Saat Dunia Tanpa Euforia…

Euforia juga tak ada di bangku-bangku sekolah atau kampus. Mereka yang lulus tahun ini, mereka yang wisuda tahun ini, akan lebih mengingat masa yang mungkin tak akan berulang sepanjang usia mereka.

JEDA.ID–Lebaran berlalu. Tanpa tangisan-tangisan yang menyentuh dari jemaah perempuan saat salad Idul Fitri, atau saat bertemu karib kerabat yang lama tak bertemu. Biasanya pada momen monumental tahunan seperti itu, orang teringat pada kedirian masing-masing. Kekurangan diri. Kehilangan diri.

Bagi yang tahun ini kehilangan anggota keluarga, sekali lagi tangis itu pecah. Lebaran tahun ini, ayahanda atau ibunda, tak lagi menyertai mereka. Karena ayahanda atau ibunda, atau siapapun yang terkasih, sudah berpulang. Tapi itulah. Lebaran tahun ini, tanpa tangis-tangis itu. Mungkin hanya air mata keharuan.

Pandemi Covid-19 yang membuat peluk, cium, dan segala sentuhan sebagai hubungan terlarang, rasanya menjadi garis penahan keluarnya emosi hati yang meluap-luap. Jabat tangan, pelukan, sekadar cipika cipiki, entah kapan lagi diperbolehkan.

Lebaran tahun ini pun, tanpa gelombang manusia yang meluru jalan pulang ke kampung halaman masing-masing alias mudik. Tak ada lonjakan kendaraan di jalan raya, di lautan, maupun di udara. Tiket-tiket kereta yang yang sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan harus dikembalikan. Mereka yang hendak pulang menengok emak dan bapak mereka, diminta putar haluan, kembali ke titik tempat mereka berangkat. Sebagian ada yang nekat bersembunyi di antara tumpukan barang, demi mencuri kesempatan untuk pulang.

Kemenhub Bantah Akan Atur Pajak Sepeda, Ini Sederet Sepeda Mahal di Indonesia

Generasi Rebahan

Musim liburan pun berlalu tanpa bepergian, tanpa kesan. Pantai-pantai yang mengundang kaki untuk bermain di kecipak airnya. Gunung-gunung tinggi yang mengundang hasrat hati untuk mendakinya. Museum-museum yang yang menawarkan kehangatan sejarah. Bahkan segala macam tempat umum, tempat bermain anak, food court yang riuh dengan kuliner, penganan disertai alunan musik nan menghibur, semuanya tak lagi sama. Secara fisik semuanya memungkinkan. Tetapi bahaya laten virus korona baru membuatnya sebagai antara ada dan tiada.

Euforia juga tak ada di bangku-bangku sekolah atau kampus. Mereka yang lulus tahun ini, mereka yang wisuda tahun ini, akan lebih mengingat masa yang mungkin tak akan berulang sepanjang usia mereka. Siswa yang lulus tahun ini, baik sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), maupun sekolah menengah atas (SMA), dinyatakan lulus tanpa ujian dari negara.

Mereka adalah generasi rebahan yang “memakan” kuota Internet dari kamar-kamar mereka, yang saling jail dan saling menyapa dengan sebaya mereka melalui media sosial. Para analis sosial sampai khawatir, jika kondisi ini berlama-lama, anak-anak ini akan memahami konteks kehidupan sosial secara benar-benar berbeda. Tanpa sentuhan, tanpa jabat tangan, hanya bersapa di dunia maya. Dan itu sungguh berbeda.

Bagusnya, tahun ini tak ada arak-arakan anak muda tanggung yang mengusik jalanan dengan seragam SMA yang dicoret-coret. Mereka mungkin tahu diri. Buat apa merayakan kelulusan, wong mereka lulus tanpa ujian. Walaupun ada juga segelintir anak muda yang memaksakan diri. Tapi tetap saja mereka kehilangan alasan untuk bereuforia.

Kemenangan The Reds

Bagi yang tahu, kenal, atau hobi dengan sepak bola, pasti tahu belum lama ini ada sejarah besar yang tercipta di Inggris sana. Liverpool, yang sudah 30 tahun tidak juara, tahun ini akhirnya juara. Ini bukan prestasi kaleng-kaleng. The Reds, julukan klub itu, tahun lalu sebenarnya membuat prestasi lebih gemilang: juara Liga Champions. Namun penantian panjang 30 tahun membuat klub yang terakhir juara pada tahun 1990 itu, membuat gelar England Premier League ini lebih bersejarah. Apalagi mereka juara dengan raihan angka jauh meningalkan para pesaingnya.

