Saat Orang Tua Sebut Alat Kelamin dalam Pendidikan Seksual

Informasi yang baik dan benar melalui pendidikan seksual mampu menjadi tameng bagi remaja dalam mengontrol rasa ingin tahu yang muncul dalam diri mereka.

JEDA.ID–Bagi sebagian orang, pendidikan seksual untuk anak masih dianggap tabu bahkan ketika sang anak sudah menginjak usia remaja. Padahal tidak bisa dimungkiri pendidikan seksual seperti pemahaman soal reproduksi kesehatan seksual bisa mencegah remaja dari seks bebas.

Pendidikan seksual juga mencegah anak dari kejahatan seksual sampai penyakit menular. Karena masih dianggap tabu, tidak sedikit anak yang sudah usia remaja kemudian sungkan untuk menanyakan perihal pendidikan seksual kepada orang tua mereka.

Hal ini terungkap dalam riset daring yang dilakukan Reckitt Benckiser Indonesia pada 2018 terhadap 500 remaja di lima kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Surabaya, Medang, Bandung, dan Yogyakarta.

Dari riset itu diketahui 61 persen remaja merasa takut dihakimi oleh orang tua ketika ingin bertanya perihal pendidikan seksual. Sebanyak 57 persen remaja lebih terbuka berbicara seksual dengan teman sebayanya.

Penelitian itu juga menunjukkan pada masa pubertas pertama saat anak berusia sekitar 12-15 tahun, ada 52 persen remaja yang menjadikan orang tua sebagai sumber informasi pertama soal pubertas, 25 persen ke teman, dan 15 persen dari internet dan media sosial.

Drone Parenting, Pola Asuh Anak Bermula dari Ibu Milenial Kepo

Namun, setelah masa pubertas awal terlampaui, hanya 26 persen remaja yang menjadikan orang tua sebagai sumber informasi terpercaya. Remaja awal lebih memilih dokter atau praktisi kesehatan.

Seiring pertambahan usia, sumber informasi pun berubah. Ada 41 persen remaja usia 18 tahunan lebih suka mendiskusikan topik-topik pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi dengan teman, 24 persen melalui Internet, dan 14 persen memilih orang tua.

Sebagaimana dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, Kamis (5/12/2019), UNICEF, WHO, sampai UNAIDS menekankan pentingnya pendidikan seks yang dilakukan orang tua terhadap anak mereka yang telah remaja. Hal ini dilakukan agar mereka memperoleh informasi yang benar dan sehat.

Tiga lembaga internasional itu bahkan memiliki panduan pendidikan seksual komprehensif bagi orang tua dan guru di sekolah. Setidaknya ada dua kategori pendidikan seks bagi remaja berdasarkan usia yaitu 12-15 tahun dan 15-18 tahun ke atas.

Usia 12-15 Tahun

Ilustrasi pendidikan seksual

Ilustrasi pendidikan seksual (Freepik)

Pada anak usia ini, rata-rata mereka sudah mengalami masa pubertas. Mereka mulai mengerti artinya cinta, kerja sama, persamaan gender dan kepedulian pada keluarga dan teman.

Pendidikan seksual yang perlu dijelaskan kepada mereka seperti memberikan pemahaman mengenai pertemanan yang terlalu dekat antara pria dan wanita bisa berakhir dengan hubungan seksual.

Hubungan seksual yang terlalu dini berisiko pada kesehatan reproduksi karena hamil di usia muda dan berdampak negatif pada psikologis anak. Misalnya, jika hamil saat masa sekolah, anak-anak cenderung malu meneruskan sekolah.

Orang tua juga bisa memberikan paparan mengenai pelecehan dan kekerasan dalam pertemanan bisa terjadi karena perbedaan gender dan labelisasi. Setiap orang bertanggung jawab melawan kekerasan, bias, dan intoleransi dalam hubungan pertemanan.

Pendidikan seksual bagi anak usia ini bisa menyinggung mengenai pernikahan. Misalnya pernikahan akan bahagia jika berdasarkan cinta, toleransi, menghargai, dan tanggung jawab.

