• Tue, 16 August 2022

Breaking News :

28 Triliun Ton Lapisan Es Greenland Mencair, Pertanda Pemanasan Global Makin Parah?

Pencairan tahun lalu, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, dan jauh lebih cepat dari rata-rata dekade sebelumnya.

JEDA.ID-Permukaan es di Greenland semakin kritis. Para ahli memprediksi pada 2055 hujan salju musim dingin di Greenland tidak lagi cukup untuk melapisi kembali es yang mencair di setiap musim panas.

Melansir Live Science, Selasa (2/2/2021), sebuah studi baru mengemukakan bahwa kenaikan suhu global mendorong perubahan dramatis ini. Jika Bumi terus memanas pada kecepatannya saat ini, suhu global rata-rata akan naik hampir 5 derajat Fahrenheit (2,7 derajat Celcius) pada tahun 2055. Dengan demikian, rata-rata suhu di Greenland menjadi lebih panas, yakni naik sekitar 8 F (4,5 C).

Di bawah kondisi tersebut, hilangnya es tahunan Greenland dapat meningkatkan permukaan laut hingga 5 inci (13 sentimeter) pada 2100, kecuali langkah drastis seperti menekan emisi gas rumah kaca dan memperlambat tren pemanasan global diambil dari sekarang.

Baca Juga: 6 Jenis Kanker Pada Anak, Lakukan Deteksi Dini Sebelum Terlambat!

Profesor Riset di Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia Marco Tedesco mengatakan dalam studi terbaru itu, peneliti menghitung bahwa dunia telah kehilangan 28 triliun ton es dalam 24 tahun, yaitu dari 1994 hingga 2017. Seiring waktu, permukaan air laut pun semakin meningkat.

Saat ini, Greenland dan gletser minor memainkan peran dominan dalam kenaikan permukaan laut, sedangkan kontribusi sisanya disebabkan oleh fenomena pemuaian panas lautan.

“Semakin kita menghangatkan lautan yang menyerap sekitar 85 persen panas akibat pemanasan global, semakin mendorong naiknya laut,” ujarnya website resmi Universitas Colombia seperti dikutip dari Bisnis.com, Jumat (5/2/2021).

Menurut peneliti dari University of Leeds, penulis yang baru saja menerbitkan hasil studinya di The Cryosphere, setengah es yang hilang termasuk 6,1 triliun ton dari gletser gunung, 3,8 triliun ton dari lapisan es Greenland, dan 2,5 triliun ton dari lapisan es Antartika.

Kebocoran ini menaikkan permukaan laut global hingga 35 milimeter. Setiap sentimeter kenaikan permukaan laut, satu juta orang berisiko mengungsi dari dataran rendah. Fenomena alam berupa pemanasan global ini jelas mengkhawatirkan.

Baca Juga: Shinkansen Berubah Jadi Tempat Kerja, Kereta Malam Berhenti Beroperasi

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menyelematkan bumi ini yaitu mengurangi emisi karbon. Tanpa pembalikan seperti itu, konsekuensi terhadap planet kita, dan kehidupan di sepanjang pantai seperti yang kita kenal sekarang, akan berubah bentuk.

Sebelumnya, para peneliti mengonfirmasi telah terjadi pencairan lapisan es secara dramatis di Greenland pada musim panas 2019. Mereka menyatakan sebagian besar disebabkan oleh zona tekanan tinggi yang terus-menerus terjadi di wilayah tersebut.

Pencairan tahun lalu, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, dan jauh lebih cepat dari rata-rata dekade sebelumnya.

Angka menunjukkan bahwa pada Juli 2019 saja permukaan es turun sebesar 197 gigaton atau setara dengan sekitar 80 juta kolam renang Olimpiade. Sekarang para ahli telah memeriksa tingkat peleburan secara lebih rinci, mengungkapkan apa yang mendorongnya.

Yang terpenting, catatan tim, kondisi tekanan tinggi berlangsung selama 63 dari 92 hari musim panas pada tahun 2019, dibandingkan dengan rata-rata hanya 28 hari antara tahun 1981 dan 2010.

Situasi serupa terlihat pada tahun 2012, rekor tahun yang buruk untuk pencairan lapisan es. Tim mengatakan model iklim Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) belum memperhitungkan kondisi yang tidak biasa seperti itu.

Jika zona tekanan tinggi seperti itu menjadi fitur tahunan biasa, pencairan di masa depan bisa dua kali lebih tinggi dari perkiraan saat ini, dan berakibat serius bagi kenaikan permukaan laut.

“Peristiwa melelehnya lapisan es ini adalah sinyal alarm yang baik bahwa kita sangat perlu mengubah cara hidup kita untuk menahan pemanasan global karena ada kemungkinan bahwa proyeksi IPCC bisa terlalu optimis untuk Kutub Utara,” kata Dr Xavier Fettweis, co-penulis penelitian dari University of Liege.

Baca Juga: Waspada! Menopause pada Pria Dimulai Usia 40 Tahun, Ini Cirinya

Dia menambahkan bahwa kondisi atmosfer tidak mungkin turun ke variabilitas iklim alami dan dapat didorong oleh pemanasan global.

Dalam jurnal Cryosphere, Fettweis dan rekan penulisnya Marco Tedesco dari Lamont-Doherty Earth Observatory di Universitas Columbia melaporkan bagaimana mereka menggunakan data satelit, model iklim dan pola cuaca global untuk mengeksplorasi pencairan permukaan lapisan es.

Di antara temuan mereka, tim melaporkan bahwa hampir 96% dari lapisan es mengalami pencairan pada suatu waktu di tahun 2019, dibandingkan dengan rata-rata lebih dari 64% antara tahun 1981 dan 2010. Dengan menggunakan model, pasangan ini juga menemukan bahwa sekitar 560Gt limpasan air lelehan dihasilkan pada musim panas 2019.

Keseimbangan massa permukaan, jumlah es yang didapat dari hujan dan salju dikurangi jumlah yang hilang akibat limpasan air hujan dan penguapan, hanya 54Gt per tahun, sekitar 320Gt per tahun lebih rendah dari rata-rata di dekade sebelumnya.

Analisis lebih lanjut menunjukkan tingkat dan distribusi leleh yang terkait erat dengan sejumlah faktor, termasuk tingkat hujan salju dan pantulan sinar matahari yang dikenal sebagai albedo, serta kekeruhan dan penyerapan sinar matahari.

Semua ini, mereka perhatikan, dipengaruhi oleh zona tekanan tinggi yang persisten di atas lapisan es musim panas lalu. Dr Poul Christoffersen, ahli glasiologi di Scott Polar Research Institute di University of Cambridge, mencatat hanya pada 2012 yang memiliki limpasan air lelehan yang lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Kucing Suka Pipis Sembarangan? Kenali Penyebabnya

“Jelas, ini menunjukkan bahwa peristiwa pencairan ekstrem menjadi jauh lebih sering,” katanya,

“Dalam pengertian, tahun-tahun pencairan ekstrem dapat dilihat sebagai peristiwa alam yang diperburuk oleh perubahan iklim,” kata Christoffersen.

Profesor Andy Shepherd dari University of Leeds mengatakan penurunan keseimbangan massa permukaan sangat memprihatinkan. “Jika itu turun di bawah nol, maka lapisan es tidak lagi layak karena di setiap tahun kehilangan es lebih banyak daripada keuntungan,” katanya.

“Bahkan jika gletser berhenti mengalir, yang tidak akan terjadi, itu berarti bahwa lapisan es masih tidak dapat bertahan,” katanya.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.