Alasan Psikologis Di Balik Orang Malas Antre

Beberapa orang gagal paham tentang definisi mengantre. Selain itu, egoisme yang tinggi juga memengaruhi orang malas antre.

JEDA.ID–Antre mungkin adalah hal sepele yang kerap diabaikan sebagian orang. Saling serobot atau berdesak-desakan menjadi gambaran bagaimana orang malas antre. Nyatanya ada alasan psikologis kenapa orang malas antre.

Banyak alasan terlontar ketika seseorang tak mau mengantre. Namun di balik banyaknya dalih, ternyata ada alasan psikologis orang malas antre. Ada penelitian yang mengungkap jika 36 persen orang menghitung berapa banyak waktu terbuang ketika mengantre.

Alasannya, banyak orang tidak suka membuang waktu untuk mengantre. Menurut mereka, waktu mengantre bisa digunakan untuk mengerjakan kesibukan lainnya.

Selain itu, orang tidak suka dengan ketidakpastian, termasuk mengantre. Tidak pasti di sini artinya orang belum tahu berapa lama waktu yang akan dihabiskan saat mengantre.

Alhasil, orang cenderung gelisah ketika waktu mereka terbuang untuk mengantre. Akibatnya, beberapa orang berduit rela mengeluarkan uang untuk tidak mengantre.

Tidak hanya itu, ketika mengantre orang juga merasakan adanya ketidakadilan. Ini bisa terjadi ketika ada orang lain yang tanpa merasa bersalah langsung menerobos antrean.

Dikutip dari Repositori Kemdikbud, Sabtu (19/10/2019), budaya mengantre adalah cara untuk menghargai waktu dan hak orang lain. Budaya mengantre diterapkan di berbagai jenis masyarakat. Baik di masyarakat tradisional, maupun di perkotaan.

Namun, keduanya memiliki cara yang berbeda dalam menerapkannya. Dalam masyarakat tradisional, penerapan budaya mengantre cenderung mengedepankan strata sosial. Sedangkan di perkotaan, tidak mengutamakan status sosial.

Bagaimana dengan budaya mengantre di Indonesia? Masih banyak penduduk Indonesia yang malas antre. Salah satu alasan yang kerap dikemukakan adalah tergesa-gesa.

Contoh paling mudah bisa ditemukan saat hendak naik transportasi publik. Orang cenderung dorong mendorong agar bisa naik ke transportasi publik secepatnya.

Padahal, tiap orang juga mengejar waktu dan kesibukan yang sama. Lantas, faktor yang memengaruhi orang Indonesia malas antre?

Ada faktor internal seperti beberapa orang gagal paham tentang definisi mengantre. Selain itu, egoisme yang tinggi juga memengaruhi orang malas antre.

Kemudian faktor eksternal. Sebab, lingkungan terdekat turut memengaruhi pula. Contohnya dalam lingkungan keluarga dan pertemanan. Orang terobsesi untuk meniru ketika ada panutan.

Dua faktor ini menyebabkan orang Indonesia malas untuk mengantre. Akibatnya, mereka cenderung memilih menyerobot antrean. Tanpa disadari hal ini merugikan orang lain yang sudah patuh mengantre.

Antre di Berbagai Negara

budaya antre

Ilustrasi tempat antre (Freepik)

Adanya kontrol diri dan menekan egoisme menjadi hal utama dalam mengantre. Orang Inggris sangat baik dalam mengontrol diri ketika mengantre.

Sayangnya orang Inggris cenderung tidak suka menunggu, terutama dalam transportasi publik. Akibatnya, orang cenderung dorong mendorong ketika naik transportasi publik.

Bagaimana dengan negara lainnya? Orang Kanada dianggap sejumlah ahli sebagai orang yang cenderung tertib dalam urusan antre. Mereka cenderung sabar dalam berkendara dan mengantre dalam segala hal.

Orang Jepang juga sangat terkenal dengan budaya antre. Sejak usia dini, orang Jepang sudah diajarkan tentang kesabaran dalam mengantre. Bagi orang Jepang, mengantre adalah seni.

Beda cerita untuk penduduk China yang tergolong jarang menerapkan budaya mengantre. Orang lebih memilih berdesakan agar mendapat pelayanan lebih dulu.

Hampir serupa dengan penduduk China, orang Israel cenderung malas antre. Namun, kepeduliaan mereka terhadap penyandang disabilitas, orang lanjut usia, dan anak kecil diutamakan.

Orang Israel akan mempersilakan penyandang disabilitas, orang lanjut usia, dan anak kecil, untuk mengantre di bagian terdepan.

Jika selama ini orang cenderung menganggap mengantre hanya membuang waktu. Hal ini tidaklah tepat, alasannya mengantre juga punya manfaat.

Dilansir dari Revolusi Mental, budaya sabar mengantre mengajarkan orang untuk menghormati dan menghargai orang lain, serta disiplin.

Selain itu, mengantre juga melatih kesabaran kita serta menekan egoisme. Tiap orang sebaiknya menyadari jika kepentingan sosial sama pentingnya dengan kepentingan individu.

Jika merasa bosan mengantri, bisa menghabiskan waktu luang untuk bermain gadget atau berinteraksi dengan orang lain. Jadi masih mau malas antre?

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.