Kekerasan Seksual Berbasis Online Kian Marak, Yuk Batasi Anak Gunakan Internet

Pernikahan di bawah 20 tahun rentan mendapat pandangan negatif dan berisiko untuk kesehatan. Orang tua juga bisa menjelaskan lebih detail soal anatomi tubuh dan organ reproduksi manusia.

”Hindari mengganti kata-kata yang dianggap tabu. Tetap gunakan kata vagina dan penis untuk menjelaskan alat vital manusia. Bagian ini juga bagian inti dalam pendidikan seksual untuk anak. Jelaskan juga secara ringkas proses pembuahan yang bisa menyebabkan seseorang hamil.”

Dari penjelasan itu, orang tua harus juga menerangkan tentang risiko kesehatan akibat hubungan seksual yang tidak sehat, misalnya karena terlalu dini. Jelaskan juga, bahwa berganti-ganti pasangan bisa sebabkan penyakit kanker bahkan HIV/AIDS yang mematikan.

Juga bisa menambahkan penjelasan sesuai peraturan agama dan kepercayaan yang Anda anut mengenai hal ini.

Usia 15-18 Tahun ke Atas

Pendidikan seksual bagi anak usia remaja ini kian luas karena mereka mulai mengerti aturan dan hukum terkait pelecehan dan kekerasan seksual. Perlu anak-anak diberi informasi bahwa ada aturan hukum bagi orang yang melakukan pelecehan.

Ingatkan juga bahwa pelaku kejahatan seksual tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan orientasi seksual. Banyak organisasi dan institusi yang bisa membantu pendampingan bagi korban kekerasan seksual.

Mereka mulai diberi penjelasan mengenai pernikahan bisa jadi hal yang sangat berharga dan penuh tantangan. Anak harus mengerti tanggung jawabnya terhadap sikap yang diambil dan keputusannya terkait pernikahan.

Orang tua bisa menyarankan anak untuk menunda menikah dan berhubungan seksual minimal hingga usia 20 tahun. Tanamkan juga bahwa siapa pun harus menolak kekerasan dalam hubungan pernikahan.

pendidikan seksual

Ilustrasi remaja berkumpul (Freepik)

Leafio Rinta dari BKKBN Provinsi Sumatra Utara dalam kajian berjudul Pendidikan Seksual dalam Membentuk Perilaku Seksual Positif pada Remaja Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Psikologi Remaja menyatakan informasi yang baik dan benar melalui pendidikan seksual mampu menjadi tameng bagi remaja dalam mengontrol rasa ingin tahu yang muncul dalam diri mereka.

Kajian Leafio itu dimuat dalam Jurnal Ketahanan Nasional pada Desember 2015. Dia menyebut melalui informasi yang didapatnya tersebut, remaja jadi mengerti apabila terus menuruti rasa ingin tahunya, kemungkinan dia akan terjerumus dalam perilaku seksual menyimpang seperti seks bebas dan pranikah.

Kontroversi Seks Tanpa Nikah dan Potret Seks Pranikah

”Informasi yang benar tersebut disampaikan secara sederhana agar dapat dipahami dan dapat diterima oleh setiap remaja yang mendengarnya. Sebab, remaja sebagai objek yang menerima informasi memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda,” tulis Leafio.

Dia menyatakan peran orang tua dalam memberikan pendidikan seksual sangat besar. Apabila remaja tidak mengetahui pandangan orang tua mereka mengenai hubungan seksual di kalangan remaja, pandangan mereka tentang hubungan seksual akan dibentuk oleh teman dan media.

Hal ini akan membuka kesempatan terjadinya perilaku seksual dini pada remaja. ”Intensitas komunikasi yang tinggi dengan teman sebaya mengenai seks secara praktis meningkatkan risiko inisiasi hubungan seks pranikah pada usia lebih dini hampir dua kali lipat terutama pada informan laki-laki,” tulis dia.

Dia menyimpulkan pendidikan seksual memiliki pengaruh positif terhadap ketahanan psikologi remaja. Remaja yang mendapatkan pendidikan seksual yang cukup, memiliki kemampuan untuk melalui masa remaja tanpa terjerumus dalam pengaruh negatif perilaku seks bebas dan pranikah.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.