Negara-Negara Ini Ubah Kebijakan Pemberian Vaksin AstraZeneca Kepada Manula, Mengapa Ya?

Prancis tidak sendirian karena Otoritas kesehatan di Jerman dan Swedia telah menyuarakan kekhawatirannya.

JEDA.ID-Sejumlah negara memutuskan  mengubah kebijakan pemberian vaksin AstraZeneca kepada manula. Negara-negara yang mengubah kebijakan pemberian vaksin AstraZeneca kepada manula ini antara lain Polandia, Swedia, dan Prancis.

Lalu apa alasan yang mendasari pemerintah di negara-negara itu mengubah kebijikan pemberian vaksin AstraZeneca kepada manula? Info kesehatan dan info sehat bakal mengupasnya untuk Anda.

Pemerintah Polandia memutuskan untuk tidak memberi vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca kepada orang tua atau penduduk lanjut usia (lansia). Asisten Utama Perdana Menteri Polandia yang bertanggung jawab atas program vaksinasi Polandia Michal Dworczyk mengatakan hanya akan menyuntikkan vaksin Covid-19 buatan Oxford University tersebut pada penduduk berusia 18 hingga 60 tahun.

“Kemarin malam, dewan medis mengajukan rekomendasi mengenai vaksin AstraZaneca. Berdasarkan hal tersebut, diputuskan bahwa vaksin akan digunakan di Polandia untuk rentang usia 18 [tahun] dan 60 tahun,” ungkap Michal Dworczyk dikutip dari Aljazeera dan Bisnis.com, Rabu (3/2/2021).

Baca Juga: Studi: WFH Kenakan Piama Bikin Kesehatan Mental Buruk

Dia mengatakan Polandia juga mengikuti rekomendasi ahli medis di Jerman dan Austria, yaitu vaksin harus diberikan kepada orang berusia 18 hingga 64 tahun.

Dikutip Aljazeera pada Selasa (2/2/2021), badan kesehatan Swedia juga tidak merekomendasikan vaksin AstraZeneca untuk penduduk berusia di atas 65 tahun. Di sisi lain, kementerian kesehatan Spanyol baru akan memutuskan dalam minggu ini akan memberikan vaksin AstraZeneca kepada orang tua atau tidak.

Kepala eksekutif AstraZeneca Pascal Soriot menepis kekhawatiran terkait dengan kemanjuran vaksin buatan perusahaannya. Meski demikian, dia mengaku perusahaan memiliki lebih sedikit data dibandingkan produsen obat lain terkait dengan lansia.

“Namun, kami memiliki data kuat yang menunjukkan produksi antibodi yang sangat kuat terhadap virus pada orang tua, serupa dengan yang kami lihat pada orang dengan usia lebih muda,” ujar Soriot dikutip pada Rabu (3/2/2021).

Regulator obat-obatan Eropa menyetujui vaksin Covid-19 buatan Oxford-AstraZeneca untuk digunakan pada orang usia 18 tahun ke atas pada Jumat (29/1/2021) lalu. Namun, masih belum ada hasil yang mengatakan seberapa baik vaksin akan bekerja untuk orang berusia dia atas 55 tahun.

Vaksin AstraZeneca sendiri diketahui lebih murah dibandingkan vaksin buatan Pfizer-BioNTech dan Moderna. Selain itu, vaksin AstraZeneca dapat disimpan pada suhu lemari es biasa.

Baca Juga: Mau Bikin Paspor Di Masa Pandemi? Begini Caranya

Seperti diketahui, Indonesia saat ini tengah menunggu kedatangan vaksin AstraZeneca. Indonesia berkomitmen membeli sebanyak 50 juta dosis vakin dari buatan Inggris tersebut.

Hal yang sama juga dilakukan Prancis. Prancis mengubah kebijakan pemberian vaksin AstraZeneca untuk warga yang usianya kurang dari 65 tahun.

Menunda Proses Vaksinasi kepada Manula

Mengutip Agence France-Presse pada Rabu (3/2/2021), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan vaksin AstraZeneca belum memiliki data yang cukup terkait dengan keefektifannya pada orang berusia lanjut.

Keputusan Macron tentunya benar-benar mengubah strategi vaksinasi di Prancis yang mengandalkan vaksin AstraZeneca. Kemungkinan besar negara tersebut akan menunda proses vaksinasi bagi warga yang berusia lanjut.

Padahal, sebelumnya Prancis menyatakan akan memprioritaskan penghuni panti jompo dan orang-orang yang usianya lebih dari 75 tahun untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19.

“Untuk vaksin AstraZeneca ini, kami tidak akan mengusulkannya kepada mereka yang berusia di atas 65 tahun. Sebaliknya, vaksin ini akan diberikan kepada personel medis di bawah 65 tahun, individu dengan kerentanan kesehatan atau mereka yang menghadapi paparan tinggi,” katanya seperti mengutip dari Bisnis.com, Rabu (3/2/2021).

Sebelum Macron mengeluarkan pernyataan resmi, Otoritas Tinggi Kesehatan Prancis sudah menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca hanya direkomendasikan bagi warga berusia di bawah 65 tahun. Badan tersebut berencana mengkaji kembali panduan ini saat AstraZeneca memiliki lebih banyak data mengenai efektivitas vaksinnya terhadap lansia.

