Vaksin Sudah Ada, Kok Bisa Wabah Ebola Muncul Lagi?

Wabah ebola diketahui pernah membuat heboh pada 2013-2016 di Afrika Barat.

JEDA.ID-Wabah ebola kembali merebak di Republik Kongo yang menewaskan empat orang. Dua pasien yang terinfeksi ebola meninggal pada awal Februari 2021 sementara dua orang lainnya, masing-masing meninggal pada hari Jumat dan Sabtu pekan lalu.

Pejabat kesehatan di Provinsi Kivu Utara, Eugene Syalita, mengatakan wabah ebola ini muncul lagi karena sikap penduduk sekitar yang enggan rumahnya didisinfeksi untuk mencegah penularan. Simak ulasan lengkap tentang wabah ebola di info sehat dan info kesehatan kali ini.

Wabah ebola juga dilaporkan merebak di Guinea dan menjadi epidemi. Penetapan ini dilakukan usai 4 dari 8 orang terinfeksi dilaporkan meninggal akibat terinfeksi virus tersebut.

Dikutip dari detikcom, Selasa (23/2/2021), ebola dapat menyebar dengan cepat, melalui kontak dengan sejumlah kecil cairan tubuh dari mereka yang terinfeksi. Gejala awal Ebola mirip flu sehingga tidak selalu terlihat jelas.

Baca Juga: Bitcoin Jadi Mahar Pernikahan di Indonesia, Begini Ceritanya

Saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengirimkan 11.500 dosis vaksin Ebola ke Guinea sebagai salah satu upaya memutus penularan. Vaksin ebola sendiri sudah tersedia yakni Ervebo dan Zabdeno-Mvabea.

Namun karena wabah ebola relatif jarang dan tidak dapat diprediksi serta jumlah vaksin yang terbatas, vaksin dicadangkan untuk respons wabah ebola untuk melindungi orang-orang yang berisiko tertinggi dengan skema ring vaccination.

Ini adalah strategi untuk memvaksinasi individu dengan risiko tertinggi infeksi karena adanya kontak erat dengan pasien yang dikonfirmasi dengan virus.

Atas dasar ini, vaksin baru bisa diberikan dalam skenario tertentu, seperti sedang ada wabah, dan hanya pada kelompok berisiko.

Tanpa ada imunisasi massal, Ebola masih berpotensi muncul dan menyebar di populasi yang tak memiliki imunitas terhadapnya.

Sebagaimana diketahui virus Ebola kembali mewabah di Kongo dan Guinea. Setidaknya sudah ada lima orang yang meninggal dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan berhasil melacak sekitar 300 kasus kontak dekat di Kongo dan 109 kontak dekat di Guinea.

Juru bicara WHO, Margaret Harris, menjelaskan para ahli sedang berusaha mengidentifikasi sumber virus yang mewabah kali ini. Tujuannya untuk mengetahui apakah ini jenis virus lama atau varian baru yang kembali menyerang manusia dari hewan.

Baca Juga: Mengenal Tali Masker yang Jadi Sorotan Satgas Covid-19

Wabah ebola diketahui pernah membuat heboh pada 2013-2016 di Afrika Barat. Kala itu ada lebih dari 28.600 kasus yang dilaporkan, memakan sekitar 11.325 korban jiwa.

“Kami masih belum tahu apakah ini Ebola lama yang bertahan di populasi manusia atau yang baru dari populasi hewan. Upaya pengurutan genetik akan membantu menjawabnya,” kata Margaret seperti dikutip dari Arab News, Selasa (16/2/2021).

Kementerian Kesehatan Guinea telah menetapkan status epidemi. Rencananya dibangun pusat perawatan di wilayah Goueke untuk merawat pasien-pasien yang sudah terkonfirmasi.

Menurut Kepala Badan Keamanan Nasional Guinea, Sakoba Keita, penularan virus Ebola ini berawal dari seorang pasien yang berprofesi sebagai perawat. Ia dinyatakan sakit sejak akhir Januari 2021, kemudian meninggal dan dimakamkan pada 1 Februari.

Selanjutnya, sebanyak tujuh orang diduga tertular virus Ebola pada saat menghadiri pemakaman jenazah pasien tersebut. Dilaporkan, mereka mengalami gejala berupa diare, muntah, hingga pendarahan.

Baca Juga: Beragam Manfaat Kakao untuk Kecantikan Kulit, Termasuk Menghilangkan Stretch Marks

“Tiga dari mereka meninggal, dan empat lainnya di rumah sakit,” jelas Sakoba Keita.

Apa saja gejala Ebola?

Dikutip dari situs resmi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), gejala Ebola umumnya akan muncul dalam 2 hari-21 hari setelah melakukan kontak dengan penderita. Berikut gejala yang bisa dialami oleh pasien ebola:

– Demam
– Sakit kepala
– Nyeri otot dan sendi
– Kelelahan
– Diare
– Muntah
– Pendarahan
– Mata merah
– Muncul ruam kulit.

Seiring berjalannya waktu, gejala dari infeksi virus Ebola bisa menjadi makin parah. Maka dari itu, apabila kamu mengalami gejala-gejala seperti di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.