Harmoni Nongkrong di Kafe: Lepas Penat, Tugas, dan Wifi

Kafe tidak hanya jadi tempat nongkrong karena saat ini telah ada pergeseran nilai guna yang mengarah pada nilai tanda.

JEDA.ID–Kafe identik dengan tongkrongan anak muda. Biasanya kafe didesain unik dan kekinian agar menarik pelanggan. Nongkrong di kafe seakan menjadi salah satu gaya hidup kekinian bagi sebagian mahasiswa.

Nongkrong di kafe tidak hanya sekadar ngobrol atau makan. Kini sebagian mahasiswa kongko-kongko di kafe untuk mengerjakan tugas, rapat, hingga berfoto-foto ria. Fasilitas utama kafe yang banyak diburu tentunya adalah Wifi gratis dan arsitektur yang menarik mata.

Mahasiswa Teknologi Informasi Politeknik Negeri Malang, Eka Pratitis, 21, mengaku sering ke kafe karena ingin nongkrong dengan tempat yang ia rasa nyaman.

”Saya sering ke kafe untuk nongkrong. Biasanya saya mencari kafe yang nyaman menurut saya. Tempat yang simpel, tidak terlalu ramai, dan tempat duduk yang tidak terlalu berdekatan. Agar leluasa kalau mengobrol dengan teman saya,” ujar dia kepada jeda.id, Selasa (20/8/2019).

Kopi menjadi menu andalannya saat nongkrong di kafe. Eka mengaku rata-rata merogok kocek sekitar Rp20.000-an saat kongko-kongko di kafe.

Hal serupa juga disampaikan A’yun, 22, mahasiswa Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Negeri Malang. Dia mengaku sering ngobrol bersama teman-temannya di kafe.

”Kalau saya di kafe biasanya hanya nongkrong saja. Karena tidak bisa mengerjakan tugas di keramaian. Biasanya kalau di kafe habis sekitar Rp50.000-an. Itu udah dapat es cokelat, kentang goreng, tahu krispi, sama udang keju,” kata A’yun.

Eksistensi Anak Muda

nonmgkrong di kafe

Ilustrasi anak muda nongkrong di kafe (Freepik)

Galih, 22, mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan UNS Solo mengaku menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk nongkrong di kafe. Biasanya dia datang ke kafe sekitar pukul 20.00 WIB dan pulang dua jam kemudian.

Cerita lain datang dari Andi, 21, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS Solo yang ke kafe untuk nongkrong sekaligus melakukan sesi pemotretan dan pengambilan video. ”Karena tempatnya instagramable,” kata Andi.

Menurut penelitian Ahmad Fauzi, I Nengah Punia, dan Gede Kamajaya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana yang berjudul Budaya Nongkrong Anak Muda Di Kafe (Tinjauan Gaya Hidup Anak Muda Di Kota Denpasar) disebutkan persepsi anak muda terhadap merebaknya kafe dianggap sebagai bagian dari gaya hidup.

Hal tersebut menjadi jawaban atas keberadaan dan eksistensi anak muda. Serta menjadikannya sarana pelepasan hasrat, selera, serta ajang pembentukan budaya dan gaya hidup.

”Secara fungsional kafe tidak hanya sebagai tempat menikmati kopi. Tempat bertemu atau nongkrong. Melainkan kafe saat ini telah mengalami pergeseran nilai guna [use values] yang mengarah pada nilai tanda [sign values],” sebut mereka sebagaimana dikutip dari laman Universitas Udayana.

Selain untuk nongkrong mahasiswa, kafe kerap digunakan untuk mengerjakan tugas para mahasiswa. Keberadaan Wifi gratis menjadi penopang utama.

”Saya kalau ke kafe paling sering mengerjakan tugas. Untuk mencari Wifi saja. Saya pernah ke kafe datang sekitar pukul jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Karena lembur mengerjakan tugas dan sambil ngobrol,” kata Chelvin, 21, mahasiswa Desain Interior ISI Solo.

Minimal Chelvin beli hidangannya sekitar Rp15.000-an. Tidak terlalu banyak karena berhemat.

Beragam Aktivitas

nongkrong di kafe

Ilustrasi perempuan beraktivitas di kafe (Freepik)

Ada juga Farah, 20, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS Solo yang sering rapat di kafe karena membutuhkan Wifi. ”Biasanya rapat 1,5-3 jam. Apalagi kalau saya rapat AIESEC ya penting Wifi karena semua kerjaan kita mesti pakai internet,” kata Farah.

Hal serupa juga diutarakan Atika, 21, mahasiswa Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada mengaku selain nongkrong dan mengerjakan tugas, kafe juga menjadi tempat rapat.

”Biasanya kalau ke kafe saya habis Rp50.000-an kalau sama makan. Kalau minum saja kadang ya Rp30.000-an,” kata Atika.

Pengamatan yang dilakukan jeda.id di salah satu kafe di Solo, kafe banyak mengunggulkan desain dan tata ruang. Kafe tersebut di desain seperti pada era 1990-an dan bernuansa klasik.

Di dalam kafe tersebut disediakan beberapa buku lama. Banyak aktivitas muda-mudi yang dilakukan. Ada yang membaca buku, sibuk dengan HP, berdiskusi, bersendau gurau, hingga mengerjakan tugas.

Di sela-sela keramaian kafe, ada pengunjung yang nyeletuk ke salah satu temannya, ”Eh, kamu sudah tahu password Wifinya apa?”

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.