Mitigasi Bencana di Selatan Jawa Berkejaran dengan Waktu

Penyampaian mitigasi bencana di 584 desa rawan tsunami di selatan Jawa dibayangi rentetan gempa.

JEDA.ID–Potensi gempa besar di selatan Jawa nyata adanya. Tantangan besarnya adalah seberapa siap ketika gempa atau pun tsunami itu datang? Mitigasi bencana di selatan Jawa seakan berkejaran dengan waktu setelah ada beberapa gempa.

”Bahwa potensi gempa di bagian selatan bukan hoax. Para peneliti, pakar pernah menyampaikan potensi ini dua pekan lalu dan sempat ada kekhawatiran. Ini yang kita hadapi sekarang, gempa bisa terjadi kapan saja,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Doni Monardo di Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8/2019), sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Gempa dengan magnetudo 6,9 yang berpusat di 47 km arah barat daya Sumur, Banten, terjadi Jumat (2/8/2019) malam. Dua orang meninggal dan sekitar 200 rumah rusak akibat gempa itu. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan kemudian dicabut dua jam berselang.

Semua pihak sepakat belum ada teknologi untuk memprediksi gempa. Doni menyebut yang bisa dilakukan adalah menyiapkan warga untuk tanggap dan siap ketika potensi bencana itu terjadi.

Sebagian besar masyarakat khususnya di pesisir selatan Jawa tergolong minim dengan simulasi keselamatan saat gempa. Bukan hanya aparat atau petugas yang menggelar simulasi, namun masyarakat harus terlibat aktif menyiapkan diri. ”Kenapa harus, karena faktanya terdampak langsung keluarga, masyarakat,” ujar Doni.

Gempa di Banten itu bersamaan dengan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami (EDT) 2019 yang dilaksanakan BNPB sejak 12 Juli sampai 17 Agustus 2019.

Bukan Menakut-Nakuti

mitigasi bencana

Jalur evakuasi bagian dari mitigasi bencana terpasang di pesisir selatan Jawa (BNPB)

BNPB berkeliling ke 584 desa di 24 kota/kabupaten dan 5 provinsi yang rawan terhadap ancaman tsunami di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Misi besar dari ekspedisi itu adalah mitigasi bencana di selatan Jawa. Bukan untuk menakut-nakuti, namun sebagai edukasi dan pemecahan solusi.

Penjelajahan dimulai dari Banyuwangi yang pernah tersapu tsunami 1994. Ekspedisi itu berjalan menuju barat hingga berujung di Banten. Simon, mantan nelayan di Desa Tambakrejo, Giritirto, Blitar, Jawa Timur masih ingat dengan tsunami Pancer, Banyuwangi yang menelan lebih dari 200 orang.

”Korbannya bernama Daman, dan itu masih kerabat saya. Dia dulu ditemukan tersangkut di semak tebu dekat muara dalam keadaan meninggal. Dia kena tsunami saat mancing. Sekitar jam 02.00 dini hari,” kenang Simon sebagaimana dikutip dari laman bnpb.go.id.

Di sepanjang pesisir selatan Jawa upaya mitigasi bencana ditanamkan lewat berbagai cara. Di Desa Hadiwarno, Ngadirojo, Pacitan, sosialisasi mitigasi bencana gempa dan tsunami disampaikan lewat pentas seni rakyat.

Pentas berupa teater musikal yang mengusung tema 20:20:20 adalah bagian besar dari edukasi mitigasi bencana. 20:20:20 adalah ”early warning system” bagi masyarakat yaitu golden time dalam penyelamatan diri harus dilakukan dalam 20 menit.

“20:20:20 adalah golden time, tapi intinya itu EWS bagi masyarakat itu sendiri. Jadi intinya kita boleh mengandalkan alat tapi mitigasi yang paling penting tetap pada diri sendiri,” ujar Dianita Agustinawati, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan.

Mitigasi bencana juga berkaitan dengan penyiapan berbagai infrastruktur ketika bencana tiba. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Potensi Desa 2018, di Jawa terdapat 166 desa yang memiliki alat peringatan dini tsunami.

Alat peringatan dini tsunami itu sebagian besar berada di selatan Jawa. Jumlah desa yang memiliki alat peringatan dini tsunami itu belum berimbang dengan desa rawan tsunami di selatan Jawa yang mencapai 584 desa.

Upaya mitigasi bencana juga disiapkan dengan pembuatan peta rendaman bila tsunami besar melanda selatan Jawa. Peta itu disusun para peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).Peta dibuat sangat detaol dengan skala 1:10.000.

Penelitian Tsunami Selatan Jawa

pesisir selatan Jawa

Kawasan pesisir di Besuki, Tulungagung, Jawa Timur (BNPB)

Peta yang akan rampung pada 2020 inilah yang bisa menjadi acuan kuat dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir selatan Jawa. Peta ini memungkinkan pemetaan data dasar ancaman tsunami, termasuk peta daerah yang berpotensi tergenang.

”Supaya bisa untuk merencanakan pengurangan risiko bencana lebih detail lagi, sampai rencana kontingensi dan operasinya bisa diturunkan,” kata peneliti paleotsunami LIPI Eko Yulianto, beberapa waktu lalu.

Eko merupakan salah satu peneliti yang menggali data tsunami masa lalu di selatan Jawa. Tak sekadar melakukan penelitian melalui penggalian deposit tsunami, Eko melacak keberadaan tsunami pada masa lalu melalui kisah-kisah dongeng dan mitos.

Eko menjelaskan mitos Nyi Roro Kidul diyakini adalah metafora pernah terjadi gelombang besar di pantai Selatan Jawa. ”Kalau kita bisa membuka isi pesan, bisa jadi medium penyadaran dan kesiapsiagaan bencana secara mudah untuk masyarakat,” ujar dia.

Pakar tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko, yang pernah mengingatkan tentang potensi gempa megathrust hingga magnetudo 8,8 di selatan Jawa menyebut banyak kajian yang mengonfirmasi tentang gempa besar yang berujung tsunami di di selatan Jawa.

Kajian paleo-tsunami di selatan Jawa mengonfirmasi di wilayah tersebut pernah disapu tsunami setinggi lebih dari 30 meter. Widjo mengatakan wilayah Indonesia berada di antara tiga lempeng bumi yang terus bergerak, yaitu Lempeng Eurasian di Barat Daya, Lempeng Pasifik di Timur Laut, dan Lempeng Indoaustralia di sebelah selatan.

Selain itu, terdapat 16 megathrust yang memiliki potensi menyebabkan gempa bumi besar dan yang dapat memicu tsunami. Dalam kurun waktu 1629 hingga 2018, terdapat lebih dari 12.500 gempa berkekuatan di atas 5 skala Richter, 1.000 gempa di atas 6 skala Richter, dan 230 gempa di atas 7 skala Richter, serta 167 kejadian tsunami.

Peneliti tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Abdul Muhari mengatakan perlu ada upaya mitigasi untuk menghindari dampak besar dari tsunami.

”Namun, upaya mitigasi tidak akan berkelanjutan kalau tidak ada bangkitan ekonomi. Bila perekonomian masyarakat pantai meningkat, mereka akan memelihara upaya-upaya mitigasi tsunami,” kata dia sebagaimana dikutip dari Suara.com.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.