Waspadai Mamalia di Sekitar Rumah Bisa Jadi Inkubator Virus Corona Baru

Hewan yang dapat menjadi inang bagi banyak virus merupakan ancaman besar.

JEDA.ID-Sebuah studi baru memprediksi ratusan spesies mamalia dapat berfungsi sebagai inkubator bagi virus Corona baru. Mamalia di sekitar rumah bisa jadi inkubator virus untuk bercampur dan cocok satu sama lain, berpotensi membentuk virus baru.

Ya, bukan hanya kelelawar mamalia jadi inkubator virus Corona, melainkan satwa mamalia bisa jadi inkubator virus Corona. Dikhawatirkan hal ini bisa memicu pandemi di masa depan. Simak ulasannya di info sehat dan info kesehatan kali ini. Studi yang diterbitkan pekan ini di jurnal Nature Communications, menyoroti potensi virus Corona untuk menginfeksi berbagai inang seperti kelelawar, monyet, babi, dan kucing. Faktanya, penelitian ini mengidentifikasi ratusan spesies yang mungkin terinfeksi virus, meskipun banyak infeksi ini belum diamati di alam liar.

Sebagaimana diketahui, virus Corona merupakan keluarga besar virus yang dapat menginfeksi burung dan mamalia. Jadi, ada kemungkinan satwa mamalia jadi inkubator virus Corona. SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19, hanyalah salah satu anggota dari keluarga virus Corona.

Baca Juga: Beli Maung Pindad, Ini Daftar Kekayaan dan Koleksi Mobil Pribadi Bupati Jember

Dilansir dari Live Science, Rabu (17/2/2021) dalam penelitian, tim menggambar urutan genetik 411 virus corona dari GenBank, basis data National Institute of Health, dan menyaring urutan menggunakan algoritma komputer. Urutan itu mewakili 92 spesies berbeda dari virus corona, dengan beberapa spesies diwakili oleh lebih dari satu strain virus.
Algoritma tersebut memperkirakan bahwa rata-rata setiap virus memiliki lebih dari 12 inang mamalia. Setiap spesies hewan yang disaring, pada gilirannya, diperkirakan menjadi inang potensial untuk rata-rata lebih dari lima virus Corona.

Hewan yang dapat menjadi inang bagi banyak virus merupakan ancaman besar. Ketika beberapa jenis virus corona menyerang sel yang sama, gen mereka dapat bercampur dan dicocokkan saat bereplikasi sehingga menghasilkan virus baru yang tidak teratur.

Pencocokan genetik yang dikenal sebagai rekombinasi ini bisa sangat berbahaya jika SARS-CoV-2 menukar gen dengan virus Corona lain. Itu karena virus yang dihasilkan berpotensi menular ke manusia dan dapat menyerang jaringan tambahan sehingga menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Model tersebut mengidentifikasi 126 spesies bukan manusia yang berpotensi menjadi tuan rumah dari SARS-CoV-2 dan setidaknya satu virus corona lain, yang memungkinkan skenario terburuk tentang pencampuran virus dan reinfeksi kepada manusia.

Baca Juga: Kenali Penyebab Diabetes dan Gejala Awalnya

Penulis studi dan ilmuwan data Maya Wardeh bersama ahli virologi University of Liverpool Marcus Blagrove dalam pernyataannya menyebutkan bahwa hal yang lebih mengejutkan lagi adalah banyaknya hewan yang diprediksi menjadi inang bagi sejumlah besar virus Corona.

“Semua orang tahu bahwa kelelawar itu penting, tapi kami menemukan lebih banyak inang berisiko tinggi di seluruh mamalia termasuk hewan pengerat, primata, dan hewan berkuku,” kata mereka dalam pernyataan kepada Live Science seperti dikutip dari Bisnis.com, Rabu (17/2/2021).

Meskipun demikian, ahli virus dari McMaster University Arinjay Banerjee mengatakan hanya karena dua virus Corona dapat menyerang hewan yang sama, bukan berarti mereka dapat dan akan bergabung secara pasti.

Dia melanjutkan bahwa rekombinasi membutuhkan virus untuk memasuki jenis sel yang sama dan infeksi mencapai puncaknya pada saat yang sama. Tapi studi baru itu memberikan daftar berguna spesies mamalia yang harus dipantau untuk infeksi virus corona dan risiko rekombinasi di masa depan.

