Apakah Perbedaan Vaksin Nusantara Vs Vaksin Merah Putih? Simak Ulasannya

Ada sejumlah perbedaan Vaksin Nusantara vs Vaksin Merah Putih, salah satunya adalah teknologi.

JEDA.ID-Sama-sama karya anak bangsa, Vaksin Nusantara  vs Vaksin Merah Putih, ternyata memiliki perbedaan. Apakah perbedaan Vaksin Nusantara vs Vaksin Merah Putih?

Simak ulasannya di info sehat dan tips kesehatan kali ini. Perbedaan Vaksin Nusantara vs Vaksin Merah Putih bukan hanya dari sisi nama, melainkan juga dari sisi teknologi yang diusungnya, perbedaan juga ada pada pihak yang terlibat dalam pengembangannya.

Vaksin Nusantara adalah rebranding dari Vaksin Joglosemar, vaksin Covid-19 berbasis sel dendritik yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, dengan menggandeng PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama AIVITA Biomedical Inc asal California, Amerika Serikat.

Pengembangan vaksin ini digagas pada akhir 2020, ketika Terawan Agus Putranto masih menjabat Menteri Kesehatan. Pendanaan riset vaksin Nusantara juga mendapat dukungan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes.

Baca Juga: Bolehkah Pakai Dobel Masker Medis? Begini Penjelasannya

Dikutip dari detikcom, Senin (22/2/2021), dari sisi teknologi, penggunaan sel dendritik memungkinkan vaksin ini diproduksi secara personalized, disesuaikan kondisi tiap pasien. Karenanya, vaksin ini cocok diberikan pada individu dengan penyakit komorbid yang tidak bisa mendapatkan vaksin biasa.

Kelebihan ini sekaligus menjadi kekurangan vaksin Nusantara. Menurut sejumlah pakar biologi molekular, teknologi sel dendritik yang sebelumnya lazim dipakai pada terapi kanker, terlalu rumit diterapkan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Vaksin Nusantara saat ini sedang menjalani uji klinis fase II. Vaksin yang diprakarsai dr Terawan Agus Putranto ini akan bersifat personalized dan menggunakan sel dendritik. Pada Covid-19, diklaim sebagai yang pertama di dunia.

Salah satu peneliti Vaksin Nusantara, Yetty Movieta Nency,  menjelaskan dendritik autolog merupakan komponen yang berasal dari sel darah putih.

“Komponennya sel dendritik dari sel darah putih. Semua punya, prosedurnya dari subyek ambil darahnya, ambil sel darah putihnya dan sel dendritiknya,” kata Yetty ditemui di RSUP dr Kariadi Semarang, Rabu (17/2/2021).

Di luar negeri, sel dendritik bukan hal baru karena juga digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit salah satunya melanoma (jenis kanker kulit). Di Indonesia baru pertama kali ini mulai pengembangan vaksin menggunakan sel dendritik.

“Sel dendritik sudah lama dipakai. Di luar negeri untuk vaksin penyakit lain, bukan hal baru. Tapi karena ada Covid-19  ini kami adopt. Di luar negeri untuk penyakit melanoma dan imun lainnya. Dengan melanoma hasil bagus. Di Indonesia ini baru pertama kali,” jelas Yetty.

Baca Juga: Buah Ciplukan dari Tanaman Liar Hingga Masuk Supermarket

“Untuk vaksin Covid-19 dengan sel dendritik ini pertama kali di dunia,” imbuhnya.

Cara kerja vaksin tersebut yaitu sel dendritik autolog dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2.

“Di laboratorium sel dendritik dikenalkan dengan rekombinan dari virus SARS-cov-2. Sel dendritik jadi pintar mengetahui dan antisipasi virus dan disuntikkan kembali. Kelebihannya tidak ada komponen virus ke tubuh manusia,” katanya.

Sel dendritik diambil dari masing-masing orang yang akan divaksin sehingga bersifat personalized. Hal itulah yang juga menjadi kelebihan karena bisa digunakan untuk orang-orang yang tidak bisa masuk kriteria vaksinasi dari vaksin lain.

“Kelebihannya alternatif untuk orang-orang yang tidak masuk pada vaksin yang sudah beredar. Misal penyakit berat, mengalami kanker dan lainnya, dengan vaksin dendiritik dimungkinkan bisa,” tegasnya.

Dengan sistem personalized itu, menurut Yetty, Vaksin Nusantara akan menghemat berbagai hal mulai dari produksi massal yang berpotensi adanya stok sisa dan terbuang. Biaya pengiriman dan penyimpanan pun bisa ditekan.

“Vaksin lain memproduksi jumlah stok yang sangat besar, sehingga sisa stok akan terbuang saat terjadi mutasi. Memungkinkan untuk meng-update antigen secara real time, sehingga tidak ada stok yang terbuang,” ujarnya.
Namun ia menjelaskan Vaksin Nusantara tetap bisa diproduksi langsung banyak atau massal dari sel dendritik yang sudah diambil. Karena pembuatannya tidak rumit dengan kita yang bisa dikirim di fasilitas kesehatan. Dari pengambilan sample dendritik hingga virus jadi, butuh massa inkubasi satu pekan.

“Butuh sepekan,  rencananya pengelolaannya tidak rumit di banyak tempat bisa lakukan ini. Bisa [massal],” katanya.

Untuk diketahui pengembangan Vaksin Nusantara dilakukan oleh tim. Universitas Diponegoro (Undip), dan RSUP dr. Kariadi Semarang. Selain itu ada kerjasama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat dalam penyediaan reagen. Fase I sudah rampung akhir Januari 2021 dan saat ini berlanjut fase II.

