5 Prinsip Sukses Berbisnis ala Orang Tionghoa, Entrepreneur Wajib Tahu!

Sukses berbisnis ala orang Tionghoa merupakan dambaan setiap pebisnis, untuk itu kenali triknya.

JEDA.ID-Agar makin cuan mengelola bisnis, tak ada salahnya menerapkan prinsip sukses berbisnis ala orang Tionghoa. Apa sajakah prinsip sukses berbisnis ala orang Tionghoa?

Simak ulasannya di tips keuangan kali ini. Di Indonesia, banyak sekali keturunan Tionghoa mengukir kesuksesan dalam berbisnis. Orang keturunan Tionghoa juga dikenal lebih memilih berbisnis ketimbang berkarier di perusahaan.

Beberapa prinsip orang Tionghoa dalam berbisnis juga cukup dikenal oleh masyarakat etnis lainnya. Menurut coach bisnis keturunan Tionghoa sekaligus Co-owner Gratyo Hendra Hilman, ada 5 prinsip orang Tionghoa dalam berbisnis. Berikut ini prinsip sukses berbisnis ala orang Tionghoa seperti dikutip dari detikcom, Rabu (17/2/2021):

1. Waktu adalah Uang

Hendra mengatakan, waktu adalah uang atau time is money merupakan prinsip utama orang keturunan Tionghoa. Jika memegang teguh prinsip tersebut, maka sudah pasti pebisnis itu bekerja keras demi mengembangkan usahanya.

Baca Juga: Hobi Makan Kentang Goreng? Ketahui Efek Buruknya terhadap Kesehatan

“Kita benar-benar enggak mau sia-siakan waktu, enggak mau rugi waktu. Jangan sampai ada waktu yang disia-siakan. Karena setiap waktu adalah uang, jadi time is money itu betul-betul time is money. Jadi Papa saya waktu saya kecil, dia bahkan bekerja sampai hari Minggu. Jadi kerja keras itu benar-benar nggak mau rugi waktu,” kata Hendra dalam live d’Mentor episode Curi Rahasia Sukses Bisnis Orang Tionghoa, Selasa (16/2/2021).

Hendra mengatakan, prinsip tersebut diturunkan oleh nenek moyang keluarga yang merantau ke Tanah Air.
“Sebenarnya sama, cuma cara melakukannya. Kenapa bisa seperti itu? Karena sejarahnya kami perantau. Nenek moyang saya dari China, datang ke Indonesia benar-benar enggak punya apa-apa. Keluarganya sebagian ada yang di China. Jadi sudah terbiasa untuk bekerja keras. Dan waktu itu kan mengalami masa penjajahan Jepang, Romusha. Jadi waktu engkoh saya cerita dulu itu melalui masa penjajahan Jepang sulit sekali. Jadi kerja kerasnya itu sangat diturunkan,” urainya.

2. Bermimpi Besar

ilustrasi berani bermimpi besar (Freepik)

ilustrasi berani bermimpi besar (Freepik)

Memiliki mimpi yang besar juga merupakan prinsip orang Tionghoa dalam berbisnis. Dengan prinsip tersebut, maka seorang pebisnis punya pandangan bagaimana mau membawa bisnisnya terus bertahan, bahkan berkembang di masa mendatang.

“Kita harus jadi pengusaha sukses, kita bisa menciptakan sesuatu yang bisa kita berikan ke orang lain. Jadi kita ciptakan sesuatu. Misalnya tidak ada mi, kita bikin. Nah ada perbedaan antara pedagang dan pengusaha. Dulu kita enggak tahu itu, pokoknya kita dagang, kita cuan. Beli di sini Rp 10.000, jual di sana Rp 20.000, untung Rp 10.000. Sudah itu saja, yang penting bisa makan. Semakin lama semakin besar, dari pedagang akhirnya kami punya pabrik. Nah punya pabrik duit dari mana? Ya dari uang dagang. Jadi kita punya mimpi besar,” papar Hendra.

Baca Juga: Kenali Penyebab Diabetes dan Gejala Awalnya

3. Berusaha Untuk Tak Pernah Kalah

Prinsip ketiga ialah berusaha tak pernah kalah. Dengan pemikiran tersebut, seorang pebisnis bisa terus terinsipirasi untuk memajukan bisnisnya.

