Jari Tangan Sering Kebas Saat Gowes? Waspadai Cyclist’s Palsy

Tekanan yang terlalu besar dan lama merupakan penyebab utama keluhan jari tangan kebas ini.

JEDA.ID-Posisi gowes yang tidak ideal berisiko memicu berbagai keluhan pada pesepeda, salah satunya jari tangan kebas. Jari tangan kebas disebut juga  cyclist’s palsy.

Dokter menyebut, salah satu gejala jari tangan kebas adalah mencakup kesemutan atau kebas di jari manis dan kelingking. Penyebabnya adalah tekanan pada ulnar nerve, saraf yang mempersarafi kelingking dan jari manis, dan melewati pergelangan tangan melalui sebuah terowongan (Guyon canal). Simak ulasan selengkapnya di info sehat dan tips kesehatan kali ini yang bakal membahasnya dan cara mengatasinya.

“Kondisi ini disebut juga dengan Guyon canal syndrome, kalau terjadi pada pesepeda disebut cyclist’s palsy,” kata konsultan hand and microsurgery dari RS Pondok Indah, Oryza Satria.

Baca Juga: Limbah Masker Bisa Jadi Media Persebaran Virus Corona, Ini Cara Mengelolanya

Kondisi ini kerap disamakan dengan Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Bedanya, CTS terjadi pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis, sedangkan cyclist’s palsy pada jari manis dan kelingking.

Gejala cyclist’s palsy

Gejala pada tiap pesepeda bisa berbeda-beda tergantung tingkat keparahan, namun biasanya spesifik hanya terjadi saat bersepeda. Beberapa gejala yang bisa dikenali pada jari tengah dan kelingking antara lain seperti dikutip dari detikcom, Kamis (18/2/2021):

– Kebas atau kesemutan
– Nyeri
– Kram
– Kelemahan di kedua jari sehingga genggaman melemah
– Kelingking dan jari manis susah diluruskan atau claw hand
– Massa otot di antara ibu jari dan telunjuk kempes
– Sulit melebarkan dan menutup jari-jari.

Penyebab dan pencegahan

Tekanan yang terlalu besar dan lama merupakan penyebab utama keluhan ini. Posisi pergelangan tangan yang ‘ekstensi’ yakni mengarah ke atas dan keluar, bukan ke dalam seperti saat menggenggam, juga memicu regangan pada saraf.

Cyclist’s palsy umumnya terjadi ketika bersepeda dalam jangka waktu lama. Pada kondisi tertentu, risikonya akan lebih besar.

“Ketika Anda bersepeda menuruni bukit, sebagian besar bobot tubuh akan ditopang oleh tangan dan menyebabkan adanya beban yang lebih tinggi di jari-jari tangan Anda,” jelas  Oryza.

Baca Juga: Waspadai Mamalia di Sekitar Rumah Bisa Jadi Inkubator Virus Corona Baru

Perawatan pada cedera persyarafan bisa memakan waktu berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Bahkan jika tidak tertangani dengan baik, bisa menyebabkan kondisi permanen.

Beberapa cara untuk mengurangi risiko cyclist’s palsy adalah:

– Menggunakan bantalan yang nyaman pada handlebar. Gloves yang tebal juga bisa membantu
– Atur posisi handlebar dalam posisi senyaman mungkin
– Mengganti posisi tangan di handlebar secara periodik saat bersepeda dalam waktu lama
– Sesuaikan posisi duduk untuk mendapatkan postur yang baik.

Pamor road bike sedang naik daun. Sepeda jenis ini memang terbilang eksklusif, selain mahal juga dapat mengimbangi kecepatan kendaraan bermotor.

Namun, sama halnya dengan sepeda jenis lain, bersepeda menggunakan road bike juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut pesepeda asal Bogor Timur, Yansen, 30, salah satu kelebihannya adalah dapat meningkatkan performa tubuh.

“Pertama, kita mampu meningkatkan performa diri sendiri, kayak tenaga, stamina, dan kesehatan,” kata Yansen seperti dikutip dari detikcom, di Sentul City, Sabtu (29/8/2020).

Baca Juga: Kenali Skema Ponzi agar Enggak Boncos

“Minusnya nggak bisa berpetualang di jalan-jalan rusak. Kondisi jalan Indonesia juga sebenarnya nggak mulus-mulus amat sebenarnya dan nggak terlalu nyaman buat pakai road bike,”  jelasnya.

Pemula yang baru menjajal road bike juga biasanya mengeluhkan kurangnya kenyamanan. Karena memang didesain untuk melaju kencang, road bike disebut-sebut lebih tidak nyaman dibanding sepeda lipat maupun mountain bike.

“Minusnya sebenarnya banyak ya kalau nggak biasa, kaya tangan kesemutan, pinggang pegal, leher juga pasti pegal. Nah itu makanya harus di fitting yang sesuai sepedanya sama postur tubuh. Kalau nggak sesuai pasti nggak enak dipakainya,” kata pengguna road bike dari Jakarta Utara, Rocky, 31, Sabtu (29/8/2020).

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.