Baca Juga: CT Value Tinggi Bukan Berarti Bebas Covid-19, Ini Penjelasannya

“Ini buatan kita sendiri, 90 persen pengelola kita. Memang Antigennya masih kerjasama dari AIVITA,” tandasnya.

Dinilai rumit untuk vaksinasi massal

Dihubungi terpisah, pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menyebut teknologi sel dendritik sebenarnya bukan hal yang baru dan pernah dipakai antara lain untuk terapi kanker. Kelemahannya, teknologi ini kurang cocok untuk vaksinasi massal.

“Kalau vaksin biasa kan kita tinggal kumpulkan botol-botol vaksinnya itu pakai truk gitu kan, terus disebar, nanti petugas nakes tinggal oplos, abis gitu kan disuntikkan,” kata Ahmad.

“Kalau ini kan nggak, ke rumah sakit, harus nunggu dulu, jadi nanti pasien harus nunggu dulu sampai nanti selnya muncul, banyak prosesnya, (sampai) baru dikasih,” lanjutnya.

Dengan alasan itu pula, menurutnya, vaksin Covid-19 lainnya tidak dikembangkan dengan sel dendritik.

Vaksin Nusantara saat ini tengah menjadi sorotan. Sejumlah ahli pun meminta agar uji klinis vaksin yang diinisasi mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto itu segera dihentikan karena berbasis sel dendritik. Lantas apa yang dimaksud vaksin berbasis sel dendritik? Peneliti Bioteknologi di Universiti Putra Malaysia Bimo Ario Tejo mengatakan vaksin sel dendritik (DC) biasanya digunakan untuk pasien kanker. Pada pasien kanker, sistem imun terkadang gagal mengenali sel kanker di tahap awal. Oleh karena itu solusinya yakni dengan mengambil DC dari pasien. Kemudian DC diaktifkan dengan antigen dari sel kanker.

Tahap berikutnya DC dimasukkan kembali ke tubuh pasien. DC yang telak aktif memerintahkan sel T untuk mencari dan memusnahkan sel kanker.

Bimo menyebut Provenge merupakan vaksin DC pertama di dunia yang digunakan untuk kanker prostat dan diluncurkan pada 2010 lalu. Untuk menjalani vaksinasi ini, memerlukan biaya US$93.000 untuk 3 kali injeksi. “Pasien diambil darahnya, sel DC diaktifkan selama 3 hari, sel dendritik dimasukkan, setelah 2 minggu ulangi proses yang sama sampai 3 kali,” ujarnya seperti dikutip dari Bisnis.com, Senin (22/2/2021).

Sejumlah laboratorium di beberapa negara kini sedang meneliti vaksin DC untuk Covid-19, termasuk Indonesia. Pertama dilakukan oleh Aivita Biomedical, Inc., Amerika Serikat. Uji klinis vaksin AV-COVID-19 berlangsung di Semarang, Indonesia dan California, AS. Kedua dilakukan Shenzhen Geno-Immune Medical Institute, China. Uji klinis LV-SMENP-DC di Guangdong, China.

Baca Juga: Emas Aman Dimakan, Ini 5 Fakta Menarik Edible Gold

Ketiga, Shenzhen Third People’s Hospital, China. Uji klinis vaksin gene recombinant chimeric DC berlangsung di Guangdong, China. Bimo menerangkan terdapat kelebihan dan kekurangan vaksin DC. Kelebihannya antara lain dapat didesain lebih spesifik dengan menggunakan antigen khusus untuk mengaktifkan sel dendritik. Kemudian dapat mengaktifkan sel T dan diduga kekebalannya bertahan lebih lama dibanding vaksin inactivated konvensional. Sementara kekurangannya yakni prosesnya panjang dan memerlukan fasilitas khusus sehingga kurang sesuai untuk program vaksinasi massal. “Biayanya sangat mahal dibanding vaksin konvensional,” tandas Bimo

Bagaimana dengan Vaksin Merah-Putih?

Jika Vaksin Nusantara adalah nama sebuah vaksin, Vaksin Merah Putih sebenarnya tidak merujuk pada satu jenis vaksin, melainkan sekelompok kandidat vaksin yang dikembangkan oleh konsorsium riset di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

“Definisi vaksin Merah Putih adalah vaksin [Corona] yang bibitnya diteliti dan dikembangkan di Indonesia,” kata Menristek Prof Bambang Brodjonegoro.

Di dalam konsorsium ini, ada 7 lembaga yang turut mengembangkan vaksin Merah-Putih, masing-masing dengan platform yang berbeda. Dari 7 lembaga tersebut, 5 di antaranya berada di bawah perguruan tinggi.

Institut Teknologi Bandung (ITB)
Platform: Vector Adenovirus

Universitas Padjadjaran (Unpad)
Platform: Protein recombinant

Baca Juga: Waduh! Ancaman Serangan Siber ke UMKM Naik 51 Persen

Universitas Indonesia (UI)
Platform: DNA, mRNA, dan Virus-like-particles

Universitas Gadjah Mada (UGM)
Platform: Protein recombinant

Universitas Airlangga (Unair)
Adenovirus dan Adeno-Associated Virus-Based

Sedangkan dua pengembang vaksin Merah-Putih di luar perguruan tinggi adalah:

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman
Platform: Sub-unit protein rekombinan (mamalia) dan Sub-unit rekombinan (yeast).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Platform: Protein recombinant.

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.