Awal Mula Munculnya Slogan Ganyang Malaysia

Slogan Ganyang Malaysia bermula dari keresahan Soekarno atas demonstrasi di KBRI pada tahun 1960-an.

JEDA.ID – Ricuh suporter Timnas Indonesia di Malaysia saat laga Malaysia vs Indonesia berbuntut panjang. Jejaring sosial Indonesia kembali ramai dengan sloga Ganyang Malaysia usai video penganiayaan suporter Indonesia viral.

Dilansir Antara, Jumat (22/11/2019), laga Malaysia vs Indonesia di Stadion Nasional Bukit Jalil, Selasa (19/11/2019) diwarnai kerusuhan antarsuporter. Kerusuhan itu bahkan berujung pada pengeroyokan hingga penusukan suporter Indonesia.

Kepala Satgas Perlindungan WNI KBRI untuk Malaysia Yusron B Ambary mengonfirmasi rekaman video pengeroyokan suporter Indonesia yang viral di media sosial. Pengeroyokan terjadi Senin (18/11/2019) sebelum pertandingan Malaysia vs Indonesia.

WNI bernama Fuad dan seorang temannya lebih dulu dipaksa menunjukkan identitas. Setelah dipastikan sebagai warga negara Indonesia, keduanya bergantian dipukuli para pelaku secara keji.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mempertanyakan alasan pemerintah maupun Federasi Sepak Bola (FAM) Malaysia belum menyampaikan permintaan maaf.

Mengutip Detik.com, Jumat (22/11/2019), Menteri Olahraga Malaysia Syed Syaddiq meminta korban penganiayaan melapor ke polisi. Melalui akun Twitternya, dia menjanjikan Malaysia akan menyelenggarakan investigasi yang transparan untuk mengungkap kasus ini.

Sikap Syed Syaddiq ini rupanya membuat netizen di Indonesia tak terima. Di jejaring sosial Twitter, hashtag #GanyangMalaysia dan #ShameonyouSyaddiq menjadi trending.

Khusus untuk #GanyangMalaysia, tren twit hashtag ini terus meningkat. Bahkan sempat memuncaki trending topic di Twitter selama beberapa waktu.

Ganyang Malaysia

Slogan Ganyang Malaysia bukan kali ini saja disuarakan. Slogan ini usianya sudah berpuluh tahun dan digunakan di banyak momentum perseteruan Indonesia dan Malaysia.

Wikipedia mengutip catatan J.A.C Mackie di Konfrontasia: the Indonesia-Malaysia Dispute (1974), Jumat (22/11/2019), Ganyang Malaysia adalah sebuah operasi yang bermula dari perlawanan atas rencana penggabungan negara-negara bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara. Negara-negara itu bakal menjadi satu negara bernama Federasi Malaysia.

Federasi Malaysia terdiri dari Malaya, Brunei, Sabah, Serawak, dan Singapura. Pembentukan Federasi Malaysia didukung oleh Inggris.

Pembentukan Federasi Malaysia mengalami problematika lantaran tidak semua pihak setuju. Indonesia dan Filipina menjadi negara yang tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia.

Pemerintah Filipina atas keputusan Sultan Sulu dari Kasultanan Sulu tidak setuju wilayah Sabah masuk pada Federasi Malaysia. Sultan Sulu dari Filipina mengklaim bahwa wilayah Sabah merupakan daerah kekuasaan dari Kasultanan Sulu.

Sedangkan Indonesia menganggap Federasi Malaysia adalah proyek neo-kolonialisme dan neo-imperialisme dari Inggris yang akan mengepung Indonesia.

Untuk menghindari perselisihan lebih jauh antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia, maka diadakanlah berbagai pertemuan dan perundingan. Perundingan menghasilkan persetujuan untuk menyelesaikan permasalahan antara ketiga negara ini.

Diplomasi Gagal

M. Jones dalam Conflict and Confrontation in South East Asia (2002) mencatat penyelesaian melalui jalur diplomatik menemui jalan buntu. Diproklamirkanlah Malaysia sebagai suatu negara federasi pada tanggal 16 September 1963. Akibatnya pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah untuk menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia yaitu dengan konfrontasi Malaysia oleh Presiden Soekarno. Usaha ini dinamakan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada tanggal 3 Mei 1964 pada suatu apel besar di depan Istana Merdeka Jakarta.

Presiden Soekarno mengobarkan semangan untuk perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak, dan Brunei dalam rangka membubarkan Malaysia. Soekarno bahkan menyebut Malaysia sebagai negara boneka.

Sampai akhirnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 Pemerintah Indonesia menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Indonesia fokus dengan kondisi dalam negeri untuk pemulihan keamanan yang ada di Indonesia setelah adanya peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Upaya damai yang dilakukan Pemerintah Indonesia kepada Malaysia adalah mengirimkan misi militer Indonesia. Ali Murtopo dan L.B Moerdani dikirim dengan tujuan mengadakan pertemuan dengan Tunku Abdul Razak.

Perundingan Bangkok dan Piagam Djakarta Accord menjadi jalan damai antara Indonesia dan Malaysia. Hingga pada tanggal 31 Agustus 1967 Indonesia dan Malaysia resmi membuka hubungan diplomatik kembali.

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik dan normalisasi hubungan antara kedua negara. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.

Awal Mula

Pada peristiwa bersejarah itu, Soekarno meninggalkan satu istilah yang terus populer hingga sekarang, “Ganyang Malaysia.” Slogan ini bermula saat Soekarno terusik demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 Desember 1963.

Demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek- robek foto Soekarno. Demonstran juga membawa lambang Garuda Pancasila ke hadapan PM Malaysia, Tunku Abdul Rahman, dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

”Yoo… ayooo… kita ganyang. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satu- satu!” demikian kutipan pidato berapi-api Soekanor.

Dibakar oleh pidato Bung Karno melalui radio itu (waktu itu radio merupakan media utama informasi), gerakan Ganyang Malaysia pun meledak ke seluruh negeri.

Pendaftaran sukarelawan terjadi di mana-mana. Semangat bangsa saat itu memang sedang melambung setelah keberhasilan kita membebaskan Irian Barat pada tahun 1962.

Waktu itu, secara militer Indonesia merupakan negara terkuat di Asia Tenggara, terutama berkat persenjataan yang dibeli dari Uni Soviet. Semangat antinekolim juga sangat tinggi. Inggris pada tahun 1960-an itu masih merupakan kekuatan global.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.