Tutup Iklan

Vaksin Corona Bisa Turunkan Angka Kematian Hingga 87 Persen di AS

Meski sudah ada vaksin, protokol kesehatan tetap harus dilakukan selama berbulan-bulan.

JEDA.ID-Program pemberian vaksin Covid-19 bisa turunkan angka kematian hingga 87 persen di Amerika Serikat (AS). Syarat turunkan angka kematian tersebut bisa tercapai jika 40 persen populasi telah divaksin.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal medRxiv memprediksi infeksi baru virus corona di Amerika Serikat akan dipangkas lebih dari empat kali lipat dalam satu tahun apabila 40 persen dari populasi di negara itu divaksinasi.

Kata penulis studi, Meagan Fitzpatrick, dengan demikian rawat inap dan kematian akibat Covid-19 juga akan diminimalisir apabila 40 persen populasi divaksinasi. Setidaknya rawat inap di ICU dan non-ICU akan turun lebih dari 85 persen. Sementara itu pemberian vaksin akan turunkan angka kematian  lebih dari 87 persen dibandingkan dengan skenario selama setahun tanpa vaksinasi.

Berapa Kali Orang Perlu Disuntik Vaksin Covid-19 Supaya Kebal?

“Strateginya sekarang adalah mencoba memberikan vaksin ini ke sebanyak mungkin orang,” kata asisten profesor dan pemodel penularan penyakit menular di Universitas Maryland itu seperti dilansir dari Live Science dan ditulis Bisnis.com, Kamis (10/12/2020).

Studi tersebut menunjukkan bahwa memvaksinasi 40 persen populasi secara substansial mengurangi jumlah kasus, rawat inap, dan kematian akibat Covid-19. Penurunan paling dramatis terjadi pada orang yang berusia 65 tahun ke atas, yang mengalami penurunan kasus potensial 83 persen hingga 90 persen.

Orang yang berusia 20 tahun ke bawah, setengahnya mengalami infeksi baru, meskipun tidak seorang pun di bawah 18 tahun yang divaksinasi. Dengan kata lain, sementara orang dewasa yang lebih tua mendapat perlindungan langsung dari vaksin, orang dewasa muda dan anak-anak secara tidak langsung terlindungi karena kekebalan meningkat di masyarakat luas.

Setelah melihat dampak dari 40 persen tingkat vaksinasi, penulis menguji apa yang akan terjadi dengan hanya 20 persen populasi yang divaksinasi. Sekali lagi, model tersebut memprioritaskan memvaksinasi mereka yang berisiko tinggi terpapar dan sakit parah. Bahkan dengan cakupan vaksin yang rendah, rawat inap non-ICU turun hingga 60 persen, rawat inap di ICU sebesar 62 persen dan kematian lebih dari 64 persen.

“Ini menunjukkan bahwa, ketika vaksin mulai diluncurkan, kita mungkin mulai melihat dampak positifnya bahkan sebelum banyak orang mendapatkan suntikan,” sebut Fitzpatrick.

Sejauh ini, menurut analisis awal, dua kandidat vaksin yakni Moderna dan Pfizer diklaim lebih dari 94% efektif dalam mencegah Covid-19. Fitzpatrickmenyebut tingkat kemanjuran itu berpotensi memberikan dampak yang sangat besar.

Diare Akut bisa Jadi Tanda Covid-19, Simak Penjelasannya

Dalam model mereka, penulis penelitian berasumsi bahwa orang dengan risiko tertinggi terpapar Covid-19 dan kematian akan menerima vaksin terlebih dahulu. Ini termasuk sebagian besar dari semua petugas medis, orang dengan komorbid, dan individu yang berusia 65 tahun ke atas.

Selain itu, penulis berasumsi bahwa 10 persen populasi telah terjangkit Covid-19 dan mengembangkan kekebalan alami terhadap virus tersebut. “Sepuluh persen wajar, tetapi mungkin terlalu rendah di beberapa tempat di mana jumlah kasus sangat tinggi,” ujar Stanley Perlman, seorang profesor mikrobiologi dan imunologi di University of Iowa, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Sementara penelitian tersebut menyoroti kekuatan dan janji vaksin Covid-19, Perlman menilai protokol kesehatan tetap harus dilakukan selama berbulan-bulan. “Membuka restoran dan memungkinkan pertemuan massal perlu dilakukan dengan sangat hati-hati sampai tingkat vaksinasi tinggi,” katanya.

Jika ada, upaya pelacakan kontak juga harus ditingkatkan saat vaksin diluncurkan, sehingga pejabat kesehatan dapat dengan cepat melihat wabah baru dan mengidentifikasi komunitas yang harus diprioritaskan untuk vaksinasi.

Terbaru, Urutan Gejala Covid-19 dari Hari Pertama hingga Hari ke-27

Berdasarkan dokumen anyar dari Food and Drug Administration (FDA), vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech mulai melindungi orang dari virus corona 10 hari setelah dosis pertama diberikan.

Dilansir dari Live Science, Rabu (9/12/2020), dokumen tersebut dirilis beberapa hari sebelum pertemuan panel penasihat vaksin FDA dengan Pfizer, yang akan memberikan hasil apakah mereka akan merekomendasikan otorisasi penggunaan vaksin di Amerika Serikat.

Satu Dosis Memberikan Perlindungan

FDA menganalisis data dari uji klinis fase 3 Pfizer, yang melibatkan sekitar 44.000 orang di berbagai negara. Sekitar setengah dari mereka menerima vaksin dan yang lainnya menerima plasebo, dengan dua suntikan berinterval 21 hari.

Sekitar 10 hari setelah dosis pertama, ada penurunan nyata dalam kasus Covid-19 baru pada kelompok vaksin dibandingkan dengan kelompok plasebo, yang menunjukkan bahwa satu dosis memberikan perlindungan.

Namun demikian, menurut laporan dari The New York Times, para ilmuwan tidak tahu berapa lama perlindungan dari satu dosis itu akan bertahan, jadi tetap penting bagi masyarakat untuk menerima dua dosis suntikan vaksin.

Adapun, laporan yang dirilis dari FDA itu menunjukkan secara keseluruhan vaksin Covid-19 dar Pfizer dan BioNTech 52 persen efektif setelah suntikan dosis pertama dan 95 persen efektif setelah dosis kedua.

Dokumen baru itu juga memberikan informasi lebih lanjut tentang efek samping vaksin. Pakar FDA mengatakan tidak ada masalah keamanan khusus yang akan mencegah pejabat untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin.

Hasil Survei: Punya Akun Anonim untuk Jaga Reputasi di Medsos

Sekitar 84 persen peserta melaporkan nyeri di tempat suntikan, 63 persen melaporkan kelelahan, 55 persen sakit kepala, 38 persen nyeri otot, 32 persen menggigil, 23 persen nyeri sendi, dan 14 persen melaporkan demam.

Efek samping ini lebih umum terjadi setelah dosis kedua diberikan ketimbang dosis pertama. Akan tetapi, laporan itu menyebut efek sampingnya hanya berlangsung sebentar, sekitar satu sampai dua hari.
Times melaporkan bahwa mengingat efek samping yang tidak menyenangkan tersebut, beberapa orang mungkin perlu mengambil cuti untuk beristirahat satu hari setelah menerima dosis vaksin kedua.

Ada beberapa saran bahwa vaksin juga akan bermanfaat bagi orang yang sudah terjangkit Covid-19 dengan mengurangi kemungkinan mereka terinfeksi kembali, tetapi masih terlalu sedikit data yang dimiliki untuk menghasilkan kesimpulan tersebut.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.