Tutup Iklan

Waduh! Ancaman Serangan Siber ke UMKM Naik 51 Persen

Serangan siber ke UMKM meningkat dengan skema mengirim perangkat lunak (software) jahat melalui WhatsApp dan email ke pelaku UMKM.

JEDA.ID-Seiring adanya program digitalisasi untuk UMKM maka ancaman serangan siber ke UMKM naik menjadi 51%.Kenaikan ancaman serangan siber ke UMKM ini diungkapkan Kaspersky, perusahaan keamanan siber asal Rusia.

Simak ulasan temuan Kapersky tentang ancaman serangan siber ke UMKM di tips teknologi kali ini. Ya seiring kemajuan teknologi dan semua hal bisa diakses melalui gadget, Kapersky menemukan serangan siber makin agresif menyerbu pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tengah pandemi Covid-19.

Territory Manager Kaspersky untuk Indonesia Dony Koesmandarin mengatakan serangan siber ke UMKM meningkat dengan skema mengirim perangkat lunak (software) jahat melalui WhatsApp dan email ke pelaku UMKM.

Baca Juga: Pesawat Listrik Jadi Tren Masa Depan Dunia Penerbangan, Mungkinkah?

“Ada 34,52 juta serangan siber di Indonesia sepanjang 2020. Lebih dari 4,34 juta di antaranya menargetkan sektor bisnis [UMKM]. Jumlahnya naik 51 persen dibandingkan 2019 yang hanya 2,87 juta,” katanya seperti dikutip dari Bisnis.com, Jumat (19/2/2021).

Dony melanjutkan serangan siber yang menyasar UMKM memiliki skema yang beragam, mulai dari penipuan (phishing) hingga menyebarkan peranti lunak jahat seperti ransomware dan malware cryptomining.

Berdasarkan data Kaspersky Security Network (KSN) mencatat terdapat 406.229 upaya phishing yang menyasar UMKM selama paruh pertama 2020. Jumlahnya meningkat 18,2 persen dibandingkan paruh pertama 2019 (year on year/yoy).

Selain itu, terdapat 286.166 upaya serangan ransomware yang menyasar UMKM selama paruh pertama 2020. Kemudian, 720.300 serangan siber dengan menyebarkan malware cryptomining. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa produk Kaspersky mendeteksi sebanyak 20.264.000 serangan siber ditargetkan terhadap pengguna bisnis di Indonesia.

Malware lokal adalah perangkat lunak berbahaya yang disebarkan melalui perangkat yang dapat dilepas seperti drive USB, CD, DVD, dan metode luring lainnya. Secara total sebanyak 56,3 persen pengguna di Indonesia hampir terinfeksi oleh ancaman lokal pada tahun lalu,” katanya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan alasan serangan makin gencar terhadap UKM adalah sektor tersebut membangun grup bisnis terbesar di Indonesia dan telah terbukti berdiri kokoh terhadap berbagai macam guncangan krisis ekonomi.

Baca  Juga: 5 Perbedaan Banjir dan Genangan Versi Lapan

Lalu apa yang dilakukan BSSN ini untuk mencegah serangan siber ke UMKM? Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menilai pergeseran proses usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari dunia fisik ke ranah daring turut membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk menyerang melalui ragam skema.

Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiawan mengatakan UMKM menjadi pondasi bagi ekonomi nasional dan saat ini mereka tengah bergerak menuju sistem daring. Namun, kemampuan atau pengetahuan pemain dalam aspek keamanan siber masih minim.

“Oleh sebab itu, antisipasi pemerintah, khususnya BSSN adalah meluncurkan dan implementasi nasional program Penilaian Mandiri Keamanan Informasi [Paman Kami] untuk pelaku UKM,” katanya seperti dikutip dari Bisnis.com.

Anton menjelaskan program ini sudah diluncurkan pada 2020 dan mulai berjalan tahun ini dengan berfokus pada UMKM di wilayah Indonesia bagian timur pada kuartal I/2021.

“Kami sudah mulai [program ini] sejak bulan lalu di kota Ambon dan Maluku. Kemudian, minggu depan ke Kupang, NTT. Adapun setelah Kupang, langsung ke Palembang,” ujarnya.

Baca Juga: Ini Cara Meredakan Sakit Gigi Saat Pandemi Covid-19

Dia pun menyarankan agar pelaku UMKM turut menganggarkan biaya untuk berinvestasi ke peningkatan keamanan teknologinya, khusus dalam meredam serangan siber sebesar 3 persen dari total belanja organisasi.

“Sebenarnya tidak ada patokan resmi, tetapi berdasarkan pengalaman dan studi, seharusnya [setiap] korporasi, startup, dan UMKM tidak kurang dari 3 persen [menganggarkan untuk antisipasi serangan] dari total belanja organisasi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, dia mengatakan bahwa masih menjadi perhatian untuk terus ditingkatkan adalah kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari pelaku UMKM agar bisa menerapkan Cyber Hygiene dan budaya keamanan siber, minimal mengenali ragam bentuk serangan siber.

 

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.