7 Tips untuk Atasi Klaster Keluarga Virus Corona

Munculnya klaster keluarga ini diakibatkan keluarga tak menerapkan protokol kesehatan setiap saat.

JEDA.ID-Kasus positif virus Corona (Covid-19) klaster keluarga menjadi kekhawatiran tersendiri seiring meningkatnya aktivitas masyarakat. Tenang, ada sejumlah tips untuk mencegah terjadinya klaster keluarga akibat infeksi Covid-19.

Simak ulasannya di tips kesehatan dan info sehat kali ini yang bakal mengulas tips mengatasi klaster keluarga akibat Covid-19. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada Januari 2021 lalu, setidaknya ada 612 orang yang masuk ke dalam klaster keluarga Covid-19 dari total kasus konfirmasi positif virus Corona sebanyak 1.663 orang.

Peningkatan kasus ini sendiri menjadi kekhawatiran masyarakat karena rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan menjadi tempat berlindung justru juga bisa menjadi salah satu sumber penularan.

Baca Juga: Hore! Mobil Terbang Siap Hadir 2022

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan risiko penularan Covid-19 yang disebabkan klaster keluarga 10 kali lebih tinggi dibandingkan klaster lain.

Munculnya klaster keluarga ini diakibatkan keluarga tak menerapkan protokol kesehatan setiap saat.

“Kalau secara teori, kurang lebih klaster keluarga itu risiko penularannya 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan klaster yang lain. Karena anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain pasti akan lebih sulit menjaga jarak,” katanya dalam diskusi virtual seperti dikutip dari Liputan6.com, Selasa (5/1/2020).

Dewi menyebut, dalam lingkungan keluarga, interaksi antara satu sama lain sangat dekat. Penggunaan masker juga biasanya tak mungkin setiap saat diterapkan.

“Kalau bersama anak tidak mungkin berjauh-jauhan. Penggunaan masker juga tidak mungkin setiap hari, setiap saat pakai masker. Jadi klaster keluarga lebih didominasi oleh nature atau karakteristik orang berinteraksi di dalam rumah memang lebih dekat. Jadi physical kontaknya sangat dekat,” ujarnya.

Baca Juga:  5 Perbedaan Banjir dan Genangan Versi Lapan

Menurut Dewi, ada dua penyebab terjadinya penularan Covid-19 di lingkungan keluarga. Pertama, salah satu anggota keluarga terjangkit Covid-19 saat berada di luar rumah. Kedua, ada tamu yang berkunjung, tapi sudah terinfeksi Covid-19.

Guna mencegah penularan Covid-19 di lingkungan keluarga, Dewi menyarankan keluarga untuk menerapkan protokol kesehatan menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan ketika kedatangan tamu.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam asal Surabaya, RA Adaninggar, hal ini merupakan hal yang wajar karena berada di dalam rumah memungkinkan orang-orang untuk kurang waspada daripada ketika berada di luar rumah.

Dalam siaran langsung Instagram bersama dengan konselor laktasi Citra Ayu Mustika, Rabu (18/02/2021), dokter yang disapa sebagai Ning itu juga berbagi beberapa tips dan informasi terkait klaster keluarga Covid-19. Berikut ini sejumlah tips atasi klaster keluarga akibat Covid-19 seperti dikutip dari Bisnis.com, Kamis (18/2/2021):

1. Jangan merasa aman ketika berada di rumah

Ning menegaskan pentingnya untuk tidak memiliki pemikiran bahwa berada di rumah berarti sudah merasa aman. Ia beralasan bahwa yang penularan yang sering terjadi adalah ketika ada keluarga yang saling mengunjungi satu sama lain.

2. Lebih hati-hati saat di rumah

Ia juga mengimbau untuk berusaha meminimalkan risiko penularan, terutama sehabis bepergian dari luar rumah dan ketika menyambut tamu dari luar rumah. Beberapa upaya minimal yang bisa dilakukan dan dibiasakan misalnya dengan membersihkan diri sesaat setelah sampai di rumah dan memakai masker ketika ada tamu dari luar rumah.