Baca Juga: Studi Sebut Infeksi Covid-19 Bisa Rusak Sperma dan Sebabkan Kemandulan

Apa yang dilakukan oleh Prancis bertolak belakang dengan panduan yang dikeluarkan oleh European Medicines Agency. Panduan tersebut mengizinkan vaksin tersebut diberikan kepada seluruh kelompok umur, tak terkecuali orang lanjut usia.

Walaupun demikian, Prancis tidak sendirian karena Otoritas kesehatan di Jerman dan Swedia telah menyuarakan kekhawatirannya bahwa AstraZeneca tidak menguji vaksin buatannya pada orang berusia lanjut.

Swedia sementara tidak akan menggunakan vaksin Covid-19 yang dibuat oleh perusahaan farmasi AstraZeneca untuk kelompok usia 65 tahun ke atas,.

Dikutip Deutsche Presse-Agentur (DPA) International, Rabu (3/2/2021), data dari perusahaan farmasi itu dinilai tidak cukup untuk menilai keefektifan vaksinasi pada kelompok usia lanjut. Demikian menurut Badan Kesehatan Masyarakat Swedia.

Selain, itu fakta membuktikan bahwa lebih banyak negara yang menunggu keputusan dari uji coba tahap akhir berskala besar di Amerika Serikat.

Badan Kesehatan Masyarakat Swedia menambahkan vaksin yang dikembangkan Pfizer/BioNTech dan Moderna nantinya akan digunakan untuk vaksinasi bagi warga Swedia yang berusia lanjut.

Baca Juga: 5 Kuliner Berbahaya yang Populer di Dunia

Soren Andersson dari Badan Kesehatan Masyarakat Swedia mengatakan dalam konferensi pers bahwa sejumlah negara, di antaranya Jerman, dan Prancis telah membuat keputusan serupa.

European Medicines Agency (EMA) minggu lalu menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca aman digunakan dan memberikan respons imun yang baik. Uni Eropa kemudian menyetujui penggunaan vaksin AstraZeneca di blok tersebut. Swedia mengharapkan pengiriman pertama vaksin AstraZeneca minggu depan.

Sara Byfors dari Public Health Agency mencatat bahwa tren penurunan jumlah kasus baru dalam beberapa pekan terakhir terus berlanjut. Tetapi, ujarnya, sampel tes menunjukkan peningkatan kasus yang terkait dengan mutasi virus di Inggris, yang sangat menular.

Swedia, negara berpenduduk 10,3 juta, kini telah mendaftarkan 576.000 kasus dan 11.815 kematian sejak pandemi dimulai.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang diberikan suntikan vaksin virus corona (Covid-19) dari Oxford-AstraZeneca masih akan kebal terhadap virus corona hingga 12 minggu setelah dosis pertama mereka.

Dilansir dari Metro UK dan Bisnis.com, Rabu (3/2/2021), peneliti dari University of Oxford, yang mengembangkan suntikan bersama dengan perusahaan farmasi AstraZeneca, mengatakan bahwa dosis tunggal mereka efektif 76 persen setelah tiga bulan, sedangkan dosis keduanya efektif 82,4 persen.

Vaksin AstraZeneca disebut mampu melindungi hingga 12 pekan (ilustrasi Freepik)

Vaksin AstraZeneca disebut mampu melindungi hingga 12 pekan (ilustrasi Freepik)

Ini berarti kasus Covid-19 di antara kelompok yang diberi satu dan dua dosis berturut-turut 76 persen dan 82,4 persen lebih rendah daripada kelompok yang diberi plasebo. Penelitian yang belum ditinjau rekan sejawat itu juga menyarankan vaksin dapat mengurangi penularan virus hingga dua per tiga.

Para peneliti menganalisa tes usap atau swab Covid-19 Inggris yang dinyatakan positif dan menemukan penurunan 67 persen pada usap positif di antara mereka yang telah divaksinasi dengan suntikan dari Oxford-AstraZeneca.

Baca Juga: Begini Cara Membersihkan Gigi Kuning, Supaya Gigi Tetap Putih dan Sehat

Mereka masih belum mengetahui apakah vaksin Covid-19 dapat menghentikan penularan dan tidak hanya mencegah penyakit. Bagaimanapun, penemuan itu dapat membuktikan langkah besar dalam memengaruhi nasihat kesehatan masyarakat terkait vaksin.

Bisa Melindungi Hingga 12 Pekan

Hal ini juga dapat membuka jalan bagi pembatasan kuncian untuk dicabut lebih cepat karena akan menunjukkan lebih sedikit orang yang perlu divaksin guna melindungi populasi lainnya secara keseluruhan.

Studi ini juga mendukung strategi pemisahan dosis primer dan suntikan penguat lanjutan selama 4 pekan hingga 12 pekan, yang telah diterapkan oleh Inggris dan sejumlah negara lainnya. Hal ini sebelumnya mendapatkan kecaman keras dari berbagai pihak yang khawatir tentang penundaan dosis kedua.

Kepala penyelidik Oxford Trial sekaligus salah satu penulis studi, Andrew Pollard, mengatakan data baru ini memberikan verifikasi penting dari data sementara yang digunakan regulator untuk memberikan otorisasi penggunaan darurat vaksin.

“Ini juga mendukung rekomendasi kebijakan yang dibuat oleh Joint Committee on Vaccination and Immunisation (JCVI) untuk interval 12 minggu, karena mereka mencari pendekatan yang optimal untuk diluncurkan. Dan ini meyakinkan kami bahwa orang dilindungi dari 22 hari setelah satu dosis vaksin,” katanya.

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.