Masa Depan Mobil Swakemudi, Bisa Bikin Kemacetan Kian Parah?

Produsen mobil kini sedang berlomba-lomba membuat dan menguji mobil swakemudi. Namun mobil ini diprediksi bisa menimbulkan kemacetan parah di masa depan.

JEDA.ID– Tencent, perusahaan yang mengembangkan game-game populer di smartphone, merilis platform simulasi untuk kendaraan swakemudi. Tencent yang merupakan perusahaan teknologi asal China serius merancang ide untuk pengembangan mobil tanpa sopir.

Tencent merilis TAD Sim 2.0 generasi baru, berupa platform simulasi untuk pengembangan dan simulasi kendaraan swakemudi. Dilansir Antaranewsh dari Xinhua, Selasa (30/6/2020), platform baru Tencent itu memanfaatkan pergerakan data secara nyata melalui teknologi game.

Modul swakemudi Tencent mengusung peta digital terintegrasi yang melibatkan lingkungan sekitar secara dinamis untuk pengujian yang lebih akurat. Dibandingkan versi sebelumnya, TAD Sim 2.0 menampilkan gambar 3D dengan resolusi yang lebih tinggi ditambah simulasi sensor sehingga memberikan pengalaman simulasi yang mendekati kenyataan.

Ada juga teknologi khusus yang dapat menampilkan kondisi cuaca yang sedang berlangsung, kondisi lalu lintas terkini, bahkan dalam kondisi yang ekstrim, berkat penggunaan data uji jalan yang dikemas secara virtual. Menurut Tencent, TAD Sim 2.0 versi cloud bisa dipakai untuk bersimulasi sejauh 10 juta kilometer per hari.

Tencent didirikan oleh Ma Huateng bersama rekannya tencent juga adalah sebuah perusahaan di balik aplikasi WeChat yang mengalahkan posisi Facebook dalam hal nilai valuasi perusahaan. Saham Tencent seperti dilaporkan CNBC berada di posisi HK$439,6 per saham pada Selasa, 21 november 2017, dan sebagai rekor tertinggi.

Tencent adalah perusahaan teknologi dari China yang pertama mencapai nilai valuasinya menyentuh $500 miliar. Tencent memasuki pasar modal pada 2004 yang pada saat itu total nilai valuansinya masih $11 miliar lalu dalam 13 tahun nilai valuansinya meningkat sekitar 48 kali lipat. Tencent didirikan pada 1998, produk pertamanya adalah QQ yang merupakan layanan pesan instan.

Ngemil Bikin Gemuk? Ini Sejumlah Mitos dan Fakta Seputar Kesehatan

Taruhan Tinggi

Pemerintah China bertekad  untuk adopsi besar-besaran teknologi mobil swakemudi tahap awal. Mereka ingin 10 persen dari semua kendaraan baru yang dijual pada 2030 sepenuhnya otonom – artinya mengemudi dengan tangan lepas.

Taruhannya tinggi. Pasar China untuk kendaraan pintar dan terhubung ke internet akan menghasilkan pendapatan 100 miliar yuan (US$15 miliar) pada tahun depan. Teknologi ini merupakan inti dari rencana Buatan China 2025 yang merupakan pusat perang dagang AS-China.

Namun pendekatan China untuk mobil self-driving jauh lebih konservatif daripada dengan kendaraan listrik, sebuah industri di mana ia adalah pemimpin global dalam penjualan.

China berada di belakang, di peringkat 20 dari 25 negara dalam indeks KPMG yang mengukur tingkat kesiapan mereka untuk kendaraan otonom. Belanda menempati urutan pertama dan keempat AS.

Tidak ada peraturan nasional AS, tetapi 41 negara mendukung pengujian kendaraan otonom. Para pemimpin termasuk California, Arizona dan Florida, menurut BloombergNEF. Itu dibandingkan dengan hanya 14 kota di Cina yang memungkinkan pengujian jalan umum.

Tetapi bahkan setelah biaya miliaran dolar dikucurkan untuk penelitian dan pengembangan, teknologi untuk kendaraan otonom masih belum terbukti di AS, dan belum ada yang menghasilkan uang.

Waymo hanya menyebarkan robotaxis di satu pinggiran kota Phoenix, Uber Technologies Inc. telah menghabiskan lebih dari US$1 miliar tanpa rencana yang jelas untuk meluncurkan layanan. Elon Musk baru-baru ini mengatakan teknologi Tesla Inc. akan menghasilkan 1 juta kendaraan di jalan yang sepenuhnya mampu mengemudi sendiri – suatu klaim bertemu dengan skeptisisme.

Memastikan Keselamatan

Di China, pemerintah pusat menetapkan pedoman minimum untuk pengujian. Selain itu pemerintah setempat dapat menambahnya saat mengeluarkan izin. Kota-kota mulai mengeluarkan izin pada Maret 2018, ketika Shanghai memberi SAIC Motor Corp akses ke jalan-jalan pinggiran kota yang terpencil.

Sebagai perbandingan, California telah mengeluarkan izin untuk 63 perusahaan pada Februari 2019. Mereka termasuk Tesla, Volkswagen AG, Toyota Motor Corp – dan 15 penguji yang berbasis di China mengembangkan algoritma dan mengasah perangkat lunak dan sensor.

