Uang Saku Mahasiswa Rp2 Juta, Tak Lupa Beli Skincare

Uang saku mahasiswa sangat beragam. Rata-rata mereka menyiapkan budget untuk nongkrong.

JEDA.ID–Ketika ditanya berapa uang saku mahasiswa? Tentu jawabannya akan sangat beragam. Menariknya tidak sedikit mahasiswa yang memiliki uang saku Rp2 juta sebulan.

Uang saku Rp2 juta itu memang relatif, termasuk harus melihat biaya hidup kota tempat kuliah. Tidak bisa dipungkiri uang saku mahasiswa Rp2 juta itu cukup besar bila itu untuk mahasiswa di Kota Solo, Jawa Tengah.

Sebagai perbandingannya, uang saku sebanyak itu lebih tinggi dari upah minimum kota (UMK) Solo 2019 yang dipatok Rp1,8 juta. UMK sama-sama dipatok untuk pekerja bujang.

Padahal, uang saku Rp2 juta itu tidak termasuk biaya untuk sewa tempat tinggal seperti kontrakan atau indekos. Salah seorang mahasiswi yang menempuh pendidikan di Solo, Melly, 21, mengaku diberi uang saku Rp2 juta per bulan.

Sebanyak 15% ia gunakan untuk membeli skincare dan alat make up. Mahasiswi Univiersitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini mengatakan dalam sebulan dapat menghabiskan Rp300.000 untuk membeli skincare dan alat make up.

”Uang saku saya sebulan Rp2 juta. Saya makan habis Rp900.000 per bulan, biasanya sehari makan Rp30.000. Beli bensin Rp100.000 per bulan. Token listrik Rp100.000. Air sebulan Rp30.000. skincare dan make up Rp300.000-an. Untuk tugas Rp100.000 per bulan. Main atau nongkrong Rp100.000. Kalau ada sisa untuk ditabung atau kalau enggak ya untuk tambahan keperluan bulan depan,” kata dia kepada jeda.id, Selasa (13/8/2019).

Hal serupa juga diutarakan oleh Ika, 21, mahasiswi Jurusan Manajemen Universitas Negeri Surabaya ini. Dia juga menyisihkan sekitar 17% uang sakunya untuk membeli alat make up.

”Uang saku saya seminggu Rp200.000. Kalau sebulan ya sekitar Rp800.000-an. Untuk makan sekitar Rp450.000 per bulan. Untuk beli gas Rp16.000 dan galon Rp18.000 per bulan. Untuk nongkrong, saya biasa nongkrong di mal biasanya sebulan 4 kali atau sekitar Rp200.000 saya keluarkan untuk nongkrong. Kalau belanja bulanan biasanya Rp.75.000 per bulan. Make up Rp135.000 biasanya,” kata Ika.

”Tetapi kadang saya juga diberi tambahan uang saku Rp100.000 oleh saudara saya kalau saya main ke rumahnya. Kebetulan dekat dengan kampus saya,” tambah dia.

Cowok Rokok

Selain skincare dan make up ada salah seorang mahasiswa mengaku menghabiskan 16% uang sakunya untuk membeli rokok. Mahasiswa tersebut adalah Ardy, 21, mahasiswa Politeknik Negeri Malang yang mengaku dalam seminggu menghabiskan Rp32.000 untuk membeli rokok.

”Saya diberi uang saku Rp800.000. Uangnya untuk makan dan jajan sekitar Rp500.000. Beli rokok seminggu Rp32.000, jadi sebulan Rp128.000. Bensin seminggu Rp20.000 sebulan Rp80.000. Untuk listrik, kuota dan air sebulan biasanya habis Rp50.000. Kalau sisa ditabung atau untuk tugas. Kalau kurang ambil uang tabungan,” kata Ardy

Di luar kepentingan untuk tugas dan keperluan makan, beberapa mahasiswa yang menghabiskan 18% uang sakunya untuk membeli jajan. Aditiyan, 21, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Negeri Malang mengaku sisa uang selain kebutuhan makan dan lainnya ia pergunakan untuk jajan.

uang saku mahasiswa

Mahasiswa kongko-kongko di kantin kampus (Univeritas Brawijaya)

”Uang saku saya Rp1,5 juta per bulan. Untuk makan Rp700.000 per bulan. Bensin Rp150.000 per bulan. Kebutuhan kuliah Rp150.000. Kuota Rp80.000. Nongkrong sebulan biasanya 4 kali, sekali nongkrong bisa habis Rp25.000. Saya biasa nongkrong di coffee shop. Untuk membeli alat mandi biasanya habis Rp.50.000. Kalau sisa untuk jajan, mungkin sekitar Rp270.000an per bulan,” kata Aditiyan.

Dalam wawancara terhadap sejumlah mahasiswa lain, mereka rata-rata mendapatkan yang saku Rp1 juta-Rp1,2 juta. Uang tersebut tentunya mereka gunakan untuk keperluannya sebagai mahasiswa selama sebulan di tanah rantau.

Mahasiswi Politeknik Negeri Bandung, Dewi, 20, menyebut diberi uang saku Rp1 juta per bulan. ”Kalau sisa ya saya biarkan di ATM untuk tabungan,” kata Dewi.

Demuna, 21, mahasiswi Hubungan Internasional UNS Solo mengaku diberi uang saku Rp1,1 juta per bulan oleh orang tuanya. Uang itu dialokasikan untuk belanja bulanan seperti alat mandi dan make up Rp300.000, kemudian Rp800.000 untuk keperluan lain seperti makan Rp500.000 per bulan.

”Nongkrong tidak pasti sebulan sekali biasa habis Rp100.000. Pulsa Rp150.000 perbulan. Untuk listrik, air, sampah, dll biasanya Rp50.000-an,” kata dia.

Investasi untuk Mahasiswa

Serli, 21, mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Jember mengaku dirinya diberi uang saku Rp1,2 juta per bulan. Untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, mi instan, telur, minyak dan lainnya biasanya habis sekitar Rp130.000-an. Itu cukup untuk makan 15 kali dalam sebulan.

Bila makan warung biasanya habis Rp375.000 perbulan. Uang sakunya juga digunakan perempuan ini untuk membeli baju rata-rata Rp200.000.

Uang saku mahasiswa memang sangat beragam. Namun, selama ini yang kerap luput dari perhatian adalah masih sedikitnya mahasiswa yang memikirkan masa depan seperti memulai investasi dari uang saku mereka.

investasi bagi pemula

Ilustrasi investasi (Freepik)

Investasi kedengarannya cukup berat untuk kalangan mahasiswa. Namun, saat ini ada banyak pilihan investasi dengan nominal yang tidak terlalu besar misalnya Rp100.000. Salah satunya investasi melalui reksa dana. Atau bisa juga melalui saham.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut produk investasi reksa dana sangat cocok bagi para investor yang memiliki banyak keterbatasan, seperti waktu terbatas, dana terbatas, informasi terbatas, dan pengetahuan investasi yang terbatas.

Di samping itu, instrumen ini juga mampu mengurangi risiko investasi karena disebarkan pada berbagai produk investasi. Tetapi bukan berarti reksa dana bebas risiko. Untuk itu, investor tetap perlu mempelajari berbagai risiko produk ini.

Sedangkan untuk investasi saham, OJK meminta generasi muda harus buang stigma bahwa investasi saham itu untung-untungan, ribet, dan mahal. ”Enggak kok. Sekarang dengan modal Rp100.000 atau setara dengan dua kali ngopi di kafe, kamu udah bisa ikut berinvestasi saham,” sebut OJK di laman sikapiuangmu.ojk.go.id.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.