Adu Canggih Drainase Anti-Banjir Belanda vs Jepang

Salah satu kota besar di Jepang, Tokyo, telah memiliki sistem drainase bernama Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel.

JEDA.ID – Banjir bukan hanya mengancam Jakarta, namun juga menjadi persoalan banyak kota besar di dunia. Bencana ini telah banyak membuat pemerintah berpikir keras menyiapkan segala infrastrutur antisipasi.

Jepang menjadi salah satu yang paling maju soal cara menanggulangi banjir. Salah satu kota besar di Jepang, Tokyo, telah memiliki sistem drainase bernama Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC).

Ini adalah sebuah sistem terowongan sepanjang 6,3 km dan ruang-ruang silindris yang menjulang tinggi yang melindungi Tokyo bagian utara dari sergapan banjir.

Terowongan Nanjung dan Sistem Drainase Pintar Jepang

Selesai pada tahun 2006 setelah 13 tahun pengerjaan, MAOUDC adalah fasilitas pengalihan banjir terbesar di dunia dari Tokyo.

Kanal akan menyedot air dari sungai kecil dan menengah di Tokyo Utara dan memindahkannya ke Sungai Edo yang lebih besar juga dapat menampung volume air besar dengan lebih mudah. Ketika salah satu sungai ini meluap, air akan jatuh ke salah satu dari lima tangki silinder setinggi 70 meter yang tersebar di sepanjang saluran.

Masing-masing tangki ini cukup besar untuk menampung pesawat luar angkasa atau Patung Liberty dan mereka saling terhubung melalui jaringan terowongan bawah tanah sepanjang 6,3 km. Saat air mendekati Sungai Edo, katedral akan mengurangi alirannya, sehingga pompa dapat mendorongnya ke sungai.

Ancaman Banjir Bandang, Kenali Ciri dan Penyebabnya

Dilansir Detik.com, 5 Desember 2018, mengutip data dari ITB (Institut teknologi Bandung), katedral raksasa ini memiliki 78 pompa dan 59 pilar beton. Fasilitas yang diberikan untuk katedral ini memungkinkan air untuk berpindah sebanyak 200 ton tiap detiknya. Jumlah ini mampu memenuhi 25 kolam renang dalam taraf Olimpiade.

Untuk menyerap air hujan, komplek tersebut dilengkapi dengan 59 turbo pump dan total kapasitas lebih dari 14 ribu tenaga kuda. Sistem drainase pintar Jepang ini dirancang untuk banjir paling parah.

Prinsip yang digunakan dari katedral ini sebenarnya sangat sederhana. Air yang ada dari seluruh sudut kota akan mengalir melalui sumur dengan ketebalan 10 meter ke dalam 5 kolam beton raksasa. Kelima kolam beton ini memiliki lebar 32 meter dan tinggi 65 m.

Drainase Rotterdam

Belanda saat ini menjadi pusat percontohan solusi banjir dunia. Sebab negara dengan 60 persen wilayah negara ini rawan banjir, seperti dikutip The Guardian. Apalagi 26 persen wilayah Belanda ada di bawah permukaan laut. Sehingga, banjir menjadi bencana yang sulit terelakkan bagi Belanda. Banjir yang menghantui Belanda berasal dari laut Atlantik dan sungai yang mengalir melewati kota-kota mereka.

Beda Banjir Era Batavia hingga Jakarta, Mana Paling Parah?

Belanda telah berjuang mengatasi banjir sejak berabad lalu. Kincir angin Belanda yang terkenal itu sebenarnya adalah salah satu solusi untuk mengatasi banjir. Sebab, bagian bawah kincir yang dibangun sejak abad 14 ini sesungguhnya terdapat saluran untuk memompa kelebihan air dari untuk mengeringkan areal persawahan di Belanda.

Belanda pun telah membuat banyak dam untuk menahan agar air laut tak memasuki daratan mereka yang lebih rendah. Mereka memadukan bukit pasir, tanggul, membuat bendungan, dan perencanaan tata kota.

Sebab, Belanda juga merancang taman dan area publik di kota-kota mereka sebagai waduk darurat ketika air membanjiri kota seperti dilaporkan Public Radio International (PRI). Sebagai contoh, mereka membuat lapangan basket yang bisa menampung dan menyalurkan kelebihan air.

Di era modern, kesiapan mereka menghadapi banjir pun makin canggih. Sejak banjir besar yang menewaskan 1.800 jiwa pada 1953, Belanda membangun sistem pertahanan banjir besar-besaran.

Begini Dahsyatnya Banjir Besar di Zaman Nabi Nuh

Pada 1997, Belanda membangun penahan badai dari lautan yang dinamakan Maeslantkering. Gerbang besi besar dibangun di muka sungai Niuewe Maas yang menjadi jalur masuk ke pelabuhan Rotterdam.

Maeslantkering. Dua gerbang besi raksasa digunakan untuk menutup muara sungai. Satu gerbang ini punya panjang serupa dengan tinggi menara Eifel. Sehingga, untuk menahan badai dari laut, Belanda mengerahkan dua gerbang setara menara Eifel ini, seperti dilaporkan CBS News.

 

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.