Berdasarkan catatan jeda.id, kasus satwa mamalia terinfeksi Corona bukanlah hal baru. Dua satwa mamalia yaitu gorila di kebun binatang California, Amerika Serikat, dinyatakan positif terinfeksi virus corona baru atau mengidap Covid-19, yang diyakini sebagai kasus virus corona pertama yang diketahui terjadi pada kera besar.

San Diego Zoo Safari Park mengatakan gorila tersebut mulai batuk pada pekan lalu, mendorong petugas untuk menguji sampel tinja mereka, yang ternyata hasil menunjukkan bahwa hewan itu positif terkena virus corona baru.

Lisa Peterson, Direktur San Diego Zoo Safari Park mengatakan bahwa selain sesak dan batuk, gorila yang dinyatakan mengidap Covid-19 itu baik-baik saja dan tidak mengalami gejala atau penyakit yang tergolong parah.

“Gorila itu tetap dikarantina bersama dan sedang makan serta minum. Kami berharap untuk pemulihan penuh keduanya,” katanya dalam sebuah pernyataan seperti dikutip New York Post, Selasa (12/1/2021).

Para pejabat yakin primata itu tertular virus dari anggota staf yang mengidap Covid-19 tetapi tidak memiliki gejala. Kebun binatang itu menyatakan mereka telah mengikuti semua tindakan pencegahan yang telah disarankan.

“Ini adalah contoh pertama penularan alami ke kera besar dan tidak diketahui apakah mereka akan mengalami reaksi serius,” kata pernyataan dari pihak kebun binatang.

Pada akhir tahun lalu, empat ekor singa di sebuah kebun binatang di Barcelona, Spanyol, juga dinyatakan positif mengidap virus Corona baru Covid-19. Sebelumnya, kebun binatang Bronx di New York menyatakan empat singa dan tiga harimau positif Covid-19.

Baca Juga: Ini Daftar Mobil di Bawah 1.500 cc yang Tak Dapat Diskon Pajak

Kasus positif Covid-19 hewan tidak hanya terjadi pada gorila, singa, dan harimau. Sejauh ini di berbagai negara kasus sudah diidentifikasi pada hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, serta hewan ternak seperti cerpelai di Denmark yang telah menimbulkan kekhawatiran penularan dari hewan ke manusia.

Pemerintah Kota Seoul, Korea Selatan, dalam waktu dekat akan melakukan pemeriksaan terhadap anjing dan kucing peliharaan untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19) di kota tersebut.

Mengutip The Korea Times pada Senin (8/2/2021), Pejabat Pengendalian Penyakit Pemerintah Kota Seoul Park Yoo-mi mengatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap anjing dan kucing peliharaan masyarakat setempat yang menunjukkan gejala mirip dengan gejala Covid-19.

Rencana tersebut mencuat setelah Korea Selatan melaporkan kasus Covid-19 pertama yang dialami oleh hewan peliharaan beberapa waktu lalu. Sebelumnya seekor anak kucing di Jinju, Gyeongsang Selatan dilaporkan terinfeksi virus corona setelah melewati pemeriksaan dan mengalami gejala mirip dengan pasien positif Covid-19.
Yoo-mi menjelaskan pemeriksaan terhadap anjing atau kucing yang diduga terinfeksi virus Corona akan dilakukan di dekat rumah hewan oleh tim petugas kesehatan, termasuk seorang dokter hewan.

Baca Juga: Begini Cara Merawat Pasien Covid-19 di Rumah yang Benar

Dia menegaskan hanya anjing yang menunjukkan gejala, seperti demam, batuk, kesulitan bernapas dan peningkatan sekresi dari mata atau hidung, yang akan menjalani tes. Di sisi lain dia juga mengungkapkan bahwa kebanyakan hewan peliharaan yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.

“Jika hasil tes hewan peliharaan positif, maka akan diminta untuk karantina di rumah selama 14 hari tanpa dikirim ke fasilitas isolasi karena tidak ada bukti Covid-19 dapat ditularkan ke manusia dari hewan peliharaan,” kata Yoo-mi
Kemudian Yoo-mi menyebut apabila pemilik hewan peliharaan tidak dapat merawatnya karena dirawat di rumah sakit karena Covid-19, memiliki penyakit yang mendasari, atau pada usia lanjut, hewan tersebut akan dibawa untuk diisolasi di fasilitas yang dikelola kota di sebelah barat Seoul.

“Harap jaga anjing Anda setidaknya 2 meter dari manusia dan hewan peliharaan lainnya saat berjalan-jalan, dan ikuti langkah-langkah antivirus dengan ketat, seperti memakai masker dan mencuci tangan,” tutupnya.

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.