Antara Tradisi Chunyun saat Imlek dan Mudik ketika Lebaran

Saat Chunyun jutaan masyarakat Tiongkok mudik ke kampung halaman untuk merayakan Imlek dan pemerintahnya pun sangat siap menghadapi tradisi itu.

JEDA.ID–Bila Indonesia punya tradisi mudik saat Lebaran, China punya tradisi Chunyun saat ketika Imlek. Chunyun bahkan disebut-sebut sebagai pergerakan manusia terbesar karena melibatkan jutaan orang.

Chunyun memiliki arti periode perpindahan saat festival musim semi. Periode chunyun biasanya dimulai dari 15 hari sebelum Imlek. Di China biasanya perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari. Namun rangkaian hari libur selama chunyun bisa mencapai 40 hari.

Ini menjadikan Chunyun saat Imlek sebagai hari libur panjang di Tiongkok. Banyak orang melakukan mudik 15 hari sebelum Imlek. Itu belum termasuk periode arus balik yang juga memakan banyak waktu.

Tradisi Chunyun tidak hanya terjadi di China, namun juga berkembang di beberapa negara lainnya misalnya Taiwan, Korea Selatan dan Vietnam.

Cerita di Balik Peternak Babi Jadi Orang Terkaya China

Ketika Chunyun, orang-orang China pulang kampung untuk Festival Musim Semi Tahun Baru Imlek dengan keluarganya. Pada 2020, Chunyun dimulai pada 10 Januari dan akan berakhir pada 18 Februari.

Sebagaimana dikutip dari Detikcom, Jumat (24/1/2020), sekitar 3 miliar perjalanan diperkirakan akan terjadi selama periode Chunyun 2020. Itu sedikit meningkat dari angka tahun sebelumnya yakni sebesar 2,99 miliar perjalanan.

Dari jumlah di atas, 2,43 miliar perjalanan akan dilakukan menggunakan mobil (1,2% lebih sedikit dari tahun lalu), 440 juta dengan kereta api (naik 8%), 79 juta melalui udara (kenaikan 8,4%), dan 45 juta melalui laut (9,6 % meningkat). Angka yang mengejutkan tapi China sudah mengantisipasinya.

Infrastruktur Transportasi

Chunyun

Kereta api jadi mod tarnsportasi andalan saat Chunyun di China (Reuters)

Menjelang Chunyun saat Imlek, Kantor Informasi Dewan Negara China membeberkan langkah-langkah khusus penanganan Festival Musim Semi. Urusan transportasi, China membanggakan jaringan kereta api terbesar di dunia.

Negara ini telah membangun jalur sepanjang 8.489 kilometer hingga 2019. Itu termasuk 5.474 kilometer jalur kereta berkecepatan tinggi. Kereta api kecepatan tinggi Beijing-Zhangjiakou dengan kereta peluru tanpa pengemudi dan kereta kecepatan tinggi Chengdu-Guiyang adalah dua jalur yang jadi sorotan.

Ada 5.275 kereta yang akan beroperasi per hari sebelum liburan Tahun Baru Imlek dan sebanyak 5.410 beroperasi setelahnya. Sebanyak 157 kereta berkecepatan tinggi disiagakan dan beroperasi pada malam hari selama periode puncak.

Kekurangan tiket di rute-rute tertentu telah diatasi. Teknologi baru akan berperan dalam mengurangi kepadatan di stasiun, jalan raya, dan bandara. Lebih dari 1.000 stasiun kereta di China telah dipasangi sistem check-in e-tiket untuk mempercepat prosesnya.

Transportasi udara juga bersiap menghadapi kenaikan penumpang saat Chunyun. Bandara di China telah menjadwalkan setidaknya 17.000 penerbangan setiap hari.

Sosok 5 Firaun Wanita yang Melegenda

Kepala Insinyur Kementerian Transportasi, Wang Yang, mengatakan sekitar 790.000 bus dan 19.000 kapal akan digunakan untuk mengangkut pemudik. Sepanjang 330.000 kilometer jalan raya telah dibangun dan diperluas.

Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional Nanchang University, Jiangxi, China, Ahmad Syaifuddin Zuhri, dalam artikel berjudul Relasi Tradisi Tionghoa dan Diaspora di Dunia yang dimuat di Solopos pada Maret 2015 menyebutkan tradisi Chunyun adalah agenda yang sangat sakral dan penting bagi warga Tionghoa.

”Demi merayakannya, jutaan masyarakat Tiongkok mudik ke kampung halaman untuk merayakan bersama dengan orang tua dan sanak famili. Sambil berkumpul dengan keluarga melihat dan meletakkan lampion-lampion merah yang ditaruh didepan rumah, jalanan atau diterbangkan sambil makan makanan sejenis wedang ronde.”

