Berdampak Buruk pada Kejiwaan, Setop Labeling Anak

Memberikan julukan buruk atau biasa disebut labeling pada anak merupakan tindakan yang bisa berdampak buruk pada psikologis tapi juga masa depan mereka.

JEDA.ID—Memberikan julukan buruk atau biasa disebut labeling pada anak merupakan tindakan yang bisa berdampak buruk pada psikologis tapi juga masa depan mereka.

Masa kanak-kanak merupakan masa keemasan untuk membentuk kepribadian seseorang ketika dewasa kelak. Masa kecil harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan dan paling indah dalam hidup. Mereka seharusnya dilindungi dan dibimbing dengan kasih sayang untuk menjadi generasi yang tanggguh dan berhati mulia.

Tapi tak semua anak beruntung mendapat masa kecil yang bahagia. Akun dengan username @***tan*ie* membagikan kisah viral tentang anak yang dikecam oleh sebagian besar netizen.

“Tetanggaku anak kelas 3 SD biasanya dapet ranking tbtb [tiba-tiba] nilainya anjlok. Ditanyain sama psikiater di sekolahnya terus dia jawab,’untuk apa nilai saya bagus, keluarga saya juga gak bangga. saya cuma anak haram ustazah,'” tulis akun tersebut seperti dilansir detik.com, Selasa (13/8).

Sedihnya, bocah tersebut memang telah ditinggal oleh sang ayah sejak kecil sehingga keluarganya kerap menyinggung dengan menyematkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan dan diperdengarkan untuk anak.

Kisah viral bocah yang enggan belajar karena kerap diejek ‘anak haram’ oleh familinya membuat masyarakat geram. Sebab seorang anak harusnya diberikan kasih sayang dan perlindungan, bukan dihujani dengan kata-kata yang tak pantas.

Tak hanya netizen, Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek juga memberikan komentarnya. Ia sungguh menyayangkan jika ada sekelompok orang yang tega melontarkan umpatan pada anak-anak. “Eh, jangan dong ngatain begitu. Ada-ada saja, jangan. Jangan,” tegas Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, saat dijumpai di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa.

Menkes Nila menuturkan, tak hanya persoalan kesehatan fisik, masalah kejiwaan pun patut menjadi perhatian khusus. Tanpa disadari, angka kesakitan jiwa di Indonesia kian naik yang menyebabkan prevalensi depresi ikut meningkat. Jika sejak kecil anak sudah dibebani stres, tak menutup kemungkinan ketika mereka dewasa masalah kesehatan jiwa seperti depresi bahkan gangguan jiwa berat misalnya skizofernia bisa mereka alami.

Berhati-Hati

Melansir laman acpeds.org, ada beberapa alasan mengapa orang tua, keluarga, dan lingkungan tidak sepantasnya memberi label yang buruk pada anak.

1. Pelabelan mengubah cara anak melihat diri sendiri

Labeling yang dilakukan keluarga terutama orang tua dan juga lingkungan termasuk guru atau teman-teman kepada seorang anak, dapat berdampak panjang pada bagaimana anak memandang dirinya sendiri. Pada 1902, ilmuwan sosial Charles Horton Cooley mengembangkan gagasan tentang “diri yang tampak seperti kaca”, yang menjelaskan, sebagian besar konsep-diri dikembangkan oleh bagaimana kita berpikir orang lain memandang kita. Saat orang tua mengatakan anak itu nakal, pemalu, atau agresif, maka label itu akan mulai menjadi bagian dari identitas anak, secara baik atau buruk.

2. Mengubah cara orang tua memperlakukan anak

Ketika orang tua atau lingkungan memberi label pada anak, tidak hanya memengaruhi cara anak berpikir tentang dirinya sendiri, tetapi juga berpengaruh terhadap bagaimana cara orang tua memperlakukan anak. Saat anak menerima labeling negatif secara negatif, dia kemungkinan akan mendapatkan hal-hal yang negatif pula.

