari 31.000 orang mengungsi. Banjir ini disebut-sebut yang terparah sepanjang sejarah. Benarkah?

Banjir 2020 ini tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga jalan-jalan protokol Jakarta. Sejumlah transportasi umum mulai dari transjakarta, KRL, hingga penerbangan di bandara Halim Perdanakusuma juga terpaksa dibatalkan akibat rendaman banjir.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengatakan terjadi pemadaman listrik di 724 wilayah yang terkena banjir. “Demi keselamatan masyarakat agar terhindar dari bahaya arus listrik,” tulis rilis resmi PLN, Selasa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di situs resminya, BMKG.go.id, menyebut banjir Jakarta 2020 disebabkan curah hujan yang tinggi. Bahkan, dari hasil pantauan BMKG di Lanud TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, curah hujan mencapai 377 milimeter. Di TMII curah hujan 335 mimimeter.

Curah hujan ini terbilang ekstrem dan memecahkan rekor hasil pengukuran curah hujan di Taman Mini, Jakarta Timur, 2007. Saat itu curah hujan tercatat 340 milimeter.

Meski begitu, banjir 2020 belum bisa dinyatakan terparah karena evakuasi masih berlangsung. Selain itu, BMKG juga belum mengevaluasi dampak secara keseluruhan.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan puncak hujan diperkirakan pertengahan Januari hingga awal Maret.

Banjir 2007

Mengutip laporan Kantor Berita Antara, 9 Februari 2007, banjir menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari.

Hal ini diperparah dengan meluapnya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur. Ditambah lagi air laut yang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.

Menurut catatan BBC, banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit.

Banjir banda. (Antara)

Banjir banda. (Antara)

Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

Dirangkum Wikipedia, diakses 2 Februari 2019, hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20 lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak berfungsi.

Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas.

Setelah banjir surut volume sampah yang harus ditangani meningkat. Sampah-sampah yang terbawa sungai pada sampai tanggal 8 Februari berlipat ganda dari 300 m³ menjadi 600 m³ per hari. Sampah-sampah tersebut berupa antara lain berupa puing bangunan, kayu dan perabotan hanyut.

Selain itu banyaknya sampah yang dikirim ke tempat penampungan akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, juga bertambah. Sampai 15 Februari kiriman sampah sisa banjir ini diperkirakan mencapai 1.500 ton per hari.

Dalih Gubernur

Belum selesai, Jakarta kembali dilanda banjir 13 Februari dan 17 Februari. Pada 17 Februari 2.761 warga Jakarta dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali karena rumah mereka tergenang air.

Genangan ini terjadi di beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru, Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar antara 40-120 cm.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menanggapi kritikan dengan mengatakan bahwa banjir ini adalah fenomena alam dan merupakan banjir lima tahunan. Dilansir Reuters, 6 Februari 2007, Sutiyoso menganggap pemerintah sudah berusaha maksimal menangani banjir.

Banjir besar sebelumnya terjadi pada tahun 1996 dan 2002 yang berarti interval pertamanya adalah enam tahun. Bahkan banjir telah melanda Jakarta sebelum Indonesia merdeka 1918.

Dalam sejarahnya, banjir tak pernah hilang dari Jakarta. Berbagai literatur menyebutkan, pada masa lampau banjir pernah terjadi pada 1621, 1872, 1878, 1909, 1918, 1923, 1932, dan 1959.

Bahkan pada abad ke-5 ketika Jakarta berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, wilayah ini telah kerap terendam banjir saat puncak musim hujan. Tulisan di Prasasti Tugu yang ditemukan di Jakarta Utara pada 1878 menjadi bukti otentik bahwa Jakarta sudah mengalami banjir sejak dahulu kala.

Seiring perkembangan zaman, banjir tak lagi karena semata faktor alam, namun juga dipicu kerusakan lingkungan dan pengelolaan kota seperti drainase yang buruk dan makin tergerusnya daerah resapan akibat laju pembangunan.

Zaman Kolonial

Fenomena bencana banjir sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Beberapa tahun setelah Belanda mendarat, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di Batavia. Banjir besar pertama kali mereka rasakan di tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876.

Banjir besar gara-gara hujan turun dengan curah hujan 286 milimeter, menyebabkan Ciliwung meluap, pintu air di depan lokasi yang sekarang menjadi masjid Istiqlal jebol. Kota Tua terendam, mulai dari kawasan Harmoni.

