Ini Sejumlah Fakta Unik Myanmar yang Saat Ini Sedang Bergejolak

Saat ini Myanmar sedang bergejolak karena mengalami kudeta militer.

JEDA.ID-Saat ini Myanmar sedang mengalami kudeta militer. Tapi sebenarnya ada sejumlah fakta unik Myanmar yang layak diketahui.

Apa sajakah fakta unik Myanmar tersebut, simak ulasannya di sini. Siapa tahu suatu saat nanti setelah pandemi berlalu, Myanmar menjadi salah satu destinasi wisata Anda. Salah satu fakta unik Myanmar adalah  negara tersebut punya ruas jalan yang sangat lebar, terdiri dari 10 lajur. Hanya, kendaraan yang melintas di jalan itu nyaris nol. Kok bisa?

Jalanan tersebut berada di kota Naypyidaw, yang merupakan Ibu Kota Myanmar. Naypyidaw resmi menjadi ibukota negara terhitung sejak tahun 2005, menggantikan kota Yangon.

Baca Juga: Negara-Negara Ini Ubah Kebijakan Pemberian Vaksin AstraZeneca Kepada Manula, Mengapa Ya?

Dilansir dari Business Insider dan detikcom, Kamis (4/2/2021), kota Naypyidaw memiliki luas sebesar 7.054 km persegi, empat setengah kali lebih luas dari Kota London di Inggris. Meskipun luas, kota Naypyidaw hanya ditempati satu juta jiwa penduduk saja. Berbanding terbalik dengan jumlah populasi penduduk di London yang menyentuh angka 8,7 juta jiwa.
Sarana dan fasilitas dibangun oleh pemimpin rezim militer kala itu, termasuk dalam infrastruktur jalan raya. Tak tanggung-tanggung salah satu ruas jalan dibuat sangat lebar, sampai delapan buah lajur untuk satu arah.
Satu ruas jalan raya di kota Naypyidaw malah ada yang mencapai 10 lajur sekaligus. Jika ditotal, jumlah kedua ruas di jalan raya dapat mencapai 20 lajur. Saking lebarnya, jalan raya tersebut bisa digunakan untuk bermain sepak bola.

Tetapi ruas jalan yang lebar tak sebanding dengan pengendara atau volume kendaraan yang melintas. Nyatanya jalanan terlihat sangat lengang dan lebih menyerupai sebuah kota mati tak berpenghuni.

Tidak banyak aktivitas pengendara yang terlihat di ruas jalan raya kota Naypyidaw. Bahkan saat memasuki rush hour, terlihat sangat kosong dan sesekali terdapat bus yang melintas pada jalan raya tersebut.
Untuk sarana seperti transportasi publik, Kota Naypyidaw memiliki bus umum dan juga taksi. Namun transportasi antara Naypyidaw dengan kota tetangga terbilang sulit dikarenakan belum adanya sistem kereta commuter. Semisal ingin berpergian dari Naypyidaw ke Yangon, satu-satunya akses yang terjangkau adalah dengan menaiki bus.

Baca Juga: Setelah Disuntik Vaksin Corona, Ini yang Boleh Dilakukan dan tidak Boleh Dilakukan

Melihat kondisi jalan raya yang lebar dan tak sebanding dengan pengendara yang melintas, nampaknya menjadi sia-sia. Diyakini jalanan dengan jumlat lajur yang sangat banyak tersebut dibuat sebagai antisipasi pertumbuhan jumlah kendaraan yang nantinya akan memadati kota. Diketahui, banyak kota-kota di dunia yang kini kewalahan mengatasi volume lalulintas.

Tapi setelah lebih dari 10 tahun menjadi ibukota, Naypyidaw nyatanya masih sangat sepi.

Fakta unik Myanmar lainnya adalah setir kanan tapi berada di sisi kanan. Kok bisa? Asal tahu saja, di dunia ini ada sejumlah negara memakai setir kanan. Indonesia, Inggris, Jepang, Australia, dan Myanmar jadi contoh negara yang menggunakan setir kanan. Tapi khusus di Myanmar, orientasi jalan pun juga berada di sisi kanan jalan.

Setir Kanan, Jalan di Sisi Kanan

Di Indonesia penggunaan setir kanan, arah lalu lintas berorientasi ke sisi kiri jalan, sehingga menyalip pun disarankan dari sisi kanan –sesuai dengan posisi duduk sopir. Sebaliknya, seperti yang digunakan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lain, negeri setir kiri dan berorientasi ke sisi kanan jalan.

Kecuali Myanmar, dikutip dari Global New Light Myanmar dan detikcom, Senin (1/2/2021), mayoritas mobil di Myanmar menggunakan setir kanan tetapi juga berorientasi ke lalu lintas sisi kanan jalan. Padahal dengan kondisi seperti ini, sang sopir jelas jadi tak bisa “mengintip” kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan.

Baca Juga: Pergi Belanja Aman Saat Pandemi, Bagaimana Supaya Tidak Tertular Corona?

Sebagian besar mobil bekas yang berseliweran di Myanmar diimpor dari Jepang, yang juga dari sebelah kanan
Usut punya usut, ini merupakan instruksi langsung dari Jenderal Ne Win, yang juga merupakan presiden ke-4 Myanmar. Pada tanggal 6 Desember 1970, ia memulai misi yang membuat semua pengendara bermotor di Myanmar berpindah dari jalur kiri ke jalur kanan untuk pertama kali dalam hidup mereka.

Tidak ada yang tahu pasti mengapa Jenderal Ne Win mengubah jalur dari kiri ke kanan. Muncul beragam teori yang berseliweran.

Salah satunya, ia mendapat saran dari astrolog bahwa negara itu akan lebih maju jika menggunakan orientasi lalu lintas sebelah kanan. Rumor pada saat itu berembus jika U Ne Win mengambil langkah atas nasihat seorang astrolog, untuk menghindari kesialan yang akan datang.

Teori lain disebutkan jika sang pemimpin sudah mengunjungi sejumlah negara asing, jenderal tersebut mengamati bahwa sebagian besar negara mengemudi di sebelah kanan dan mengusulkan agar Myanmar mengikuti karena negara tersebut harus terhubung ke jaringan jalan internasional di masa depan.

Baca Juga : Mau Bikin Paspor Di Masa Pandemi? Begini Caranya

Namun perlahan Myanmar mulai meninggalkan setir kanan, dan sejak 2019 hanya setir kiri yang bisa diimpor ke Myanmar.

“Meskipun negara kami beralih ke mengemudi di sisi kanan pada tahun 1970, Myanmar tidak mengimpor kendaraan di sisi kiri, yang sesuai untuk sistem tersebut,” kata Director of the Road Transport Administration Department (RTAD), U Lian Cin Mang.

Menurut RTAD terdapat lebih dari 1 juta kendaraan bermotor di seluruh Myanmar, dan baru sekitar 200.000 di antaranya adalah setir kiri, yang sesuai untuk sistem jalan raya di Myanmar.

“Dewan Keamanan Jalan Nasional telah merumuskan Rencana Aksi Keselamatan Jalan Nasional 2014-2020. Pada 2013, lebih dari 4.000 orang tewas dalam kecelakaan di jalan raya. Kami mengambil langkah-langkah ini untuk mengurangi kematian hingga setengahnya pada tahun 2020. Jadi, kami perlu secara bertahap mengurangi jumlah kendaraan setir kanan, yang tidak sesuai dengan sistem jalan,” kata U Lian Cin Mang.

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.