Awas 5 Mitos Virus Corona Ini Bisa Picu Munculnya Gelombang Kedua

Lima mitos tentang virus corona yang bisa membawa suatu negara dilanda gelombang kedua pandemi ini.

JEDA.ID-Pandemi virus corona masih terus berlangsung setelah pertama kali muncul pada akhir Desember 2019 lalu. Setelah kemunculannya, banyak gejala bahkan peraturan yang seringkali diabaikan dan malah memperparah keadaan dunia.

Padahal, infeksi virus corona sangat berbahaya, bukan hanya menyerang saluran pernapasan semata. Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan adanya gelombang kerusakan otak yang disebabkan oleh virus corona jenis baru penyebab  Covid-19. Hal ini diungkapkan lewat hasil riset dari University College London (UCL).

Penyakit akibat virus SARS-CoV-2 ini disebut bisa menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, termasuk peradangan, psikosis (gangguan realita), serta delirium (gangguan mental yang menyebabkan kebingungan). UCL menunjukkan 43 kasus pasien Covid-19 mengalami disfungsi otak sementara, stroke, sampai kerusakan saraf dan dampak serius pada otak lainnya.

Hal ini memperkuat pernyataan sejumlah ahli saraf dan dokter spesialis sebelumnya, bahwa ada bukti dampak Covid-19 pada otak. Tetapi, dampak terbesar karena pademi corona ini masih terkait pada gangguan pernapasan.

“Kekhawatiran saya. saat ini kita punya jutaan orang yang terinfeksi Covid-19. Jika dalam satu tahun ada 10 juta orang yang sembuh, orang-orang itu akan memiliki defisit kognitif,” jelas ahli saraf di Western University di Kanada, Adrian Owen, yang dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2020).

“Itu akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari,” lanjutnya.

Ikuti 10 Tips Ini, Rambut Indah dan Sehat Akan Terlihat

Meski begitu, salah satu pemimpin penelitian ini, Michael Zandi, dari UCL’s Institute Neurologi mengatakan masih perlu pembuktian lebih lanjut terkait hal ini.

“Apakah kita akan benar-benar melihat adanya kerusakan dalam skala besar pada otak? Ini masih harus diteliti lagi,” katanya.

Dikutip dari DailyStar dan ditulis detikcom, Kamis (9/7/2020), berikut ini lima mitos tentang virus corona yang bisa membawa suatu negara dilanda gelombang kedua pandemi ini.

1. Usia muda kebal Covid-19

Sebagian orang percaya virus corona hanya membahayakan orang-orang yang sudah berusia lanjut. Tetapi, bulan lalu sebuah rumah sakit di Sheffield melaporkan seorang bayi berusia 13 hari meninggal karena virus corona, tanpa ada masalah kesehatan yang mendasarinya.

Hal ini membuktikan orang-orang yang berusia muda juga bisa terinfeksi virus corona. Bahkan di Inggris sampai saat ini sudah ada 20 pasien di bawah usia 19 tahun yang meninggal karena virus corona.

2. Masa darurat Covid-19 sudah lewat

Menurunnya jumlah kematian yang dilaporkan di beberapa negara mengasumsikan jika masa darurat atau berbahaya dari virus ini telah lewat. Hal ini bisa membuat banyak orang merasa terlalu percaya diri.

Tidak sedikit berpikiran pandemi telah berakhir sehingga leluasa bepergian. (Freepik)

“Hampir di setiap tempat mulai mengendurkan pengawasannya dan jaga jarak sosial mulai berkurang, di situlah wabah bisa muncul,” kata Anthony Costello, dari Independent SAGE.

3. Cuaca hangat bisa menurunkan jumlah kasus

Cuaca dan suhu yang hangat disebut bisa mengurangi tingkat infeksi, karena saat berada di luar rumah orang-orang bisa lebih mudah untuk menjaga jarak. Selain itu, komponen virus juga disebut bisa rusak saat berada di bawah sinar matahari.

Wacana Redenominasi Kembali Mencuat, Ini Negara yang Sukses dan Gagal Pangkas Angka Nol di Mata Uang

Namun, Independent Scage dari SAGE menegaskan bahwa penyebaran atau penularan virus saat berada di luar rumah justru lebih mudah terjadi.

4. Hanya bisa tertular dari orang yang bergejala

Seperti yang diketahui, virus corona menular lewat droplet orang yang terinfeksi saat batuk, bicara, maupun bersin. Tetapi, virus ini juga bisa bertahan lama pada berbagai permukaan yang menjadi tempat jatuhnya droplet tersebut dan bisa bertahan hingga beberapa hari.

Tak hanya dari orang yang bergejala saja, orang tanpa gejala (OTG) terbukti lebih bisa menularkan virus tersebut pada orang lain.

5. Penggunaan masker tidak efektif cegah penularan virus

Ada anggapan yang mengatakan penggunaan masker hanya perlu dilakukan saat menggunakan transportasi umum saja. Tetapi, bukti kuat mengatakan penggunaan masker secara luas bisa mengurangi penyebaran virus tersebut.

Disebut Bangkrut Dihantam Pandemi, Ini Fakta-Fakta Victoria’s Secret

Hal itu telah dibuktikan oleh Jepang, yang melaporkan 20.000 kasus baru tetapi jumlah kematiannya kurang dari 1.000. Sementara di Amerika Serikat, jumlah kasus barunya mencapai tiga juta dan 130.000 kematian.

Apa bedanya?

Di Jepang, budaya menggunakan masker kembali dilakukan setelah terakhir diterapkan saat epidemi flu Spanyol melanda di tahun 1919. Sementara di AS malah protes untuk menentang penggunaan masker.

Kenyataannya, masker bisa mencegah penyebaran droplet dari orang lain saat berbicara, batuk, maupun bersin.

“Menggunakan masker kain yang sederhana justru bisa secara signifikan mencegah penyebaran droplet yang mungkin membawa virus corona ke orang lain,” kata penulis di Prosiding National Academy of Sciences AS.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.