Ironi Tiap Penduduk Indonesia Hasilkan 698 Kg Sampah Plastik

Dengan jumlah penduduk sekitar 268 juta orang, tiap penduduk Indonesia menghasilkan 698 kilogram sampah plastik.

JEDA.ID–Ketika 187,2 juta ton sampah plastik dihasilkan di Indonesia setiap tahunnya, tiap penduduk punya peran sebagai penyumbang sampah itu. Tidak tanggung-tanggung, setiap penduduk Indonesia menghasilkan 698 kilogram sampah plastik dalam setahun.

Kondisi ini tidak lepas kebiasaan dan ketergantungan penduduk Indonesia terhadap berbagai barang berbahan plastik, salah satunya kantong plastik.

Jenna R. Jambeck serta rekannya mengungkap lima negara penghasil sampah plastik terbanyak. Dalam Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean, China menduduki posisi pertama sebagai penghasil sampah plastik terbanyak di dunia.

Negeri Tirai Bambu itu menghasilkan 262,9 juta ton sampah plastik dalam setahun. Per 3 Oktober 2019, jumlah penduduk China sudah mencapai 1,4 miliar.

Artinya tiap penduduk China menghasilkan sampah plastik sebesar 187 kilogram setahunnya. Bila dirata-rata setiap hari penduduk China membuang sampah plastik sebesar 0,5 kilogram.

Secara jumlah, Indonesia berada di urutan kedua di bawah China yaitu 187,2 juta ton sampah plastik.

Dengan jumlah penduduk sekitar 268 juta orang, tiap penduduk menghasilkan 698 kilogram sampah plastik setahun atau 1,9 kilogram dalam sehari.

Lantas penduduk manakah yang paling banyak memproduksi sampah plastik? Penduduk Filipina menjadi penghasil sampah plastik terbesar di dunia.

Secara jumlah, sampah plastik di Filipina lebih rendah dari China dan Indonesia. Filipina berada di urutan ketiga sebagai penghasil sampah plastik terbesar dengan 83,4 juta ton setahunnya.

Negara kepulauan ini punya 104,9 juta penduduk pada 2017 lalu. Artinya tiap orang menghasilkan sekitar 795 kilogram sampah plastik dalam setahun. Rata-rata sehari mereka membuang sekitar 2 kilogram sampah plastik.

Data BPS

Data berbeda disampaikan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Mereka merilis data sebanyak 6,4 juta ton sampah plastik dihasilkan di Indonesia tiap tahunnya.

Sekitar 3,2 juta ton limbah plastik dibuang ke perairan Indonesia. Sedangkan, 10 miliar lembar kantong plastik, atau setara 85 ribu ton kantong plastik dibuang ke lingkungan.

Lantas apa yang menyebabkan sampah plastik di Indonesia tinggi? Salah satu faktornya adalah ketergantungan masyarakat pada penggunaan kantong plastik.

Data dari Sensus Ekonomi 2016 menunjukkan jumlah Usaha Mikro Kecil (UMK) dan Usaha Mikro Besar (UMB) di Indonesia mencapai 26 juta.

Dilansir dari Greeneration Foundation, Sabtu (5/10/2019), setiap harinya gerai perbelanjaan di Indonesia bisa menggunakan 300 kantong plastik.

Bila dikalkulasi dengan banyaknya pelaku usaha di Indonesia, jumlah kantong plastik yang beredar bisa mencapai 2,8 triliun kantong plastik.

Mirisnya, 50 persennya adalah kantong plastik sekali pakai. Kira-kira ada 3,9 miliar plastik sekali pakai terbuang.

Tingginya produksi plastik turut memengaruhi perilaku masyarakat. Tiap tahun tingkat konsumsi plastik per kapita adalah 17 kilogram.

Tiap tahun, angka ini terus meningkat sekitar enam hingga tujuh persen. Pada 2025, diperkirakan tingkat konsumsi plastik per kapita mencapai 31 kilogram.

Plastik terbuat dari bahan kimia yang tidak mudah terurai. Butuh ratusan bahkan ribuan tahun agar plastik bisa terurai.

Waktu lama tak jadi jaminan plastik pasti terurai. Lantaran, ratusan bahkan ribuan tahun hanya membuat plastik terpecah menjadi mikroplastik.

Tingkat Daur Ulang

sampah plastik di Indonesia

sampah plastik di Indonesia (Freepik)

Data dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) memperlihatkan, tingkat daur ulang plastik masih dibawah 10 persen.

