Mitos Mengerikan Gerhana Matahari dari Berbagai Belahan Dunia

JEDA.ID – Gerhana matahari tak bisa lepas dari kisah mistis dan mitos yang dipercaya masyarakat. Di berbagai belahan dunia, ada banyak mitologi yang bercerita tentang gerhana matahari.

Lembaga Astronomi dan Penerbangan (LAPAN) memperkirakan bakal terjadi gerhana matahari cincin yang bakal terlihat di sejumlah daerah di Indonesia pada 26 Desember 2019. Fenomena ini terbilang langka lantaran terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama.

Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga terlihat menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari di langit bumi.

Gerhana Matahari Cincin 26 Desember Terakhir Terlihat 54 Tahun Lalu

Berdasarkan cara tertutupnya matahari, terdapat empat jenis gerhana matahari, gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, gerhana matahari sebagian, dan gerhana matahari hibrida/campuran.

Gerhana matahari cincin terjadi ketika bulan berada tepat di tengah-tengah matahari dan bumi, tetapi ukuran tampaknya lebih kecil dibandingkan dengan ukuran tampak matahari.

Alhasil, pinggiran matahari terlihat sebagai cincin yang sangat terang dan mengelilingi bulan yang tampak sebagai bundaran gelap.

Mengutip Lapan.go.id, gerhana matahari cincin yang akan terjadi 26 Desember 2019 nanti termasuk ke dalam kategori siklus saros 132. Gerhana ini merupakan yang ke-46 dari total 71 gerhana matahari cincin sebelumnya. Jika ingin melihat fenomena serupa, Anda perlu menunggu 18 tahun lagi, 5 Januari 2038.

Secara historis, Gerhana Matahari Cincin seri Saros 132 terakhir melintasi kawasan di Indonesia pada tanggal 23 November 1965 atau 54 tahun lalu. Untuk Gerhana Matahari Total (GMT) sudah melintasi wilayah Indonesia sebanyak 6 kali pada periode setelah kemerdekaan, termasuk pada 9 Maret 2016 lalu.

Kilas Gerhana Matahari Total di Indonesia

Mitos Gerhana Matahari

Meski dapat dijelaskan secara ilmiah, masih banyak yang percaya dengan mitos seputar gerhana matahari. Bahkan setiap negara punya mitos gerhana masing-masing.

Masyarakat Yunani kuno percaya kalau gerhana Matahari adalah tanda kemarahan dari para dewa dan tanda dari adanya bencana dan kerusakan. Disebut-sebut juga, warga Mesir kuno cukup khawatir dengan adanya gerhana matahari karena dipercaya erat dengan hawa jahat.

Orang-orang Tiongkok percaya gerhana matahari disebabkan karena seekor naga, yang tiba-tiba terbangun di antara bintang-bintang, mulai melahap matahari. Untuk mengusirnya, masyarakat Tiongkok akan membuat suara gaduh dengan memukul wajan, pot, panci dan perabotan lainnya.

Sedangkan di Vietnam, legendanya hampir mirip, tapi matahari dimakan oleh katak raksasa, bukan naga.

Lain lagi dengan bangsa Viking yang menyebutkan kalau matahari ditelan seekor serigala bernama Sköll yang mengincar Dewa Matahari, Sol.

Menurut kepercayaan orang Korea, gerhana matahari atau bulan disebabkan karena Bulgae, anjing api dari alam gelap, mencoba mengunyah benda angkasa itu.

Merata di Tanah Air, Nikmati Hari Tanpa Bayangan

Nantinya, dia akan sadar kalau matahari terlalu panas untuk ditelan, begitu juga dengan bulan yang terlalu dingin, kemudian Bulgae akan memuntahkannya dan kembali ke alam asalnya.

Negara Lain

Mitos di Jepang, Dewa Matahari, Amaterasu, dikatakan bersembunyi di gua ketika gerhana berlangsung. Dia akan keluar lagi setelah melihat cerminannya sendiri dan sadar akan kecantikannya.

Menurut cerita rakyat Inuit, dewi matahari Malina pergi setelah berkelahi dengan dewa bulan Anningan. Gerhana matahari terjadi ketika Anningan berhasil menyusul saudaranya tersebut.

Sedangkan berdasarkan legenda Batammaliba di Benin dan Togo, konflik Matahari dan Bulan adalah penyebab gerhana Matahari. Mereka mengatakan gerhana Matahari berarti bahwa matahari-bulan tengah berperang dan satu-satunya cara untuk menghentikan konflik adalah orang-orang Bumi harus saling berdamai satu dengan yang lain.

Kepercayaan suku Tewa dari New Mexico di Amerika Serikat, menyebutkan jika gerhana Matahari merupakan pertanda sang surya sedang marah dan telah meninggalkan langit untuk pergi ke rumahnya di dunia bawah.

Kalau dalam mitologi Hindu, matahari ditelah oleh Rahu. Rahu adalah iblis serakah yang mencicipi nektar keabadian milik para dewa-dewa. Namun, hal ini diketahui oleh bulan dan matahari yang kemudian melaporkannya ke Dewa Wisnu.

Setelah Rahu minum, Dewa Wisnu langsung memenggal kepalanya. Kepalanya abadi, namun tubuhnya hilang. Marah dan dendam, Rahu akhirnya mengejar matahari dan bulan hingga saat ini.

Penantian 48 Tahun untuk Punya Bandara Antariksa Sendiri

Dampak Gerhana Matahari

Lapan sendiri menyebut gerhana matahari pada 26 Desember 2019 akan berdampak pada alam. Gerhana Matahari cincin ternyata bisa mengganggu kondisi Bumi.

Para ilmuwan menjelaskan ada efek pada gravitasi Bumi saat gerhana berlangsung. Salah satu yang akan terjadi adalah gelombang tinggi di sekitar pantai.

Imbas lainnya yang masih bersangkutan adalah Gerhana Matahari Cincin bisa menghambat pemanasan dan ionisasi di lapisan atmosfer Bumi.

Gerhana Matahari Cincin juga bisa mengganggu sinyal telekomunikasi, karena kurangnya cahaya. Saat gerhana terjadi, ionisasi mengalami penurunan. Padahal ionisasi sangat berperan mempercepat frekuensi telekomunikasi.

Dampak lain berkaitan dengan kesehatan mata. Gerhana Matahari Cincin sangat berbahaya jika melihat langsung dengan mata telanjang. Efeknya bisa sangat berbahaya, menyebabkan kerusakan permanen pada retina, hingga menyebabkan kebutaan.

Jika ingin melihat gerhana ini, disarankan kacamata Matahari. Kacamata ini bukan kacamata hitam biasa, melainkan kacamata berlensa khusus untuk menghalangi cahaya Matahari.

Atau bisa juga menggunakan teleskop atau binokular. Penggunaan binokular serupa dengan kamera lubang jarum. Bedanya, citra Matahari diproyeksikan melalui lensa pembesar.

Penggunaan binokular atau teleskop dapat menghasilkan proyeksi gerhana yang lebih besar dan tajam dibandingkan kamera lubang jarum.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.