Pergundikan Duniawi di Era Pelakor: Membedah Istilah Gundik

JEDA.ID – Istilah “Gundik” kembali populer menyusul hebohnya cerita viral selingkuhan mantan Dirut Garuda Indonesia, Ari Ashkara. Adalah wajar jika pergundikan menjadi topik panas di kalangan netizen yang belakangan lebih mengenal istilah pelakor dibanding gundik.

Ari Askhara barangkali sedang sial. Setelah skandal penyelundupan moge Harley Davidson dan sepeda Brompton heboh, Ari diterpa kabar miring soal hubungannya dengan Putri Novitasari Ramli. Katanya, Putri adalah gundik Ari Akshara.

Deretan Kontroversi Garuda Indonesia Saat Dipimpin Ari Askhara

Hal ini semula diceritakan akun anoim @digeeembok. Kabar lantas menyebar begitu cepat sampai bermunculan testimoni lain soal gundik ini dan dibumbui dengan cerita-cerita yang sulit dilacak kebenarannya.

“I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra [Ari Askhara] memiliki gundik dari awak kabin. Dan tuh gundik berkuasa banget. Ada beberapa kasus I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra untuk memanjakan sang gundik dengan uang perusahaan,” beber @digeeembok.

Pengakuan Pramugari

Pramugari Senior Maskapai Garuda Indonesia, Yosephine Ecclesia mengaku melihat ada kejanggalan saat Ari Askhara masih menjabat sebagai Dirut Garuda Indonesia.

Dia heran sekelas dirut seperti Ari kerap turun mengurus urusan pelatihan para awak kabin. Selain itu Ari juga kerap meminta nomor telepon para pramugari.

Fenomena Akun Kloningan dan Paguyuban Hater Pelakor

Bahkan, menurut dia, Ari kerap berlaku diskriminasi terhadap awak kabin seperti bertanya pada sejumlah pramugari terkait sudah masuk kelas 777 (tripel seven) atau belum.

Kelas 777 diikuti oleh para pramugari dan pramugara agar siap melayani di pesawat first class, yakni Boeing 777-300ER yang merupakan pesawat terbaik di kelasnya.

“Sekelas direksi yang sudah dicopot itu bisa keliling-keliling ke Garuda Indonesia Training Center untuk masuk ke kelas-kelas pramugari dan menanyakan, “kamu sudah karyawan belum?” Kamu sudah sekolah triple seven belum, kamu sudah bisnis kelas belum, habis itu diminta nomor teleponnya,” kata Yoshepine dalam acara Indonesia Lawyers Club tvOne dengan tema Ketika Garuda “Diserempet” Moge, Selasa (10/12) malam.

Cerita tak berhenti sampai di Ari Askhara, Direktur Human Capital Garuda Indonesia, Heri Akhyar, kabarnya juga tak mau kalah. Masih dari akun yang sama, @digeeembok, menyebut Heri punya gundik bernama Siwi Sidi.

Dalam foto yang diunggah, Sidi Siwi terlihat begitu modis dan cantik. Warganet pun ramai-ramai mencari tahu sosok Sidi Siwi melalui akun Instagram-nya yang dibeberkan akun @digeeembok. Sayangnya, akun Instagram Sidi Siwi itu telah digembok pada Senin malam kemarin.

Alasan Ini Biasanya Muncul di Balik Perceraian Artis

Istilah Gundik

Lantas heboh juga jagat Twitter usai hal-hal ini diungkap. Salah satu yang membuat netizen awam penasaran adalah soal istilah gundik. Maklum saja, istilah ini sekarang tak begitu sering dipakai sehingga tak terdengar familier.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata gundik memiliki dua pengertian. Pertama, berarti istri tidak resmi atau selir. Kedua, perempuan piaraan alias bini gelap.

Meski telah ada sejak era kolonial, istilah gundik ternyata masih dipakai hingga sekarang. Istilah ini sering ditujukan pada perempuan simpanan, orang ketiga, hingga ‘pelakor’ (perebut laki orang) yang belakangan juga cukup populer di media sosial.

Istilah gundik merupakan turunan kata dari “pergundikan.” Ada sejumlah buku yang cukup direkomendasikan dalam menjelaskan istilah pergundikan.

Beberapa diantaranya adalah buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda ditulis Reggie Baay. Lalu Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya yang disusun dr. Soemarno Sosroatmodjo dan Kisah Nyai Daimah oleh S.M. Ardan.

Pergundikan adalah suatu praktik di masyarakat yang berupa ikatan hubungan di luar perkawinan antara seorang perempuan (disebut gundik) dan seorang laki-laki dengan alasan tertentu.

Alasan pergundikan yang paling umum biasanya adalah karena perbedaan status sosial, ras, dan agama. Selain itu, pergundikan terjadi karena adanya larangan dalam masyarakat untuk memiliki lebih dari satu istri. Praktik memelihara selir atau harem merupakan salah satu bentuk pergundikan.

Pergundikan adalah praktik yang umum pada zaman kolonial. Hubungan yang terjadi adalah antara tuan tanah dengan perempuan dari kalangan pribumi atau budak yang menjadi bawahannya. Hal ini dimungkinkan karena kurang tersedianya perempuan dari kalangan sosial yang sederajat di tanah jajahan.

Awal Mula Munculnya Slogan Ganyang Malaysia

Masa Kolonial

Pada masa Hindia Belanda, pergundikan melahirkan kelas masyarakat yang kemudian disebut dengan istilah kaum Indo pada abad ke-19 dan ke-20.

Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, praktik pergundikan ternyata masih kerap terjadi di kalangan laki-laki Eropa. Dalam surat kabar De Waarheid edisi 30 Oktober 1986, Anneke Teunissen menulis bahwa praktik pergundikan menjadi suatu budaya yang diwarisi sejak masa kekuasaan VOC hingga berlanjut ke masa Hindia-Belanda.

Praktik itu, menurut Reggie Baay merupakan pemecahan masalah dari rasa kesepian yang dialami laki-laki kulit putih Eropa. Reggie menyebut, laki-laki Eropa membutuhkan pelampiasan seksual di tanah yang jauh dari negaranya. Dalam praktiknya, Nyai kemudian bukan hanya menjadi sekadar teman tidur, melainkan juga mengurus urusan rumah tangga.

Bagi laki-laki Eropa, memelihara gundik dan Nyai dipandang bisa mendatangkan sisi keuntungan daripada menikah secara resmi dengan seorang perempuan Eropa. Pasalnya, selain bisa lebih mudah untuk meninggalkan dan memperlakukan sesuka hati, kehadiran gundik juga bisa mengajari kebudayan (baik dalam bidang bahasa, kebiasaan, hingga adat istiadat) bagi para laki-laki Eropa.

Pengakuan dan Fakta Ilmiah tentang Selingkuh saat Pacaran

Meski begitu, kehidupan menjadi seorang gundik dan Nyai tetaplah memilukan. Menurut Tineke Hellwig dalam bukunya Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda (2007), seorang Nyai boleh dikatakan tidak memiliki hak apapun.

“Baik itu hak atas anaknya maupun hak atas posisinya sendiri. Setiap saat ia dapat ditinggalkan majikannya tanpa bantuan dalam bentuk apa pun. Di kalangan ketentaraan, seorang Nyai kadang-kadang diserahkan saja kepada laki-laki Eropa lain,” tulis Hellwig.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.