Terumbu Karang untuk Dilihat, Bukan Disentuh

Satu sentuhan saja bisa mengakibatkan  shock terhadap proses pertumbuhan karang yang dapat menghambat proses perkembangan terumbu karang.

JEDA.ID–Keindahan bawah laut tidak dapat dinikmati jika kita hanya melihatnya dari perahu. Satu-satunya cara untuk menikmati keindahan bawah laut lewat snorkeling ataupun menyelam (diving). Pesona alam bawah laut yang kerap memikat mata adalah terumbu karang.

Salah satu hal yang harus diketahui saat snorkeling dan diving adalah larangan untuk menyentuh terumbu karang. Sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jumat (26/7/2019), sebagian besar kehidupan laut pada dasarnya tidak berbahaya bagi kegiatan snorkeling dan penyelaman.

Namun, khusus untuk aktivitas snorkeling dan penyelaman yang dilakukan di dalam ekosistem terumbu karang, aktivitas sentuhan manusia itu mengganggu terumbu karang bahkan membunuhnya. Pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang inilah yang menjadi alasan utama kenapa larangan tersebut diberlakukan.

”Pengaruh negatif sentuhan terhadap manusia sebenarnya lebih mengarah kepada keselamatan diri manusia itu sendiri. Ada beberapa jenis hewan yang hidup di ekosistem terumbu karang yang dianjurkan untuk tidak disentuh karena berbahaya,” sebagaimana tertulis di laman KKP.

Ada Sea Fern (bulu ayam). Meskipun tampilannya lentur seperti bulu ayam pada kemoceng, tetapi permukaan biota ini dipenuhi oleh sel penyengat. Sel ini bernama nematocyst yang mengandung racun yang dapat menimbulkan sensasi rasa gatal. Kadang  bercampur rasa panas jika masuk ke dalam kulit dan akan menjalar dengan cepat saat digaruk.

Kulit akan memerah dan bentol-bentol dengan ukuran besar-besar seperti orang yang mengalami gejala alergi. Racunnya pun mudah berpindah apabila bagian yang tersengat bergesekan dengan bagian tubuh yang lainnya.

Untuk beberapa orang dengan tingkat kepekaan tertentu, racun hydroid dapat juga berakibat fatal. Penanganan ketika tersengat hydroid adalah mengoleskan alkohol 70 % ke bagian yang terkena atau dengan menggunakan asam cuka.

Kemudian ada Karang api (Millepora sp.). Karang api dapat dibedakan dengan jelas dari karang bercabang sejati. Permukaan karang api lebih halus, berwarna kuning kecoklatan tanpa lubang-lubang koralit seperti pada karang Acropora.

Sengatan Karang Api

Ciri yang paling menyolok adalah warna keputih-putihan yang terdapat di ujung cabang serta sel penyengat nematocyst yang tampak seperti benang-benang halus yang terjulur. Sel penyengat inilah yang dapat membuat kulit terasa panas atau melepuh jika terkena atau menyentuh karang ini. Ini bisa menyebabkan kulit berwarna merah kecokelatan.

Rasa sakit akibat sengatan karang api seperti terbakar api dan agak sulit terdeteksi karena racunnya baru mulai menyebar 5-30 menit setelah tergores. Efek yang dihasilkan bisa bervariasi dari iritasi ringan sampai sakit parah dan bahkan terkadang berhubungan dengan mual dan muntah.

Kadang ada pula anemon laut yang terlihat seperti bunga yang hidup di dasar laut sehingga disebut juga mawar laut. Di balik keindahannya, tentakel ini menghasilkan racun neurotoksin untuk melumpuhkan mangsanya.

terumbu karang

Ilustrasi terumbu karang (Freepik)

Pengaruh pada manusia, jika tersentuh dengan kulit dapat menyebabkan rasa terbakar dan perih. Hell’s Fire Anemon adalah salah satu jenis anemon yang berbahaya.

Tidak hanya menimbulkan rasa sakit dan pembengkakan, tetapi juga pembusukan daging pada tempat yang disengat beserta kerusakan otot dan syaraf, dengan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu relatif lama.

Selain itu, sentuhan manusia terhadap terumbu karang bisa berdampak buruk bagi ekosistem terumbu karang. Ini dikarenakan sifat terumbu karang yang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan.

Kondisi Terumbu Karang

Proses pertumbuhan karang sangatlah rumit, sehingga laju pertumbuhannya sangat lambat yaitu sekitar 1 cm per tahun. Satu sentuhan saja bisa mengakibatkan shock terhadap proses pertumbuhan karang yang dapat menghambat proses perkembangan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian pada karang tersebut.

”Hal ini dikarenakan pada kulit kita menempel residu kimia atau kontaminasi. Bila kita menyentuh [bagian polip] karang, ada proses transfer residu kimia tersebut yang meskipun dalam jumlah kecil bersifat racun bagi proses metabolisme karang. Penggunaan sarung tangan pun tidak dianjurkan karena terbuat dari senyawa kimia yang tentunya bersifat racun terhadap metabolisme karang,” kata KKP.

Tidak hanya itu saja, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2018 lalu menyebutkan hanya 70 site terumbu karang atau 6,56%yang berstatus sangat baik dan 245 site atau 22,96% berstatus baik.

Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI melakukan penelitian dan pemantauan terumbu karang terhadap 1067 site di seluruh Indonesia. Dari penelitian itu sebagian besar masuk kategori jelek. Yaitu karang dalam kategori jelek 386 site (36,18%).

Secara umum, terumbu karang dalam kategori baik dan cukup mengalami tren penurunan, namun sebaliknya kategori sangat baik dan jelek mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Meningkatnya prosentase terumbu karang kategori jelek lebih banyak disebabkan oleh faktor alami seperti perubahan iklim yang mengakibatkan coral bleaching (pemutihan karang), dan hama/penyakit.

Faktor antropogenik seperti sedimentasi, pencemaran dan eutrofikasi hingga pengeboman dan pengambilan karang yang berlebihan juga berkontribusi pada penurunan kondisi karang.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.