“Kita tidak bisa duduk dan menunggu untuk bertindak,” kata James Peng, chief executive officer dan salah satu pendiri Pony. “Ketika pemerintah China memahami dengan lebih baik apa yang bisa dicapai oleh teknologi self-driving hari ini sambil memastikan keselamatan di jalan, mereka akan menjadi lebih liberal dan praktis dengan peraturan.”

Penguji terkemuka di China adalah Baidu, yang mencakup sekitar 140.000 kilometer (87.000 mil) di Beijing tahun lalu – kurang dari 1 bulan untuk Waymo. Tidak ada kecelakaan yang dilaporkan. Perusahaan asing seperti Daimler AG dan BMW AG juga menguji, tetapi perbaikan di jalan mereka terbatas.

Saat Dunia Tanpa Euforia…

Proses Izin Rumit

Proses perizinan China sangat rumit, kata Neil Wu, mitra yang berbasis di Shanghai di konsultasi Roland Berger.

Pemerintah lokal mewajibkan setiap mobil untuk mengakumulasi beberapa mil di jalur tertutup dan untuk melewati beberapa tes sebelum memberikan izin jalan umum, dan beberapa kota mengharuskan perusahaan untuk memperbarui izin tersebut setiap 3 bulan.

“Aturan saat ini tentang pengujian jalan umum di China membatasi jumlah data dan jumlah skenario lalu lintas, dua faktor utama untuk peningkatan tingkat kecerdasan robot,” kata Wu.

Bangsa ini juga perlu menyatukan peraturan lalu lintasnya, karena bahkan rambu-rambu dasar dapat berbeda dari kota ke kota, kata Yin Ying, wakil kepala Pusat Penelitian & Pengembangan Beijing Electric Vehicle Co. Pembuat mobil menguji robot di ibu kota.

Baidu, pemilik mesin pencari terbesar China, memiliki izin untuk Beijing, Chongqing, Pingtan, Changsha, Baoding, dan Tianjin pada kuartal keempat tahun lalu, menurut BNEF.

Potensi Kemacetan

Teknologi tak ubahnya dua sisi sebuah uang logam, termasuk dalam pengembangan mobil swakemudi. Di satu sisi, teknologi bisa dipetik manfaatnya. Di sisi lain,  pengembangan teknologi bisa menimbulkan dampak yang tidak selalu positif atau bahkan menimbulkan masalah baru.

Pengertian ini selaras hasil penelitian Adam Millard-Ball, profesor studi lingkungan di University of California, Santa Cruz, Amerika Serikat. Dikutip dari The Week, ia mengupas soal kendaraan swakemudi dalam relasinya dengan kemacetan di jalan raya.

Hasilnya cukup mengejutkan, bahwa mobil swakemudi alias kendaraan otonom ini berpotensi menyebabkan kemacetan parah, bila terus-menerus dijalankan dari satu lokasi ke lokasi lain demi menghindari tarif parkir! Pasalnya, biaya untuk parkir bisa ditekan, dengan “taktik” membiarkan tunggangan tanpa driver ini terus bergerak.

Dikutip The Week dari situs berita teknologi Digital Trends, tunggangan berupa mobil swakemudi “bisa terus meluncur setelah penumpangnya turun”. Sementara saat dibutuhkan lagi, cukup dipanggil lewat aplikasi smartphone.

Dengan memadukan teori permainan atau studi tentang pengambilan keputusan yang bisa memengaruhi orang lain, serta model simulasi lalu-lintas kompleks, Adam Millard-Ball menyatakan hanya dibutuhkan 2.000 mobil swakemudi untuk memperlambat lalu-lintas San Francisco hingga mencapai kecepatan rata-rata kurang dari tiga kilometer per jam. Hal ini diungkap MIT Technology Review menuliskan salah satu temuan sang profesor tentang perlambatan lalu-lintas akibat mobil swakemudi.

7 Langkah Kendalikan Kecemasan dan Tips Sederhana untuk Bahagia

Biaya Parkir

Sementara di sisi lain, Adam Millard-Ball menambahkan bahwa biaya parkir yang tinggi telah mendorong pengguna mobil untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan angkutan umum. Dengan hadirnya kendaraan swakemudi, kebiasaan menggunakan mobil akan kembali lagi.  “Bila memperhitungkan listrik, biaya perawatan sampai jelajah, lebih murah terus mengoperasikannya daripada diparkir,” ujar Adam Millard-Ball,

Solusi yang diberikannya adalah: kota-kota yang warganya menggunakan kendaraan swakemudi hendaknya menggodok peraturan tentang biaya kemacetan, serta kewajiban memarkir kendaraan swakemudi setelah digunakan.

Biaya kemacetan tadi, bisa didasarkan pada lamanya waktu mobil swakemudi berada di ruas jalan raya, dalam kondisi parkir atau bergerak, serta biaya jarak tempuh saat melaju tanpa penumpang.

Bila hal ini tak dilakukan, Adam Millard-Ball menyatakan kekhawatirannya: alih-alih teknologi otomotif mutakhir, yang ada malah mimpi buruk akibat terjadi kemacetan total.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.