Ada Faktor Gen di Balik Orang Suka Makanan Asin

Orang yang mempunyai gen TAS2R38 cenderung memilih makanan dengan rasa asin. Penelitian membuktikan orang yang suka rasa asin akan menambahkan garam.

JEDA.ID–Mungkin tiap orang punya selera yang berbeda-beda soal makanan. Ada yang suka manis, asin, atau asam. Ternyata pemilihan rasa dan selera makan ikut dipengaruhi oleh faktor genetika. Bagi yang suka makanan asin dan gurih ternyata memiliki gen yang berbeda.

Penelitian yang dilakukan American Heart Association pada 2016 mencatat kebiasaan diet dari 407 responden yang memiliki risiko untuk mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian itu tidak sekadar mencatat dan memperhatikan pola makan para responden, namun juga dilakukan tes DNA.

Hasilnya, adanya perbedaan genetik yaitu gen TAS2R38 yang memengaruhi pemilihan rasa serta selera terhadap makanan. Sebagian orang dari total responden tersebut mengonsumsi garam dari makanan asin sebanyak 1,9 kali lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang tidak mempunyai kelainan genetik.

Orang yang mempunyai gen TAS2R38 cenderung memilih makanan dengan rasa asin. Bahkan, dalam beberapa penelitian telah membuktikan bahwa orang yang suka dengan rasa asin, otomatis akan menambahkan garam ke dalam masakannya.

Lalu orang mana yang paling suka makanan asin? Bila mengacu ke penelitian yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, orang Jawa Barat atau orang Sunda yang memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan asin paling tinggi se-Indonesia.

Ssaat ditanya mengenai kebiasaan konsumsi makanan asin, tercatat 54,1% orang Jawa Barat mengonsumsi lebih dari satu kali sehari. Sisanya, 34,4% sebanyak 1-6 kali sepekan, dan hanya 11,4% yang kurang dari tiga kali sebulan.

Bila orang Jawa Barat paling suka, orang Nusa Tenggara Timur (NTT) paling jarang makan makanan asin. Hanya 7% orang NTT yang mengonsumsi masakan asin lebih dari satu kali dalam sehari.

Data Tiap Provinsi

Berikut kebiasaan konsumsi makanan asin di Indonesia sesuai Riskesdas 2018.

Provinsi Lebih dari 1 kali sehari (%) 1-6 kali sepekan (%) Kurang dari 3 kali sebulan (%)
Aceh 13,2 53,8 33,0
Sumatera Utara 15,8 50,2 34,0
Sumatera Barat 11,2 47,1 41,7
Riau 16,3 55,2 28,5
Jambi 27,7 54,6 17,8
Sumatera Selatan 39,8 48,8 11,4
Bengkulu 27,3 44,8 27,9
Lampung 29,4 47,2 23,3
Bangka Belitung 13,4 48,9 37,7
Kepulauan Riau 13,6 49,8 36,6
DKI Jakarta 25,5 43,6 30,9
Jawa Barat 54,1 34,4 11,4
Jawa Tengah 32,0 41,7 26,3
DI Yogyakarta 30,3 40,3 29,3
Jawa Timur 28,7 43,3 28,0
Banten 33,1 45,0 21,9
Bali 12,3 37,8 49,9
Nusa Tenggara Barat 10,0 42,6 47,4
Nusa Tenggara Timur 7,0 38,5 54,5
Kalimantan Barat 22,2 53,6 24,2
Kalimantan Tengah 20,7 54,1 25,2
Kalimantan Selatan 22,4 52,4 25,2
Kalimantan Timur 23,9 46,9 29,2
Kalimantan Utara 22,6 42,6 34,9
Sulawesi Utara 10,1 30,8 59,1
Sulawesi Tengah 11,5 40,7 47,8
Sulawesi Selatan 20,2 49,8 30,0
Sulawesi Tenggara 13,2 41,2 45,6
Gorontalo 10,6 30,9 58,5
Sulawesi Barat 28,0 54,8 17,2
Maluku 15,3 36,6 48,1
Maluku Utara 21,1 36,2 42,7
Papua Barat 14,6 31,1 54,3
Papua 13,2 25,4 61,4
INDONESIA 29,7 43,0 27,3

Selama ini makanan khas Sunda kerap diidentikkan dengan lalapan atau bahan baku yang masih segar. Selain itu, tidak sedikit makanan cenderung asin. Urusan makan memang selera orang berbebeda-beda.

Namun, hal yang harus menjadi perhatian adalah masakan asin cenderung berisiko memicu penyakit kardiovaskular. Tidak ada salahnya suka makanan asin, namun tetap harus dikontrol ya.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.