Mitos Sunat Perempuan dan Terlanggarnya Hak Seksual

Berkembang mitos bahwa sunat perempuan dapat mengurangi nafsu seksual perempuan dan meningkatkan kepuasan laki-laki ketika berhubungan seksual.

JEDA.ID–Di beberapa daerah di Indonesia, sunat bagi perempuan sudah menjadi tradisi dengan berbagai mitos yang melingkupinya. Tidak hanya di Indonesia, praktik sunat perempuan juga terjadi di berbagai negara lain seperti di Afrika dan Timur Tengah.

Sunat perempuan sudah lama ditentang karena membahayakan dan pelanggaran terhadap hak kesehatan. Praktik sunat bagi wanita atau kerap disebut pemotongan/pelukaan genitalia perempuan (P2GP) di Indonesia disebut-sebut sudah ada sejak 6.000 tahun yang lalu dan bertahan hingga saat ini.

Praktik ini telah ditemukan di beberapa wilayah dan suku-suku bangsa Indonesia sejak abad ke-18 oleh sejumlah peneliti dari Belanda. Misalnya ada di Aceh, Jawa, Gorontalo, Suku Sunda, Suku Bugis, Suku Minangkabau.

Hingga kini praktik sunat bagi perempuan masih terjadi. Dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kemenkes tercatat 51% anak perempuan berusia 0-11 tahun mengalami P2GP.

Mayoritas sunat perempuan dilakukan saat masih bayi yaitu usia 1-5 bulan yaitu 72,4%. Kemudian ada yang saat berusia 1-4 tahun sebanyak 13,9%.

Unicef menyebutkan sunat perempuan di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Data Unicef pada 2016 menyebutkan 200 juta anak perempuan di 30 negara mengalami pemotongan/pelukaan genitalia perempuan dengan Mesir, Ethiopia, dan Indonesia sebagai negara dengan angka tertinggi.

4 Jenis Sunat Perempuan

Praktik sunat perempuan cenderung menurun, namun angkanya tidak signifikan. Unicef menyebutkan sunat perempuan sulit untuk dihentikan karena berkaitan dengan tradisi dan perintah agama yang sudah dilaksanakan selama turun temurun.

Sunat perempuan di berbagai daerah di Indonesia dan negara lain sangat beragam jenisnya. Namun, WHO mengklasifikasikan menjadi empat jenis.

1. Klitoridektomi yaitu pemotongan sebagian atau seluruh bagian dari klitoris. Pada kasus tertentu hanya prepusnya (kulit tipis di sekitar klitoris).

2. Eksisi yaitu pemotongan sebagian atau seluruh bagian klitoris dan labia minora dengan atau tanpa pemotongan labia mayora.

3. Inibulasi yaitu penyempitan lubang vagina dengan membuat semacam sekat. Sekat dibuat dengan memotong atau memodifikasi bentuk labia minora atau labia mayora. Terkadang dengan cara dijahit.

4. Segala bentuk praktik berbahaya yang dilakukan pada genitalia perempuan untuk tujuan nonmedis, misalnya menusuk, menoreh, dan mengusapkan sesuatu ke area genitalia.

Alasan di Balik Gaji Laki-Laki Lebih Tinggi dari Perempuan

Ada berbagai mitos yang berkembang di masyarakat sehingga praktik sunat perempuan tetap berjalan selama ini. Selain soal tradisi yang turun-temurun dan perintah agama, di beberapa negara, P2GP dilakukan untuk mempersiapkan perempuan untuk menjadi dewasa atau sebelum menikah karena menandakan bahwa sang perempuan masih perawan.

Mitos Kurangi Nafsu Seksual

Selain itu, berkembang mitos bahwa sunat perempuan dapat mengurangi nafsu seksual perempuan dan membantu untuk mengendalikan nafsu seksualnya sehingga mereka tetap dapat menjaga kehormatan dirinya sampai menikah.

Ada juga mitos yang menyebutkan P2GP dilakukan untuk meningkatkan kepuasan laki-laki ketika berhubungan seksual. Praktik membuang klitoris dianggap sebagai membuang bagian ‘maskulin’ dari tubuh dan untuk mempercantik bentuk genitalia perempuan.

”Praktik ini sangat mereleksikan ketidaksetaraan gender, diskriminasi terhadap perempuan, dan merepresentasikan kondisi sosial budaya yang patriarkis di masyarakat,” sebut Komnas Perempuan dalam hasil penelitian tentang P2GP, Persimpangan Antara Tradisi dan Modernitas, yang dikutip beberapa waktu lalu.

Padahal, dalam berbagai penelitian menyebutkan praktik semacam itu berpotensi menyebabkan adanya berbagai komplikasi secara langsung maupun tidak langsung atau jangka panjang.