Baca Juga: Masalah pada Gusi Bisa Akibatkan Kematian Pasien Covid-19, Kok Bisa?

“Salah satu rekomendasi kapan kita masker itu kalau ada tamu di rumah, artinya dia tidak satu rumah dengan kita tapi dia sering di situ atau mengunjungi kita,” jelasnya.

3. Tunggu sampai benar-benar sembuh

Meski panduan resmi terkait rekomendasi ahli untuk hubungan suami istri belum ada, ia tetap menyarankan kepada pasangan suami istri untuk menunda kegiatan tersebut dengan berpegang pada panduan resmi terkait kriteria kesembuhan setelah melewati masa penularan 10-14 hari.

“Bukan [tes] swab harus negatif tapi paling nggak sudah melewati masa penularan karena dia kalau sudah melewati masa penularan, dia sudah sembuh, gejala sudah hilang, dia [sudah bisa] dikatakan sembuh. Kalau sudah sembuh nggak apa-apa,” tambahnya.

4. Jangan anggap sepele isolasi mandiri

Menurutnya, isolasi mandiri bagi kasus terjangkit tanpa gejala atau ringan yang salah merupakan salah satu penyumbang terbesar klaster keluarga. Penyebabnya adalah ketika seseorang tetap melakukan interaksi dengan anggota keluarga yang lain di tengah masa isolasi mandiri. Ia menekankan pentingnya pemusatan aktivitas di suatu tempat yang terpisah dari anggota yang lain terutama untuk kamar tidur.

5. Karantina bagi anggota keluarga dengan kontak erat

Terkait dengan karantina, ia menegaskan perlunya waktu 10-14 hari untuk tidak keluar dari rumah setelah adanya kasus anggota keluarga yang positif Covid-19. Tetapi ia tidak mengharuskan anggota yang melakukan karantina untuk melakukan tes swab jika selama periode itu tidak ada gejala.

Baca Juga: 6 Cara Atasi Tempias Air Hujan agar tidak Masuk ke Rumah

“Negatif kalo mau tes gapapa tapi takutnya kalau hasilnya keluar malah bilang nggak apa2 dan malah keluar dari karantina,” ujarnya. Ia kemudian menerangkan bahwa meski dinyatakan negatif, masa inkubasi Covid-19 masih berjalan sampai dua minggu dan belum tentu selama itu akan terus sama.

6. Utamakan protokol kesehatan

“Jadi intinya protokol kesehatan itu usaha mencegah infeksi, minimal mengurangi jumlah virus yang masuk. pertama masker, 5M itu semuanya tujuannya untuk mengurangi, tapi yang jangan dilupakan adalah aktivitas kita selama ini,” katanya.

RA Adaninggar juga mengimbau perlunya tindakan ekstra bahkan dengan anggota keluarga lain sekalipun dan tidak lupa untuk menjaga kesehatan imun bersamaan dengan protokol kesehatan yang ada misalnya dengan makan-makanan yang bergizi dan tetap berolahraga.

7. Tidak apa-apa kalau tidak minum vitamin

Makanan yang bergizi menjadi poin penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Dia beranggapan hal yang terpenting adalah memperbanyak konsumsi sayur dan buah yang tinggi akan kandungan vitamin dan antioksidan.

Baca Juga: 5 Prinsip Sukses Berbisnis ala Orang Tionghoa, Entrepreneur Wajib Tahu!

“Lihatlah di piringnya, kalau mau ngasih anak kita atau suami kita, kalau piring kita warnanya cuma putih sama coklat artinya kan nasi sama lauk ya. Itu berarti belum sehat. Kalau mau yang sehat piringnya harus warna warni, ada sayurnya, ada buahnya. Gitu aja,” tambahnya.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.