40.587 Desa Selalu Alami Bencana 3 Tahun Terakhir

Bencana yang paling sering dialami adalah banjir di 19.675 desa pada 2015-2017 lalu.

JEDA.ID–Gempa berkekuatan M 7,2 yang melanda Halmahera Selatan, Maluku Utara, Minggu (14/7/2019) menyisakan duka bagi ribuan warga. Enam orang meninggal dan ribuan warga mengungsi. Bencana di Indonesia yang paling sering terjadi adalah gempa.

Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menyebutkan lima korban meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan satu korban meninggal di pengungsian.

”Satu korban meninggal dunia, Saima, 90, warga Nyonyifi meninggal dunia di pengungsian daerah dataran tinggi di Desa Nyonyifi, Kecamatan Bacan Timur,” sebut dia sebagaimana dikutip dari laman BNPB, Rabu (17/7/2019).

Lima korban gempa lainnya adalah Aisyah, 54, asal Desa Ranga-Ranga, Gane Barat Selatan; Aspar Mukmat, 20, warga Desa Gane Dalam, Gane Timur Selatan; Sagaf Girato, 50, warga Desa Yomen, Joronga; Aina Amin, 50, asal Desa Gane Luar, Gane Timur Selatan; dan Wiji Siang, 60, Desa Gane Luar, Gane Timur Selatan.

Agus menyebut bantuan logistik terus mengalir untuk penanganan darurat. BNPB mengirimkan satu unit helikopter Mi-8 untuk mendistribusikan bantuan. ”Selain pengiriman via udara, BNPB telah mengirimkan dukungan logistik melalui kapal. Bongkar muat dari kapal tanker ke kapal yang lebih kecil telah dilakukan,” sebut dia.

Gempa di Halmahera Selatan itu menjadi gambaran hampir separuh penduduk desa, kelurahan, dan unit permukiman transmigrasi/satuan permukiman transmigrasi (UPT/SPT) di Indonesia tinggi di daerah yang kerap mengalami bencana.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Potensi Desa 2018, terdapat 43.344 desa/kelurahan yang tidak mengalami bencana selama tiga tahun terakhir. Jumlah itu, sekitar 51,64% dari total desa, kelurahan, dan UPT/SPT di Indonesia yang mencapai 83.931 unit Sisanya, 40.587 desa/kelurahan atau 48,36%-nya selalu mengalami bencana selama tiga tahun terakhir.

Banjir Paling Sering

Bencana yang paling sering dialami adalah banjir. Bencana ini melanda 19.675 desa pada 2015-2017 lalu. Wilayah terdampak terbanyak bencana banjir adalah Aceh dengan 2.209 desa/kelurahan. Kemudian ada Jawa Tengah dengan 1.452 desa, Jawa Timur 1.422 desa, Jawa Barat 1.185 desa, dan Kalimantan Barat dengan 957 desa.

Tanah longsor menjadi bencana yang juga sering dialami penduduk Indonesia. Total ada 10.426 desa di Tanah Air yang pernah mengalami bencana longsor dalam tiga tahun terakhir. Penduduk Jawa Barat paling banyak terdampak bencana ini yaitu 1.824 desa. Kemudian Jawa Tengah 1.584 desa, dan Jawa Timur 843 desa.

Di urutan ketiga adalah gempa bumi. Guncangan gempa bumi selama 2015-2017, dirasakan 10.115 desa. Terbanyak adalah Aceh di 1.962 desa, Jawa Barat 1.427 desa, dan Sumatra Utara 1.061 desa.

bencana di Indonesia

Warga menjauh dari Gunung Sinabung (Antara)

Selain tiga bencana itu ada pula banjir bandang yang melanda 1.869 desa di Indonesia, tsunami di 12 desa, gelombang pasang yang menerpa 1.806 desa, puting beliung di 7.251 desa, dan gunung meletus di 619 desa. Kemudian kebakaran hutan 4.394 desa dan kekeringan di 8.587 desa.

Banyaknya desa di Tanah Air yang terkena bencana tidak lepas dari tipologi wilayah, selain faktor Indonesia merupakan daerah yang rawan terkena gempa atau tsunami.

BPS mencatat ada 14.969 desa/kelurahan yang berada di lereng/puncak. Ada pula 3.187 desa yang berada di lembah. Dua lokasi ini menjadi daerah yang rawan longsor atau pun banjir. Kemudian ada 66.048 desa yang berada di daratan.

Selain itu, ada 12.857 desa yang berada di tepi pantai. Wilayah ini menjadi daerah rawan terkena tsunami hingga gelombang pasang. BNPB menyebut berdasarkan hasil kajian risiko bencana Indonesia, sebanyak 5.744 desa/kelurahan berada di daerah rawan tsunami (kelas rawan sedang dan tinggi). Wilayah itu tersebar di pesisir di Indonesia di antaranya 584 desa/kelurahan ada di selatan Pulau Jawa.

BNPB pun menggelar Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 mulai 12 Juli 2019 dan akan berakhir pada 17 Agustus 2019. Ekspedisi itu dimulai dari Pantai Boom, Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala BNPB Doni Monardo berharap kegiatan itu kian memantapkan kesiapan warga ketika bencana tiba. ”Curahkan seluruh energi dan pikiran untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan kapasitasnya menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi bencana, khususnya di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa,” kata Doni saat melepas tim EDT 2019 di Banyuwangi sebagaimana dikutip dari laman bnpb.go.id.

Ancaman Tsunami

EDT 2019 akan berkeliling ke 584 desa di 24 kota/kabupaten 5 provinsi yang rawan terhadap ancaman tsunami di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.

Selama ekspedisi, tim EDT akan menyosialisasikan kesiapan menghadapi bencana lewat berbagai cara seperti pembacaan dongeng di sekolah, mitigasi praktis, edukasi bencana di pasar, tempat usaha, hingga napak tilas peristiwa-peristiwa bencana yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Napak tilas ini pula yang dilakukan di Desa Sumberagung, Pesanggrahan, Banyuwangi. Masih lekat dalam ingatan Muhammad Yasin, warga setempat, bagaimana tsunami melanda kawasan itu pada 2 JUni 1994. Kejadian yang terjadi pada dini hari itu menyebabkan 229 orang meninggal.

bencana di Indonesia

Napak tilas tsunami 1994 di Banyuwangi (BNPB)

Banyu lampeg atau tsunami dalam bahasa lokal setempat menerjang saat warga terlelap. Tidak ada peringatan dini, tidak ada persiapan dan pengetahuan yang dimiliki warga pada saat itu. ”Banyu lampeg itu datang begitu cepat. Orang sini masih belum tau apa itu tsunami. Orang kala itu teriak segarane banjir. Korban berjatuhan,” kenang Yasin.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan merasa prihatin karena warga di desa itu masih banyak kelompok rentan dan tidak memiliki pengetahuan mengenai tanggap darurat terhadap ancaman bencana di wilayahnya.

Dua berharap warga yang dekat dengan ancaman bencana harus mendapat pengetahuan agar mereka lebih siap dalam menghadapi ancaman tersebut. “Kalau ada bencana nggak ada korban. Tujuannya itu.Agar masyarakat lebih tangguh,” kata Lilik.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.