Para pemain The Reds dan Liverpudlian, julukan suporter mereka, tak bisa lagi turun ke jalan, berpesta, berjingkrak, menari-nari sepanjang malam sambil menyanyikan lagu kebanggaan mereka yang termasyur itu, You Will Never Walk Alone. Tak ada pesta seperti itu di jalanan, tak ada parade juara di atas bus terbuka, taka ada euforia. Bahkan para pemain di lapangan dan ofisial menyempatkan mengheningkan cipta setiap menjelang pertandingan, demi menghormati mereka yang berpulang karena Covid-19. Belakangan malah ditambah satu ritual lagi, menginjakkan satu lututnya di rumput lapangan sebagai bagian penghormatan dan kampanye Black Lives Matter.

Pertandingan sepak bola pun tak lagi sama. Adu skill, adu kuat, dribbling brilian, gerak tipu yang cantik, dan gol-gol spektakuler, rasanya hambar. Tak ada tepuk riuh dari ribuan atau puluhan ribu suporter. Sepakbola seperti kehilangan sebagian kemanusiaannya. Tanpa greget, tanpa euforia. Dan sayang sekali, tahun ini tak ada ibadah haji bagi warga muslim dari luar Arab Saudi. Mereka yang sudah merindu bertahun atau berpuluh tahun, tahun ini tak bisa pergi ke Tanah Suci. Entah tahun depan, jika mereka ada umur. Tak ada euforia spiritual yang menjadi puncak cita-cita mereka sampai ke sumsum tulang.

Ngemil Bikin Gemuk? Ini Sejumlah Mitos dan Fakta Seputar Kesehatan

Pilkada

Pada 9 Desember 2020 nanti, akan dilangsungkan pemilihan kepala daerah atau pilkada. Tahapannya sudah dimulai pekan-pekan ini dengan mengaktifkan infrastruktur organisasi penyelenggara pilkada. Sudah pasti tak aka ada kerumunan massa yang berkampannye. Tak boleh lagi ada arak-arakan massa dengan segala macam tingkah polah mereka.

Dan entah apa dan bagaimana yang akan terjadi jika sampai menjelang 9 Desember nanti ternyata jumlah mereka yang positif terinfeksi virus ini semakin melonjak tajam. Who knows? Keputusan politis, keputusan orang-orang, bahkan keputusan orang yang paling berkuasa di bumi pun, pada akirnya tak akan mampu menghadang serbuan virus super mini yang tak kasat mata ini.

Sampai dengan Minggu (28/6/20), menurut catatan worldometers.info, jumlah orang yang terinfeksi virus korona baru di seluruh dunia sudah menyentuh angka 10 juta jiwa, dari 214 negara di dunia. Atau tepatnya 10.074.567 orang terjangkit, 500.625 orang meninggal, 5.452.087 orang sembuh.

Memang wabah masih jauh dari kata akhir. Tetapi keputusan sudah diambil, kita harus hidup “berdamai” dengan kondisi ini. Sebagian besar orang memilih kembali bekerja dan beraktivitas berdampingan dengan virus yang enah dibawa oleh siapa yang berada di antara mereka. Semuanya dengan protokol kesehatan yang harus ditaati, dengan kenormalan baru atau kewarasan baru. Yang nekat masuk kantor tanpa masker, artinya tidak memenuhi norma kewarasan baru itu.

Segalanya akan makin berat jika semakin banyak orang tidak peduli dengan tata cara kenormalan baru ini. Ya, orang lantas mengingat kembali Ketuhanan dengan caranya masing-masing. Orang lalu melihat kemanusiaan pada dirinya masing-masing. Ada yang mengambil pelajaran dan tetap memotivasi diri. Ada pula yang makin terpuruk, stress, dan putus harapan.

Memang, dunia tak lagi sama. Sejak wabah ini menyebar ke seluruh penjuru dunia, melalui perantaraan manusia ke manusia. Tak sedikit simpul kehidupan yang berguguran: sejumlah bisnis runtuh, sejumlah profesi jatuh. Sampai vaksin untuk mengobati virus ini ditemukan, dunia belum akan kembali ke bentuknya yang semula. Kita masih menunggu euforia….

Ditulis oleh : Suwarmin

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.