Pengakuan Para Silent Reader di WhatsApp Group

Meski banyak yang memilih menjadi silent reader, namun jangan salah mereka tetap menjadi pengguna aktif WhatsApp.

JEDA.ID—Kamu termasuk silent reader di WhatsApp group (WAG)? Tak perlu galau di-bully bila menjadi silent reader alias hanya baca tanpa memberikan komentar. Sebab, tidak sedikit pengguna aplikasi WhatsApp memilih menjadi silent reader dengan berbagai alasan.

Tim jeda.id melakukan survei online terhadap pengguna WhatsApp dengan rentang usia 19-38 tahun. Rata-rata mereka mengaku menjadi anggota 10-12 WAG. Meski jumlahnya di atas 10 WAG, 50% responden memilih menjadi silent reader.

Sisanya 26,3% mengaku aktif di grup dan lain-lain. Beberapa dari mereka melontarkan berbagai alasan menjadi silent reader di antaranya jarang dianggap dalam grup, topik bahasan kurang menarik, dan tidak penting.

Putri, 20, warga Blora, Jawa Tengah mengaku memilih menjadi silent reader di WhatsApp group karena jarang dianggap dalam grup yang dia ikuti. ”Saya memiliki 30 grup WhatsApp. Yang aktif hanya sekitar 10. Sebagai anggota dalam grup saya memilih menjadi silent reader karena saat saya memberi komentar di grup jarang dianggap” kata Putri, Rabu (31/7/2019).

Pengakuan yang sama datang dari Satrio, 21, mahasiswa UNS Solo. Dia merasa selama ini jarang dianggap di grup sehingga memilih menjadi tukang baca alias memantau WAG, namun enggan ikut nimbrung atau berkomentar di grup yang dia ikuti.

Sebagian dari responden mengaku ada dominasi dari beberapa anggota WAG. Mereka kerap mendominasi pembicaraan di WAG mulai dari kirim foto hingga saling bercanda. Alhasil, beberapa anggota WAG lainnya memilih diam dan hanya membaca tanpa memberikan respons atau komentar.

Buka 50 Kali Sehari

Meski banyak yang memilih menjadi silent reader, namun jangan salah mereka tetap menjadi pengguna aktif WhatsApp. Para resoponden yang mengaku membuka WA lebih dari 50 kali dalam sehari sebanyak 34,2%. Sisanya 36-40 kali dalam sehari 15,8%, kemudian 13,2% membuka 11-15 kali sehari, 10,5% membuka 26-30 kali sehari.

Selanjutnya 7,9% membuka 16-20 kali sehari , 5,3% membuka 31-25 kali sehari, dan 2,6% yang membuka 21-25 kali sehari dan 41-45 kali sehari. ”Saya membuka WhatsApp lebih dari 50 kali sehari. Saya punya grup WhatsApp sekitar 10 dan yang aktif 6. Grupnya ada grup keluarga, teman, alumni sekolah, main, dan kantor,” ujar Agus, seorang karyawan swasta.

Tak bisa dimungkiri, WhatsApp menjadi salah satu aplikasi pesan instan paling populer di dunia. Data Hoosuite 2019, WhatsApp menjadi top social messenger dengan total indeks 133. Di Indonesia, WhatsApp menduduki peringkat kedua sebagai platform media sosial yang paling aktif yakni 83%.

Keberadaan WAG di WhatsApp kerap menjadi sarana komunikasi pertemanan, pekerjaaan, jualan, hingga sehobi. Sebanyak 55,3% responden mengaku grup yang paling aktif adalah grup pertemanan. Sebanyak 36,8% mematikan notifikasi grup dengan berbagai alasan di antaranya berisik dan pembahasan yang dianggap kurang penting.

Untuk urusan bisnis, WAG dinilai memberikan manfaat memudahkan komunikasi. Lusy seorang pengusaha online shop membuat WhatsApp group agar mempermudah komunikasi dengan para reseller.

”Saya mempunyai grup WhatsApp khusus untuk jualan. Agar mempermudah memasarkan dagangan saya kepada reseller atau pembeli. Biasanya saya kirim foto produknya dalam grup. Yang ingin gabung grup saya biasanya update status WhatsApp kadang juga saya sebar link lewat Facebook,” kata Lusy.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.