Melawan Gagal Paham di Restoran Self Service

Lewat self service di restoran, pelanggan diajak ikut bertanggung jawab. Restoran di self service juga bisa mengembalikan budaya gotong royong.

JEDA.ID–Datang, pesan, bayar, ambil, dan bawa pesanan sendiri. Mungkin itu yang muncul di benak banyak orang saat masuk restoran atau kafe berkonsep self service. Nyatanya, konsep self service di restoran lebih dari itu.

Hal yang sering terlupa saat orang mengunjungi restoran self service adalah mengembalikan peralatan makan. Tak sampai di situ, pengunjung juga harus membereskan sampah sisa atau bekas makanan.

Jeda.id bertanya kepada beberapa orang, terkait persepsi mereka tentang restoran berkonsep self service, Senin (21/10/2019). Bagi Verina Cornelia, 21, self service berarti meninggalkan meja dalam kondisi bersih, seperti di awal ketika datang.

”Menurutku, self service itu mulai dari pesan makanan sampai membereskan meja sendiri,” tutur perempuan yang akrab disapa Verina.

Pendapat berbeda datang dari Margaretha Primayasti, 22. Menurut dia, restoran self service berarti pelanggan mengambil makanannya sendiri.

”Konsepnya sama kayak di rumah makan prasmanan. Jadi ambil sendiri makanannya sesuai porsi, terus bayar ke kasir,” jelas perempuan yang akrab disapa Yasti.

Serupa dengan Yasti, Anna Nuarita Ima Priasti, 21, juga mengatakan hal demikian. Baginya, di restoran self service hanya sebatas mencomot hidangan sendiri, tidak sampai membersihkan makanan.

Pendapat berbeda diungkapkan oleh Gita Cyntia Nusanto Putri, 21. Ia berasumsi jika tindakan self service dilakukan oleh penjaja makanan, bukan oleh pembeli.

”Menurutku self service itu berarti penjual melayani kebutuhan pembeli. Mulai dari pemesanan hingga membereskan meja dan peralatan makan,” ujar perempuan yang akrab disapa Gita.

Perkataan Gita semakin diperkuat dengan pernyataan Simon Edrick Agdani, 22. Ia mengatakan jika self service di restoran adalah bentuk pelayanan terhadap pelanggan, contohnya layanan pesan antar.

Bisa dibilang banyak restoran cepat saji yang menerapkan sistem self service. Namun, banyak yang merasa self service itu hanya sampai mengambil dan membawa makanan.

Seusai menyantap makanan, banyak orang melenggang bebas keluar dari restoran cepat saji. Gelas plastik, nampan, dan bungkus makanan berserakan di meja. Kadang beberapa pegawai harus meluangkan waktu untuk membersihkan sampah bekas makanan dan meja.

Kafe Antologi

restoran self service

kafe Antologi di Sleman menerapkan self service (jeda.id)

Hal berbeda berlaku di Antologi Collaborative Space, Sleman, DIY. Di kafe ini konsep self service berlaku utuh dari awal sampai akhir. Seusai memesan dan membayar hidangan di kasir, para pegawai menyiapkan pesanan pengunjung. Ketika hidangan siap, pegawai memanggil satu demi satu nama pemesan.

”Kak nanti jangan lupa, kalau sudah selesai, tolong kembalikan peralatan makannya ke meja samping. Terima kasih,” tutur seorang pegawai, seraya menyodorkan hidangan.

Ketika menerima nampan hidangan dari pegawai, berbagai reaksi terlihat jelas di raut wajah pelanggan. Ada yang mengangguk untuk mengiyakan himbauan pegawai. Namun, ada juga yang terlihat terkejut dengan konsep self service di Antologi.

Puas menyantap makanan, para pengunjung mulai membereskan sampah dan peralatan makan. Kemudian, mereka menaruhnya di sebuah meja kecil di sudut ruangan.

Pengunjung beranjak meninggalkan meja dalam keadaan bersih dan tanpa jejak sampah sedikit pun. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan kafe. Endria, 23, salah satu pelanggan Antologi mengatakan konsep self service adalah aturan utama di kafe itu.

”Aku melakukan self service di Antologi karena ada aturannya. Beda kalau pas di restoran cepat saji. Aku hanya ikutan saja,” katanya.

Awalnya sebatas peraturan, tapi seiring berjalannya waktu bisa bawa perubahan kebiasaan. Salah satu barista di Antologi mengaku jika, self service sudah mendarah daging dalam kebiasaannya.

”Saya sudah terbiasa self service. Sampai kalau di burjo [warung bubur kacang ijo] atau warung mi ayam, saya sampai mau bereskan sendiri,” ujar Jon.

Antologi salah satu restoran yang mengusung konsep self service. Konsep ini sudah hadir sejak Mei 2017. ”Tepatnya saat Antologi mulai beroperasi,” ujar Hutomo, selaku Manajer Bar and Pantry Antologi, kepada jeda.id.