Hujan deras yang mengguyur Batavia selama beberapa hari menyebabkan Kali Ciliwung meluap. Banjir pun merendam sejumlah wilayah, termasuk kawasan elite Harmoni.

Banjir besar itu juga menyebabkan pintu air di sekitar Taman Wilhelmina (saat ini dekat Masjid Istiqlal) jebol. Banjir besar inilah yang kemudian mengilhami pemerintah kolonial Belanda membangun Bendung Katulampa.

Bendung Katulampa menjadi semacam sistem peringatan dini banjir yang akan menerjang Jakarta akibat luapan Ciliwung sehingga para pejabat tinggi Hindia-Belanda bisa mengantisipasi. Bendung Katulampa mulai dibangun pada 1889 dan dioperasikan 1911.

“Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden [Menteng] bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup.” tulis Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912.

Bukan Cuma Payung, Ini Daftar Persiapan Jelang Awal Musim Hujan

Tahun 1918

Kesadaran perlunya diambil tindakan penanggulangan banjir sudah ada sejak lama. Hal itu menyusul banjir pada 1918 di Jakarta ini juga melumpuhkan Batavia.

Gubernur Jenderal Batavia Jan Pieterszoon Coen, sampai menunjuk arsitek khusus untuk menangani banjir ini. Banjir waktu itu merendam permukiman warga karena limpahan air dari sungai Ciliwung, Cisadane, Angke dan Bekasi.

Banji Batavia 1918. (Istimewa)

Banji Batavia 1918. (Istimewa)

Prof. Ir. Herman Van Breen, seorang guru besar berkebangsaan Belanda, pada saat itu merencanakan satu konsep yang lebih strategis dalam menanggulangi banjir. Konsepnya adalah berusaha mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota.

Akibat banjir, sarana transportasi, termasuk lintasan trem listrik terendam air. Dua lokomotif cadangan dikerahkan untuk membantu trem-trem yang mogok dalam perjalanan. Banjir pada tahun itu merupakan yang terparah dalam dua dekade terakhir.

8 Kontroversi Anies Baswedan: Alexis, Reklamasi, hingga Aibon

Sistem Kanal 1979

Diperkirakan sebanyak 714.861 orang harus mengungsi saat banjir menerjang Jakarta pada 19-20 Januari 1979. Sebanyak 20 orang hilang ditelan air entah kemana.

Peristiwa itu terjadi pada era Gubernur Tjokropranolo. Banjir pada 1979 di Jakarta menggenangi wilayah pemukiman dengan luas mencapai 1.100 hektare. Banjir yang disebabkan hujan lokal dan banjir kiriman itu merendam pemukiman penduduk.

Dalam buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa disebutkan bahwa pada tahun ini Pondok Pinang bahkan terendam 2,5 meter dan 3 orang menjadi korban.

Puskesmas-puskesmas yang ada di Jakarta pun dikerahkan untuk melayani para pengungsi.

Hingga 23 Januari 1979, jumlah korban hilang mencapai 20 orang. Gubernur Tjokropranolo menyebut banjir 1979 adalah banjir 12 tahun sekali.

Sebelum Seoharto Tumbang

Pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto, ibu kota tercatat pernah beberapa kali terendam banjir salah satunya pada Pada 6-9 Januari 1996, Jakarta terendam setelah hujan dua hari.

Sebulan kemudian, 9-13 Februari 1996, tiga hari hujan lebat dengan curah lima kali lipat di atas normal, merendam Jakarta setinggi 7 meter.

Akibat banjir, 529 rumah hanyut, 398 rusak. Korban mencapai 20 jiwa, 30.000 pengungsi. Nilai kerusakan mencapai US$435 juta.

Tidak sampai disitu banjir besar tercatat kembali terjadi pada pada 13 Januari 1997. Hujan deras selama 2 hari menyebabkan 4 kelurahan di Jakarta Timur alibat luapan Sungai Cipinang, 754 rumah, 2640 jiwa terendam air sekitar 80 cm.

Selain itu beberapa jalan utama di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat pun lumpuh akibat banjir. Banjir pada tahun ini juga menyebabkan sarana telekomunikasi dan listrik mati total.

Pada 26 Januari 1999 banjir terjadi lagi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Ribuan rumah terendam, 6 korban tewas, 30.000 jiwa mengungsi.

Begini Dahsyatnya Banjir Besar di Zaman Nabi Nuh

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.