7 Jenis Penyakit Autoimun yang Umum Ditemui, Apa Saja Ya?

JEDA.ID-Mungkin selama ini kita hanya mengenal beberapa jenis penyakit autoimun.. Namun sebenarnya ada beberapa jenis penyakit autoimun.

Tips kesehatan kali ini membahas jenis-jenis penyakit autoimun.Penyakit autoimun adalah suatu kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan secara keliru menyerang tubuh. Sistem kekebalan biasanya melindungi dari kuman seperti bakteri dan virus. Ketika merasakan penyerang asing ini, sistem kekebalan mengirimkan pasukan sel tempur untuk menyerang mereka.

Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan salah menganggap bagian tubuh, seperti persendian atau kulit, sebagai benda asing. Ini melepaskan protein yang disebut autoantibodi yang menyerang sel sehat.

Intip Penghasilan YouTuber, Ada yang Mencapai Miliaran Rupiah Loh!

Beberapa penyakit autoimun hanya menargetkan satu organ, seperti diabetes tipe 1 yang merusak pankreas. Namun pada penyakit autoimun lain seperti systemic lupus erythematosus (SLE) dapat memengaruhi seluruh tubuh.

Orang yang memiliki penyakit autoimun disebut belum bisa menerima vaksin Covid-19. Hal ini disampaikan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) pada rekomendasi daftar pemberian vaksinasi Covid-19 produksi Sinovac terhadap orang dengan komorbid.

Dikutip dari CNBC Indonesia, dalam rekomendasi tersebut berisi daftar pengidap penyakit komorbid yang tidak bisa atau belum layak mendapatkan vaksin Covid-19. Salah satunya orang yang mengidap penyakit autoimun sistemik.

Pengidap autoimun tidak dianjurkan diberikan vaksin Covid-19 sampai hasil penelitian lebih jelas telah dipublikasi. Namun seperti apakah penyakit autoimun?

Memakai Kaus Kaki Basah Bermanfaat untuk Kesehatan? Ini Faktanya

Mengutip Healthline dan detikcom, Sabtu (9/1/2021), berikut beberapa penyakit autoimun yang paling umum ditemui.

1. Systemic lupus erythematosus (SLE)

Pada tahun 1800-an para dokter pertama kali menggambarkan lupus sebagai penyakit kulit karena ruam yang biasa ditimbulkannya. Tetapi, penyakit ini sebenarnya dapat mempengaruhi banyak organ termasuk persendian, ginjal, otak, dan jantung.

Gejala yang paling umum berupa nyeri sendi, kelelahan, dan ruam.

2. Sindrom sjogren

Penyakit autoimun ini menyerang kelenjar yang memberi pelumasan pada mata dan mulut. Gejala khas sindrom sjögren adalah mata kering dan mulut kering, tetapi juga dapat memengaruhi persendian atau kulit.

3. Tiroiditis hashimoto

Pada tiroiditis hashimoto, produksi hormon tiroid melambat hingga mengalami defisiensi. Gejalanya berupa penambahan berat badan, kepekaan terhadap dingin, kelelahan, rambut rontok, dan pembengkakan tiroid (gondok).

4. Myasthenia gravis

Myasthenia gravis mempengaruhi impuls saraf yang membantu otak mengontrol otot. Ketika komunikasi dari saraf ke otot terganggu, sinyal tidak dapat mengarahkan otot untuk berkontraksi.

Marak Kloning WhatsApp, Ini Cara Aktifkan Pengamanan Ganda

Gejala yang paling umum adalah kelemahan otot yang semakin memburuk saat beraktivitas dan membaik dengan istirahat. Seringkali otot yang mengontrol gerakan mata, kelopak mata terbuka, menelan, dan gerakan wajah terlibat.

5. Vaskulitis autoimun

Penyakit autoimun ini terjadi ketika sistem kekebalan menyerang pembuluh darah. Peradangan yang terjadi mempersempit arteri dan vena, sehingga lebih sedikit darah yang mengalir melaluinya.

6. Penyakit addison

Penyakit addison memengaruhi kelenjar adrenal, yang menghasilkan hormon kortisol dan aldosteron serta hormon androgen. Kekurangan kortisol dapat mempengaruhi cara tubuh menggunakan dan menyimpan karbohidrat dan gula (glukosa).

7 Buah Ini Sebaiknya Tidak Dibekukan Agar Kualitasnya Terjaga

Kekurangan aldosteron akan menyebabkan kehilangan natrium dan kalium berlebih dalam aliran darah. Gejalanya antara lain kelemahan, kelelahan, penurunan berat badan, dan gula darah rendah.

7. Diabetes tipe 1

Pankreas menghasilkan hormon insulin, yang membantu mengatur kadar gula darah. Pada diabetes melitus tipe 1, sistem kekebalan menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas.

Hasil gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, serta organ seperti jantung, ginjal, mata, dan saraf.

Ditulis oleh :

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.