Nyaman Bersama

Antologi menerapkan konsep self service lantaran ingin mengajak pelanggan untuk bertanggung jawab akan kenyamanan bersama. Selain itu, Hutomo mengatakan pemberlakuan konsep ini membuat barista lebih fokus dalam hal membuat menu serta melayani konsumen.

”Selain adanya efisiensi biaya operasional bar. Hal ini juga membuat barista lebih fokus dalam hal melayani konsumen, khususnya penyajian makanan,” jelasnya.

Bukan hanya itu saja, Jon seorang barista di Antologi menjelaskan konsep restoran self service ini juga sebagai upaya pengembalian budaya gotong royong.

Self service di Antologi seakan memutar ingatan kembali pengunjung akan etika dasar yang sempat diajarkan waktu SD. ”Contohnya kayak mengembalikan kursi, peralatan makan, dan lain-lain,” kata Angel, barista lainnya.

Pemberlakuan self service di Antologi, hanyalah secuplik alasan singkat penerapannya di restoran. Masih ada alasan tersirat lainnya di balik penerapan konsep ini. Dikutip dari Expats.hk, Senin (21/10/2019), ada beberapa alasan restoran menerapkan self service.

Pertama meringankan tugas pegawai restoran atau kafe. Kemudian minimnya jumlah pekerja. Di kala restoran ramai pengunjung membuat pegawai harus bekerja lebih ekstra. Hal ini termasuk membersihkan sampah dan meja.

Mempraktikkan self service turut meringankan tugas pegawai restoran. Walau bersifat anjuran, namun tak ada salahnya membantu pekerja. Kemudian melatih sikap tenggang rasa kepada sesama.

Pekerja restoran juga punya hak dan derajat yang sama. Ketika melakukan self service, hal ini adalah bentuk tenggang rasa, lantaran melatih diri untuk tidak egois.

Selain itu, self service di restoran juga meningkatkan mutu serta kebersihan makanan Kekurangan pegawai menuntut pekerja lebih multitasking. Contohnya setelah membereskan sampah belas makanan, langsung menyiapkan makanan.

Pemberlakuan self service ikut menurunkan risiko kontaminasi bakteri pada hidangan. Alasannya, pegawai restoran hanya berfokus pada satu pekerjaan.

Tak Semua Sepakat

Self service

Ilustrasi self service (Freepik)

Namun, tidak semua konsumen sepakat dengan konsep self service. ”We pay, you serve [kami bayar, anda layani]. Sudah bayar mahal kok masih self service? Pelanggan adalah raja,” tutur Bernetta Nindya, 20.

Bagi perempuan yang akrab disapa Nindy, self service tidak seharusnya diberlakukan. Alasannya, konsumen sudah membayar mahal untuk dilayani. Nindy bukan satu-satunya orang yang enggan menerapkan self service. Gita pun terkadang malas menerapkannya.

Dilansir dari Must Share News ada beberapa alasan malas menerapkan self service. Misalnya sudah ada petugas yang membereskan sampah serta membersihkan meja.

Kadang mereka merasa sudah membayar mahal untuk makanan, termasuk pelayanan membereskan meja. Termasuk juga takut dianggap aneh ketika mempraktikkan self service.

Walau terkadang orang malas menerapkan self service, ternyata konsep ini memiliki dua manfaat. Menurut Stefiani Mulia Ekaputri, 25, adanya praktik self service, bisa melatih orang untuk mandiri dan peka dengan lingkungan.

“Menurutku bagus sih, karena melatih orang jadi mandiri dan peka sama lingkungan. Soalnya, kalau self service harus bereskan sendiri,” jelas perempuan yang akrab disapa Stefi.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Margareta Wulan Enggal Pinesti, 22. ”Kayak lebih melatih diri sendiri buat peka asal ada instruksi dari kafenya. Selain itu, adanya kesadaran diri buat self service juga penting,” tutur perempuan yang akrab disapa Enggal.

Hutomo juga merasakan adanya manfaat dari pemberlakuan self service di Antologi. Ia merasa pelanggan Antologi lebih bisa menghargai ruang publik.

”Awalnya banyak pelanggan yang mengeluh bahkan tidak mengenal konsep ini. Namun, seiring berjalannya waktu, pelanggan semakin menghargai ruang publik,” jelas dia.

Selain itu, menurut Hutomo, manfaat tidak hanya dirasakan oleh pelanggan Antologi. Para barista pun juga mendapat manfaat dari pemberlakuan self service.

Barista lebih bahagia karena pekerjaan lebih ringan. Mereka tidak harus berkeliling mengambil peralatan makan dan minum yang kotor.

Memang self service bukanlah sebuah keharusan atau kewajiban saat datang ke restoran. Jadi saat datang ke restoran siap self service?

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.