Sebagian Penderita Skizofrenia Masih Dipasung

Jika penderita skizofrenia tidak mencapai pemulihan sempurna, penderita skizofrenia akan terus bertambah.

JEDA.ID–Kejadian mengamuknya Haedar, anak tertua Elvy Sukaesih, di sebuah warung menjadi sorotan. Haedar diketahui penderita skizofrenia atau mengalami gangguan mental.

Fitria Sukaesih, anak kedua Elvy Sukaesih, mengatakan Haedar dalam tahap pengobatan. Akibat gangguan mental skizofrenia itu pula, Haedar sering mengkhayal tentang kesuksesan.

Dia menyebut Haedar menderita skizofrenia karena depresi berat setelah ditinggal oleh anaknya. Sebelumnya, anak sulung Elvy Sukaesih juga mengalami stroke berkali-kali.

”Sempat dirawat terus dinyatakan sehat. Cuma kan yang seperti itu enggak terlepas dari obat,” ungkap Fitria Sukaesih sebagiamana dikutip dari Suara.com, Senin (16/9/2019).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penderita skizofrenia di Indonesia cukup banyak. Dari data terakhir, 6-7 keluarga dari 1.000 keluarga di Indonesia ada yang menderita skrizofrenia.

Penderita skizofrenia lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan. Kemenkes menyebutkan 7 keluarga dari 1.000 keluarga ada yang anggota keluarganya jadi penderita skizofrenia. Sedangkan di perkotaan kasusnya 6,4 permil alias per 1.000 keluarga.

Mengkhawatirkannya, sebagian penderita skizofrenia ditangani dengan cara dipasung. Ada 14% penderita skizofrenia yang dipasung selama seumur hidup. Jumlahnya penderita skizofrenia yang dipasung lebih banyak di desa dibandingkan di kota.

Ada juga yang dipasung dalam tiga bulan terakhir. Sekitar 31,5% orang yang menderita skizofrenia pernah mengalami ini. Kemenkes menyatakan skizofrenia merupakan penyakit jiwa berat.

”Sering kali berlangsung kronis dengan gejala utama berupa gangguan proses pikir. Akibatnya, pembicaraan sulit dimengerti dan isi pikir tidak sesuai realita [delusi/waham].  Gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif, yaitu 15-25 tahun,” sebagaimana tertulis di laman Kemenkes.

Para ahli jiwa meminta agar masyarakat perlu mengenali gejala serta terapi skizofrenia sedini mungkin supaya bisa meningkatkan probabilitas pemulihan sempurna (recovery). Jika orang dengan skizofrenia tidak mencapai pemulihan sempurna, penderita skizofrenia akan terus bertambah.

Sampai saat ini sebagian besar dari penderita gangguan jiwa dan keluarganya belum berinisiatif atau berkesempatan mendapatkan pengobatan yang tepat. Bahkan tidak sedikit yang dipasung padahal itu tidak manusiawi.

Penyebab Skizofrenia

penderita skizofrenia

Dua penderita skizofrenia ditangani tenaga medis setelah dilepaskan dari pasungan (Solopos)

Sebagaimana dikutip dari Suara.com, penyebab skizofrenia belum jelas sampai sekarang. Beberapa teori penyebab penyakit ini meliputi genetika, kelainan pada struktur atau kimia otak, infeksi virus dan gangguan kekebalan tubuh.

Dalam kasus genetika, para ilmuwan mengakui bahwa kelainan cenderung terjadi dalam keluarga dan seseorang mewarisi kecenderungan untuk mengembangkan penyakit. Skizofrenia dapat muncul ketika tubuh mengalami perubahan hormon dan fisik.

Para ilmuwan percaya orang dengan skizofrenia memiliki ketidakseimbangan bahan kimia otak atau neurotransmitter dopamin, glutamat, serotonin. Neurotransmitter ini memungkinkan sel-sel saraf di otak untuk saling mengirim pesan.

Ketidakseimbangan bahan kimia inilah yang memengaruhi otak seseorang berekasi terhadap rangsangan. Lalu menjelasakan penyebab seseorang dengan skizofrenia kewalahan oleh informasi sensorik.

Beberapa penelitian menunjukkan masalah dengan pengembangan koneksi dan jalur di otak ketika di dalam rahim dapat menyebabkan skizofrenia.

Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Rai Wiguna menjelaskan awalnya banyak penderita skizofrenia yang dipasung, serta tidak ada penanganan yang sistematis.

Kemudian ia berinisiatif membentuk komunitas konsumen, yang beranggotakan orang dengan skizofrenia dan anggota keluarganya sekaligus.

Mereka diajak bicara, mendiskusikan dan menceritakan apa yang mereka alami dan rasakan. Mereka juga yang diminta untuk memberikan solusi dengan fasilitasi dari para sukarelawan.

”Kemudian penderita skizofrenia dan keluarga berupaya berdaya datang 2 minggu sekali, ke rumah berdaya, bertemu, berdiskusi, berkarya memberi solusi dari masalah yang ada dirumah masing- masing keluarga,” ujar Rai di laman Kemenkes.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.