“Kalau dari sisi positif ya bagus, berarti kita selalu ingin maju, terinspirasi dari orang-orang,” ujarnya.

Namun, prinsip ini jangan dilihat dari sisi negatif. Pasalnya, jika tak mau kalah dan berujung pada hal negatif, pebisnis tersebut hanya akan merasa iri.
“Negatifnya jadi jealous, iri, atau menjelek-jelekkan, terus kita buat seolah-olah ada orang lain yang punya usaha terus jadi gimana, ya ada juga, tapi nggak semua. Karena jealousy itu kan menyebabkan hal yang lebih negatif, ada beberapa yang seperti itu. Akhirnya ada yang terpecah belah kan karena jealousy,” papar Hendra.

4. Ciptakan Peluang

Prinsip selanjutnya ialah menciptakan peluang. Ia mengatakan, orang Tionghoa terbiasa melihat peluang dari suatu kondisi, dan pada akhirnya bisa membangun bisnis dari peluang tersebut.

“Jangan tunggu peluang datang, tapi justru kita yang harus ciptakan peluang itu. Itu konsep yang harus selalu kita pikirkan. Misalnya waktu saya kecil, saya diajak ke pasar sama Papa saya. Ada keramaian. Saya disuruh lihat itu, ditanya apa yang saya lihat? Orang begitu banyak, berarti pasar besar. Jadi kita lihat situasi itu dari kacamata ada peluang apa yang bisa dilakukan dari situ,” imbuh dia.

Baca Juga: Limbah Masker Bisa Jadi Media Persebaran Virus Corona, Ini Cara Mengelolanya

Hendra menuturkan, peluang itu juga bisa dilihat dari hal-hal kecil di sekitar kita. Misalnya dari percakapan di grup dalam aplikasi pesan singkat, dan sebagainya.

“Orang-orang di group chat bahas apa, kita lihat dari sisi kita bisa jual apa di situ ya? Jadi kita nggak tunggu, eh tolong ini kamu pasarkan, kamu jual. Nggak, kita yang ciptakan itu. Saya rasa ini umum juga ya, zaman sekarang kita harus ciptakan pasar,” ungkap Hendra.

5. Siapa yang Menanam, Dia yang Menuai

Hendra mengatakan, orang Tionghoa selalu diajari prinsip give and take, bukan sebaliknya. Ibarat pepatah siapa yang menanam, dia yang menuai. Artinya, seorang pebisnis tak hanya mengambil untung dari pelanggan, tapi juga harus memberikan sesuatu, misalnya hadiah. Dengan cara itu, orang Tionghoa percaya akan imbal yang lebih besar.

“Ada istilah take and give. Justru seharusnya give and take. Jadi memberi dulu. Kalau kita tidak mau memberi dulu. Uang kecil nggak mau ke luar, uang besar nggak mau masuk. Kita percaya, ada satu prinsip ya hal besar nggak mau datang,” papar dia.

Baca Juga: Ini Daftar Mobil di Bawah 1.500 cc yang Tak Dapat Diskon Pajak

Selain itu, cara tersebut juga dapat menjalin hubungan dengan pelanggan, sehingga selalu memilih toko atau usaha pebisnis tersebut jika memerlukan sesuatu. “Jadi biasanya apa yang kita lakukan untuk menjalin hubungan dengan customer, kita datangi setiap tahun, ya mungkin nggak semua, tapi misalnya customer yang prime kita kasih berupa gift atau paket Imlek, ada beberapa yang kita touch. Atau mungkin kita visit secara reguler, kita kasih gift,” urai Hendra.

“Atau bahkan ada customer yang sudah lama tidak transaksi, contohnya saya jual komputer, ada 1 customer yang beli sama saya tapi sudah dari 5 tahun lalu. Nah itu dikasih gift sampai sekarang. Ya mungkin nggak gift saja ya, kita kasih perhatian. Kalau jual produk kasih sampel, bahkan langsung benar-benar produknya,” sambung dia.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.