3. Memberi label dapat membatasi diri anak

Pemberian label baik itu negatif atau positif seperti “kamu atletis” “kamu kreatif” juga bisa memiliki dampak buruk, karena dapat membatasi diri anak. Ketika orang tua melabel anak jika sangat cerdas dalam olahraga atletik, padahal anak merasa mereka sangat berbakat di bidang musik, tentu hal bisa berbanding terbalik. Sehingga, bukan tidak mungkin akan membuat anak tidak percaya diri dan tidak dapat mengembangkan kemampuannya yang pada akhirnya memengaruhi perasaan diri anak.

Lebih Ramah

Pemberian labeling pada anak terutama yang negatif sebaiknya memang dihindari. Berikut ragam cara memperlakukan anak yang lebih ramah dan berdampak baik pada perkembangan pribadinya seperti dilansir Jeda.id dari berbagai sumber:

1. Menghargai usaha anak

Saat tumbuh dewasa, proses jauh lebih penting daripada hasil. Jadi, tak peduli dia keluar sebagai pemenang atau tak mendapat gelar juara sama sekali, para orang tua harus memuji usahanya.

2. Mendukung latihan

Agar anak lebih percaya diri, Anda sebagai orangtua harus lebih sering mendorongnya untuk latihan, apapun ketertarikannya. Tapi ingat, lakukan hal tersebut tanpa terlalu menekan agar anak tidak merasakan paksaan selama latihan.

3. Biarkan anak menyelesaikan masalah dengan usahanya sendiri

Bantuan dari orangtua bisa mencegah timbulnya kepercayaan diri, yang berasal dari kemampuan anak memecahkan masalah dengan usahanya sendiri.  Memberikan bantuan memang penting, tapi jika terlalu banyak bisa mengurangi kemampuan anak untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya sendiri. Sebaiknya, bantuan orangtua lebih bersifat mengarahkan anak untuk membantu dirinya sendiri keluar dari masalah.

4. Biarkan anak bersikap sesuai usianya

Jangan pernah memaksa anak bersikap seperti orang dewasa. Karena hal itu terlalu berat bagi anak. Berjuang memenuhi espektasi orangtua yang tidak sesuai dengan usia anak, bisa mengurangi tingkat kepercayaan diri yang dimiliki anak.

5. Mendorong keingintahuan anak

Seringkali anak bertanya tanpa henti, hingga membuat orangtuanya lelah. Tapi, aktivitas tersebut tidak boleh dihentikan.

6. Hindari memberi perlakuan istimewa

Perlakuan istimewa bisa membuat kepercayaan diri anak berkurang. Hindari memberi dia pengeculian saat ia sedang bersama orang lain.

7. Jangan pernah mengkritisi penampilannya

Mengkritisi penampilan anak adalah cara tercepat untuk mematikan rasa percaya dirinya. Karena itu, berikanlah feedback yang positif, dan berikan saran yang membangun atas penampilannya. Tapi jangan pernah mengatakan bahwa apa yang dia lakukan jelek atau buruk. Bila anak takut untuk gagal karena kuatir akan mengecewakan orangtua, maka ia tidak akan pernah berani mencoba hal baru.

8. Jadikan kesalahan sebagai bahan pembelajaran

Kesalahan-kesalahan adalah batu bata yang akan membangun kepercayaan diri anak. Tapi, itu hanya bisa terjadi jika orangtua juga menganggap bahwa kesalahan yang dilakukan anak sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh.
Biarkan anak sesekali melakukan kesalahan. Kemudian bantu dia memperbaiki kesalahan tersebut. Hal ini akan mengajari anak untuk tidak pernah takut gagal.

9. Terbuka untuk pengalaman baru

Membiarkan anak mencoba hal-hal baru, akan mengajari mereka bahwa tidak peduli apakah sesuatu itu menakutkan atau kelihatan berbeda, mereka pasti bisa menaklukkannya.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.