Dia menyebutkan tidak ada kenaikan harga tiket ataupun kemacetan parah seperti terlihat di Indonesia ketika musim mudik Lebaran tiba. Semua harga tiket normal, bahkan harga tiket pesawat banyak promosi dan bisa hampir setengah dari harga normal.

”Pemerintah Tiongkok benar-benar memfasilitasi warga yang akan mudik Imlek secara maksimal. Mereka sangat menyadari bahwa pelayanan prima adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.”

Diaspora China

Chunyun

Warga China akan pulang ke kampung halaman saat Imlek (Reuters)

Tradisi Chunyun ini juga melibatkan diaspora Tionghoa dari berbagai negara. Peran mereka juga memengaruhi kemajuan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Mereka banyak berkontribusi terhadap tanah leluhurnya.

Pada 2015 lalu, diperkirakan mereka mengontrol aset likuid sekitar US$1,5 milia-US$2 miliar. Dia pun menyebut kekuatan jaringan diaspora dan kecintaan akan tanah leluhurnya inilah yang menjadi salah satu penyebab Tiongkok saat ini menjadi negara yang tingkat kemajuannya paling pesat di dunia.

Tradisi Suku Wodaabe: Kontes Ketampanan Lantas Mencuri Istri Orang

Lantas bagaimana dengan mudik Lebaran di Indonesia? Dihimpun dari berbagai sumber awalnua antara mudik dan Lebaran tidak memiliki kaitan. Mudik dalam bahasa Jawa ngoko berarti mulih dilik yang berarti pulang sebentar.

Kini mudik lebih dikaitkan dengan kata udik yang artinya kampung, desa, atau lokasi yang menunjukan antonim dari kota. Kata mudik berkembang menjadi mulih udik yang artinya kembali ke kampung atau desa saat Lebaran tiba.

Disebutkan tradisi mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah berjalan sejak sebelum zaman Kerajaan Majapahit.

Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Mudik Era 1970-an

mudik Lebaran

kemacetan saat mudik Lebaran (indonesia.go.id)

Istilah mudik Lebaran baru berkembang pada 1970-an. Ketika itu, Jakarta tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat.

Bagi penduduk yang tinggal di desa, Jakarta menjadi salah satu kota impian untuk mengubah nasib. Para warga desa berbondong-bondong ke Jakarta.

Libur Lebaran menjadi momentum yang tepat untuk pulang kampung hingga akhirnya mudik Lebaran lekat hingga saat ini. Terakhir pada 2019, diperkirakan ada 23 juta orang yang melakukan mudik Lebaran.

Salah satui tantangan terbesar dari mudik Lebaran adalah kemacetan. Dalam beberapa tahun terakhir, masalah kemacetan sedikit teratasi dengan terhubungnya tol Trans-Jawa.

Potret Ruas Jalan Tol Terpanjang dan Terpendek di Indonesia

Namun, pertumbuhan kendaraan yang terus terjadi menjadikan masalah kemacetan termasuk juga infrastruktur transportasi menjadi masalah berulang yang akan hadir setiap tahun.

Hampir sama dengan tradisi Chunyun di China, mudik Lebaran juga akan memberikan dampak ekonomi di daerah. Aktivitas mudik Lebaran akan menciptakan perputaran uang yang begitu besar dan cepat.

Puluhan triliun rupiah berpindah tangan dari kota ke kota, dari kota ke desa-desa dan perkampungan kecil. Dikutip dari artikel di laman Fiskal Kemenkeu disebutkan dalam pendekatan teori ekonomi, fenomena seperti ini disebut sebagai redistribusi ekonomi atau redistribusi kekayaan.

Pendorong Ekonomi

Pemudik di Indonesia

Pemudik di Indonesia (JIBI)

Tradisi mudik menciptakan redistribusi ekonomi dari kota besar, khususnya Jakarta ke daerah-daerah yang pada gilirannya bisa menstimulasi aktivitas produktif masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

6 Kota di Luar Jawa akan Disulap Jadi Metropolitan

Tradisi mudik juga berpengaruh positif pada keberadaan infrastruktur. Tak jarang, datangnya aktivitas mudik mengharuskan pemerintah memperbaiki dan menambah kondisi infrastruktur yang ada, mulai dari pembangunan jalan darat, rel kereta api, jembatan, bandar udara, hingga pelabuhan laut.

Kemudian aktivitas mudik Lebaran juga menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yakni melalui peningkatan konsumsi. Ini terjadi karena begitu besarnya jumlah pemudik yang mencapai puluhan juta orang.

”Pada hakikatnya, mudik Lebaran tetap mempunyai pengaruh positif, baik bagi pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional. Apalagi, bila dikelola secara lebih baik, niscaya potensi manfaat dan nilai tambah tradisi mudik ini akan jauh lebih besar dari selama ini.”

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.