• Thu, 21 October 2021

Breaking News :

Panjat Sosial Marak di Medsos, Kenali Ciri-Cirinya

Apakah panjat sosial termasuk salah satu penyakit mental?

JEDA.ID-Istilah panjat sosial  pasti bukan hal asing lagi bagi Anda yang kerap berselancar di dunia maya. Saking populernya istilah pansos di jagat maya, membuat panjat sosial debut menjadi salah satu kosa kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Apakah yang dimaksud panjat sosial? Apakah panjat sosial termasuk salah satu penyakit mental? Simak ulasannya di info sehat dan info kesehatan kali ini ya.  Dilansir dari Psychology Today, perilaku panjat sosial berasal dari harga diri yang rendah dan kecenderungan ekstrem terhadap perbandingan diri. Terlepas dari perilaku kupu-kupu sosial yang banyak bicara, mereka sebenarnya sangat insecure tentang diri mereka sendiri.

Pansos biasanya dilakukan dengan cara menggunggah foto, tulisan, dan lain sebagainya di media sosial. Istilah pansos cukup populer sejak pengguna media sosial meningkat. Kini pansos adalah istilah gaul yang sudah resmi menjadi salah satu kosa kata dalam bahasa Indonesia. Terbukti kata “pansos” sudah bisa dicari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Baca Juga: Viral Center of Gravity Challenge, Ini Penyebab Kaum Pria Selalu Gagal

Menurut hasil pencarian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pansos adalah panjat sosial. Mengarah pada usaha untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyai status sosial tinggi. Dilakukan dengan cara menggunggah foto, tulisanm dan sebagainya di media sosial.

Sematan istilah pansos adalah umumnya diberikan kepada pengguna aktif media sosial yang ingin terlihat populer dengan cara memaksa. Usaha mendapat popularitas dengan pansos adalah ditujukan untuk mendapat cuan dari endorsement atau sekadar caper (cari perhatian).

Pansos adalah panjat sosial. Panjat sosial yang dilakukan adalah melalui foto, video, tulisan, konflik, dan masih banyak lagi lainnya. Pansos adalah istilah yang konon katanya dekat dengan rekaan atau settingan atau disengaja atau dibuat-buat agar mendapat banyak perhatian.

Sebutan lain dari istilah pansos adalah sosial climber. Arti pansos adalah panjat sosial yang digunakan pengguna media sosial untuk mencari panggung dan membuat namanya semakin dikenal khalayak ramai. Media sosial yang kerap digunakan untuk pansos adalah Instagram, Twitter, Facebook, YouTube, dan Whatsapp.

Bagi selebriti Tanah Air melakukan pansos adalah bagian dari pekerjaannya dan tidak dekat dengan konotasi negatif. Pansos adalah menjadi masalah bila yang melakukan orang-orang biasa dengan memanfaatkan hubungannya bersama selebriti, seperti pacaran dengan perasaan yang dibuat-buat.

Dikutip dari Liputan6.com, Selasa (23/2/2021), kasus yang bisa dijadikan contoh pansos adalah hubungan YouTuber Rahmawati Kekeyi dengan Rio Ramadhan. Menurut Jurnal Strategi dan Misi Pertumbuhan Gereja, pansos adalah berubahnya kedudukan sosial seseorang dari lapisan rendah ke lapisan sosial lebih tinggi karena sebuah prestasi atau pencapaian tertentu.

Pansos Menurut Psikologi

Pansos adalah siapa saja yang berteman dengan orang lain dengan maksud mereka ingin memiliki sesuatu yang mereka inginkan atau butuhkan.

Baca Juga: Atasi Limbah Masker, Kemenkes Lakukan Ini

Para pemanjat sosial akan menghargai hubungan antarmanusia berdasarkan popularitas dan status karena kedua hal tersebut merupakan kebutuhan utama mereka.

Mereka tidak pernah melihat kedalaman dan keintiman dalam persahabatan mereka karena mereka hanya akan berteman dengan orang-orang yang “mengenal orang penting”.

Dilansir dari Psychology Today, perilaku panjat sosial mungkin berasal dari harga diri yang rendah dan kecenderungan ekstrem terhadap perbandingan diri. Terlepas dari perilaku kupu-kupu sosial yang banyak bicara, mereka sebenarnya sangat insecure tentang diri mereka sendiri.

Mereka akan selalu melihat orang lain lebih baik dari mereka dalam hal karier, penampilan, kualitas, dan kepribadian. Orang-orang ini tidak akan pernah merasa puas jika ada orang lain yang memiliki “status lebih tinggi” dari mereka.

Lebih sering daripada tidak, pemanjat sosial menonjolkan karakteristik termasuk ambisius, kompetitif, dan berprestasi tinggi karena satu-satunya tujuan mereka adalah untuk “mencapai puncak”.

Ciri-Ciri Perilaku Pansos

1. Show Off, selalu menunjukkan sisi kelebihan dari orang Pansos, seperti rumah, perhiasan, kendaraan, atau yang lain.

2. Status kontroversial dan sensasional, karena ingin tenar, maka orang Pansos selalu membuat status di media sosial secara kontroversial atau sensasional.

3. Merasa terpintar, orang Pansos selalu merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling pintar dari orang lain.

4. Tampil modis, penampilannya selalu modis dan kekinian banget, dandanannya pun sangat menor.

5. Sombong!

6. Sering komentar di luar topik yang sedang dibicarakan.

7. Tidak bisa membaca suasana, membuat candaan yang berlebihan padahal sedang serius.

8. Sering membuat postingan dengan niat bercanda, namun berlebihan.

9. Alay di grup.

10. Bertingkah seperti anak- anak, meskipun di sekitarnya banyak orang dewasa.

11. Postingan yang dibuat kebanyakan mendapat respon yang tidak baik, namun tetap dilanjut terus dan terus.

Menyikapi Perilaku Pansos

Pansos adalah dekat dengan makna negatif karena mereka biasanya memiliki sifat suka pamer demi mendapatkan reaksi sosial.

Hal-hal yang dipamerkan untuk pansos adalah biasanya gaya hidup glamor dengan menggunakan barang-barang bermerek mahal, meski kenyataannya sebagian dari mereka tidak benar-benar mampu untuk membelinya. Meski sebenarnya pansos adalah tidak selalu bermakna negatif, ada pula kegiatan pansos yang bernilai positif. Kegiatan positif pansos adalah segala yang memiliki manfaat bagi banyak orang.

Baca Juga: 5 Cara Menjaga Kebersihan Miss V dan Kenali Baunya yang Normal

Jangan melulu update kemewahan untuk menaikkan status sosial, sesekali lakukan kegiatan bakti sosial seperti membersihkan sampah yang berserakan di jalanan.

Mengunggah kegiatan ini ke media sosial dapat membantu menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kebersihan lingkungan demi menjaga alam dari kerusakan.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.