Sedangkan limbah plastik lainnya, hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ada sekitar 6.000 hingga 245.000 metrik ton (MT) limbah plastik dibuang ke laut.

Artinya, perairan Indonesia dipenuhi sekitar enam juta hingga 245 juta kilogram limbah plastik. Maka, tidak mengherankan jika banyak hewan laut ditemukan mati terdampar dengan perut penuh sampah plastik.

Berikut data jenis sampah plastik yang mendominasi perairan Indonesia:

  • Botol plastik: 1.578.834
  • Tutup botol: 822.227
  • Bungkus makanan: 762.353
  • Kantong plastik: 520.900
  • Minuman plastik: 419.380
  • Sedotan: 409.087
  • Jenis plastik lainnya: 368.655
  • Sterofoam: 365.584

Dari total 5.247.020 sampah plastik, sebanyak 4.357.465 adalah sampah plastik sekali pakai. Bagaimana sikap pemerintah menghadapi masalah sampah plastik di Indonesia?

Dikutip dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, pemerintah menargetkan dalam 2019 sebesar 80 persen sampah sudah terkelola.

Tiap tahun, langkah pemerintah dalam mengurangi timbunan sampah plastik terus meningkat. Berikut datanya:

  1. 2015 (18 persen atau 13,5 juta ton)
  2. 2016 (30 persen atau 30 juta ton)
  3. 2017 (45 persen atau 34 juta ton)
  4. 2018 (62 persen atau 47,2 juta ton)
  5. 2019 (80 persen atau 61,5 juta ton)

Tidak hanya meningkatkan pengelolaan sampah plastik. Pemerintah juga menargetkan dalam 2019, adanya penurunan 20 persen produksi sampah. Berikut datanya:

  1. 2015 (10 persen atau 5,6 juta ton)
  2. 2016 (12 persen atau 6,7 juta ton)
  3. 2017 (15 persen atau 8,5 juta ton)
  4. 2018 (18 persen atau 10,3 juta ton)
  5. 2019 (20 persen atau 11,6 juta ton)

Jika angka ini terus bertambah, diharapkan pengelolaan sampah terus meningkat tiap tahunnya. Tentu langkah ini juga harus didukung oleh masyarakat. Salah satunya adalah dengan mendaur ulang sampah.

Sampah plastik

Ilustrasi sampah plastik (Freepik)

Langkah pemerintah juga termasuk mengurangi penggunaan plastik. Pemerintah mengeluarkan Surat Edaran KLHK No. S.1230/PSLB3-PS/2016.

Surat edaran ini berisi tentang penerapan kantong plastik berbayar di 23 kota di Indonesia serta seluruh gerai perbelanjaan.

Beberapa saat setelah mengedarkan surat ini, pemerintah kembali mengeluarkan Surat Edaran No. 8/PSLB 3/PS.PLB.0/5/2016.

Surat edaran ini berisi langkah pengurangan sampah plastik di Indonesia dengan membayar kantong plastik sekali pakai. Sayang, langkah ini masih dirasa belum efektif mengurangi sampah plastik.

Kisah dari Negara Lain

Pemerintah harus memikirkan solusi lainnya yang dirasa lebih efektif, dalam mengurangi penggunaan plastik.

Berkaca dari beberapa negara lain, banyak langkah dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik. Contohnya Bangladesh, Asia Selatan.

Sebagaimana dikutip dari Detikcom, Bangladesh menjadi negara pertama yang melarang penggunaan kantong plastik.

Sejak 2002, masyarakat negara ini sudah menggunakan tas belanja berbahan goni, yang lebih ramah lingkungan.

Selanjutnya di Himachal Pradesh, India. Di wilayah ini larangan penggunaan plastik berlaku sejak 2003. Langkah baik ini kemudian diikuti oleh negara bagian India lainnya.

Negara lainnya, Rwanda di Afrika Selatan. Rwanda sudah melarang penggunaan plastik secara total pada 2008. Bahkan ada penyitaan di bandara atau di tempat umum, jika ditemui adanya kantong plastik.

Sudah banyak negara yang melarang penggunaan plastik, seperti Irlandia, Italia, Denmark, Bulgaria, Jerman, New York, Texas, Uganda, Somalia, dan berbagai negara lainnya.

Memang dalam hal pelarangan plastik, pemerintah sudah memulai langkah yang cukup baik. Namun, pemerintah harus lebih tegas lagi dalam menetapkan kebijakan pelarangan plastik. Bila tidak, sampah plastik di Indonesia akan kian menggunung.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.