Saat Remaja Depresi, Para Orang Tua Mesti Waspada Hal-Hal Ini

Depresi bisa dirasakan oleh siapa saja mulai remaja hingga dewasa. Tak juga memandang status sosial dan materi, depresi bisa datang tanpa permisi.

JEDA.ID—Depresi bisa dirasakan oleh siapa saja mulai remaja hingga dewasa. Tak juga memandang status sosial dan materi, depresi bisa datang tanpa permisi.

Seorang Youtuber ternama Indonesia, Ria Ricis pun pernah mengalaminya. Bahkan dia mengaku sempat ingin bunuh diri.  Sejak video pamit dan kembali, Ria Ricis tak henti-hentinya dihujat warganet. Meski begitu, ia tak menunjukkan kegalauannya pada publik.

Namun, melalui kanal YouTube yang bertajuk Draw My Life Ria Ricis Ria Ricis menceritakan kegelisahannya, Selasa (13/8/2019). Mulai ditinggal beberapa pekerjanya dalam tim Ricis hingga di-bully banyak orang.

Pada titik itu adik selebritas Oki Setiana Dewi bahkan sempat merasa ingin mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri. Beruntung dia cepat tersadar hingga dia jiwanya terselamatkan.

Gejala

Perasaan galau, terpuruk, tak berarti, atau depresi bisa menyerang siapa saja. Bahkan remaja yang sedang mencari jati diri menjadi salah satu usia yang rentan mengalaminya. Menurut National Institute on Mental Health, statistik pada 2014 menunjukan sekitar 11,4 persen anak usia 12 sampai 17 tahun dari 2,8 juta remaja, mengalami setidaknya satu kali depresi berat. Sementara menurut Child Mind Institute, menyebutkan depresi dan gangguan bipolar adalah diagnosis kesehatan mental ketiga yang paling umum pada anak-anak berusia 18 tahun ke bawah.

Untuk itu, sebaiknya Anda tahu kapan harus khawatir dan apakah anak Anda membutuhkan pertolongan karena mengalami depresi.  Inilah beberapa hal yang harus diperhatikan pada remaja Anda, mengutip Realsimple, belum lama ini.

1. Semangat turun atau moody lebih sering

Standar umum semangat yang menurun dan ahli lainnya berlaku adalah remaja tersebut sedang sedih, mudah tersinggung, atau keduanya, hampir sepanjang hari paling banyak dalam sepekan atau dua pekan atau bahkan lebih.
Anak menjadi mudah tersinggung selain kesedihan. Banyak remaja yang depresi merasa rendah dan kekurangan energi, dan itu memang terjadi.

2. Kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya dia sukai

Mungkin anak Anda penggemar sepak bola atau musik, namun ketika dia tidak lagi ingin bermain musik atau sepak bola, Anda pantas curiga. Nama klinis untuk ini adalah anhedonia dan ini adalah tanda peringatan.

3. Menghindar dari orang lain

Ketika remaja tidak ingin bergaul dengan teman dan keluarga, bahkan orang-orang yang biasanya ia anggap menarik atau menyenangkan. Dia cenderung lebih suka menyendiri,

4. Kebiasaan makan dan tidur berubah

Tanda lain adalah ketika nafsu makan anak remaja Anda mungkin menurun, tapi itu tidak ada hubungannya dengan mencoba menurunkan berat badan. Dia mungkin mengalami lebih banyak masalah atau pola tidur berubah dari sebelumnya. Atau dia mungkin sangat lelah dan memiliki sedikit energi dan motivasi rendah tidak peduli berapa pun dia tidur.

5. Hal Berbahaya

Ada perubahan nilai di sekolahnya atau mulai malas belajar hingga nilainya turun, juga bisa menjadi tanda-tanda remaja depresi. Tanda-tanda yang lebih nyata adalah ketika anak remaja kita melakukan hal-hal yang berbahaya seperti minum alkohol, menggunakan obat-obatan terlarang atau mengemudi secara ugal-ugalan. Hal ini sangat mungkin karena mereka mengalami depresi.

6. Melukai Diri

Ketika remaja merasa tidak berharga atau putus asa dan merasa bersalah atas hal-hal yang bukan salahnya, itulah saatnya orang tua waspada.  Ini adalah peringatan yang sangat serius bahwa anak remaja Anda perlu dievaluasi oleh pakar kesehatan mental yang berkualitas.

Cara Menangani

Banyak remaja tidak mencari bantuan yang membuatnya lebih sulit atau bahkan mustahil baginya untuk sembuh. Jika remaja merasa kemungkinan depresi remaja, harus dipancing untuk membicarakan masalah. Bicara kepada yang bisa dipercaya, seperti orang tua, guru, atau guru pembimbing di sekolah agar mereka bisa mendapatkan bantuan untuk mengatasi masalahnya.

1. Bantu untuk Mau Bercerita

Dekati dan cobalah memberi bantuan selayaknya bicara antara teman. Minta ia jelaskan bagaimana dan apa yang dirasakannya. Remaja tidak bisa memperbaiki masalah depresi sendiri.

2. Ajak Berkonsultasi dengan Ahli

Bullying atau perundungan memang menjadi salah satu penyebab generasi muda mengalami depresi. Pastikan mereka menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi, walaupun sulit untuk melakukannya. Walaupun bullying terjadi di luar sekolah, remaja harus berani bicara. Bila perlu ajaknya mereka menemui ahli seperti guru pembimbing atau psikolog.

Mungkin remaja takut mengakui jika mengalami depresi kepada teman atau orang tua, tetapi terkadang berbicara kepada teman asing itu bisa terasa lebih mudah. Tenaga kesehatan mental profesional tidak akan menghakimi sehingga mereka bisa bebas untuk mengekspresikan diri secara jujur.

3. Awasi Pergaulan

Pastikan anak-anak remaja Anda memiliki teman-teman yang mendorong dan membuat remaja merasa baik. Jangan biarkan mereka menghabiskan waktu dengan teman-teman yang mengkritik atau membuat merasa buruk.

4. Ikutkan Kegiatan Positif

Ikut organisasi, klub, atau tim olahraga untuk berada di antara teman-teman yang memiliki minat yang sama sangat bagus untuk perkembangan remaja. Dengan kegiatan yang positif akan mengalihkan perhatian mereka dari pikiran negatif yang mengarah pada depresi.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.