Cerita Perempuan Merokok: Stigma Anak Nakal, Dipaksa Tahu Diri

Komplikasi langsung yang dialami adalah pendarahan, rasa sakit yang parah, infeksi lokal, sampai kesulitan buang air kecil.

Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi antara lain kista, ketidaksuburan, komplikasi ketika melahirkan, sulit berhubungan seksual, gangguan psikologis, keloid dan pembengkakan, serta bisamenyebabkan rasa sakit dan kesulitan buang air kecil.

Ilustrasi perempuan

Ilustrasi perempuan (Freepik)

Sunat perempuan juga disebut memiliki dampak seksual seperti rasa sakit saat berhubungan intim, masalah psikoseksual, dysmenorrhea (sakit luar biasa yang dirasakan ketika menstruasi), kurangnya hasrat seksual, kurangnya frekuensi dan gairah seksual, kurang menyenangi seks, dan kesulitan mencapai orgasme.

Komnas Perempuan dalam penelitiannya menggali data di berbagai daerah yang kasus sunat perempuan tergolong tinggi. Gorontalo misalnya yang menurut data Riskesdas 2013 ada 83,7% anak perempuan usia 0-11 tahun yang mengalami P2GP. Kemudian juga Bangka Belitung, Banten, sampai Kalimantan Selatan.

Mandi Lemon

Di Gorontalo praktik P2GP tidak bisa dilepaskan dari adat istiadat Gorontalo dan laku keagamaan. Praktik ini dikenal dengan sebutan Mo Polihu Lo Limu atau Molubingo. Mo Polihu Lo Limu atau Mandi Lemon diartikan sebagai mandi air ramuan jeruk purut/lemon dan ramuan lainnya.

Sedangkan Molubingo dimaknai sebagai mencubit. Mandi Lemon/Cubit diyakini sebagai ritual mengeluarkan barang haram yang berwarna putih dari kelamin anak perempuan. Kelengkapan adat atau hulande harus selalu tersedia dalam setiap acara mandi lemon.

Ritual ini dianggap sakral dan wajib dilalui anak perempuan di Gorontalo yang beragama Islam karena prosesi P2GP menjadi semacam bukti keislaman. Sebagai sebuah ritual adat, praktik ini hanya boleh dilakukan oleh hulango (dukun/paraji) setempat, tidak oleh tenaga kesehatan.

Ritual saat sunat perempuan juga menjadi ajang meramalkan perilaku dan hal-hal tertentu dari si anak perempuan. Misalnya, jika ada darah saat praktik P2GP maka anak perempuan itu akan menjadi binal ketika dewasa nanti. Jika bagian klitoris mengeluarkan ‘cahaya’, anak perempuan itu akan memberi berkah dan peruntungan dalam berdagang.

Saat Orang Tua Sebut Alat Kelamin dalam Pendidikan Seksual

”Bagian klitoris yang diambil atau dicubit dalam proses P2GP dianggap najis, tetapi bila dimasukkan dalam lemon dapat menjadi jimat peruntungan.”

Di Belitung Timur, Bangka Belitung, praktik ini menjadi kebutuhan. Praktik ini dilakukan bisa dilakukan pada bayi berusia 1-2 hari, seminggu, 40 hari atau 44 hari.

Di wilayah tertentu seperti Bakolimau, sunat adalah kewajiban, bahkan perempuan dewasa yang hendak menikah tetapi belum disunat, harus melakukannya.

Cerita lain datang dari Samarinda yang praktik sunat perempuan juga cukup tinggi. Di wilayah ini, ada semacam mitos bahwa anak perempuan yang tidak menjalani ritual ini akan mengalami kesulitan saat ia dewasa dan saat akan melahirkan.

Tantangan Mendatang

Komnas Perempuan dalam kesimpulan penelitian itu menyatakan praktik sunat itu menyebabkan perempuan terlanggar hak reproduksi dan seksualnya.

Sebab, praktik ini berdampak, selain pada kesehatan seksual dan trauma berkepanjangan, serta ketubuhan perempuan yang memiliki organ kelamin yang sensitif.

RUU PKS dan Jalan Panjang Memecah Gunung Es Kekerasan Seksual

”Praktik P2GP terus turun dari generasi ke generasi karena kuatnya tradisi masyarakat, agama dan keyakinan atau kepercayaan lainnya untuk memuliakan perempuan dan sebagai syarat sebagai perempuan Islam, menghilangkan kotoran atau najis serta mengontrol perilaku perempuan secara moral dan seksualitas.”

Mereka menyebut ada banyak tantangan untuk menekan praktik sunat perempuan. Perlu peran tegas dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai kalangan untuk menyampaikan berbagai fakta mengenai isu kesehatan reporoduksi dan seksual.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.