#STMMelawan dan Cerita Panjang Anak STM Sejak Era Belanda

Selama era penjajahan Belanda ada beragam sekolah kejuruan teknik salah satunya adalah Middelbare Technise School yang kemudian menjadi cikal bakal STM.

JEDA.ID–Aksi unjuk rasa menentang berbagai macam rancangan undang-undang (RUU) ikut melibatkan anak-anak sekolah teknik menengah (STM) atau SMK. Tidak mau kalah dengan para mahasiswa, anak-anak STM yang menggelorakan #STMMelawan menggelar aksi di depan Gedung DPR.

Cerita anak STM ikut dalam aksi unjuk rasa menentang sejumlah RUU di depan Gedung DPR, Jakarta mengemuka sejak Selasa (24/9/2019). Sehari kemudian, sejumlah siswa SMK kembali mendatangi Gedung DPR untuk melanjutkan aksi.

Sebagaimana dikutip dari Suara.com, Rabu (25/9./2019) puluhan pelajar yang rata-rata mengenakan seragam pramuka berkelompok mendekati Gedung DPR-MPR. Mereka tampak membawa bendera yang diikatkan pada sebilah bambu.

Mereka mengaku berasal dari Sekolah Menegah Kejuruan atau SMK di Jakarta Utara. ”Kami mau ngelanjutin perjuangan kakak-kakak mahasiswa kemarin,” kata Algi, salah satu pelajar yang mengaku datang dari Jakarta Utara.

Kelompok pelajar tersebut berencana menggelar aksi unjuk rasa serupa menuntut dibatalkannya sejumlah RUU. ”Pokoknya kita mau mendukung perjuangan kakak-kakak [mahasiswa] yang kemarin. Bahaya kalau RUU itu disahkan,” lanjut dia.

Namun, pergerakan anak STM itu terendus aparat kepolisian. Anak STM itu digiring agar membubarkan diri. Sejumlah siswa SMK lainnya yang juga ingin datang ke Gedung DPR sudah diadang aparat kepolisian.

Kapolres Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi Harry Kurniawan mengatakan anak STM itu dari berbagai daerah yang datang di antaranya Jakarta, Tangerang, Karawang, Bekasi, hingga Bogor.

Mereka kemudian diangkut menuju Mapolda Metro Jaya untuk mendapatkan pembinaan. ”Karena mungkin dengan pendekatan Binmas bisa lebih mendalam,” sambung dia sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Anak STM Era Belanda

anak STM

Repro Kemendikbud

Cerita anak STM yang terlibat dalam aksi unjuk rasa menentang sejumlah RUU itu menuai perhatian pengguna Internet atau warganet. STM merupakan salah satu cabang pendidikan kejuruan teknik yang sudah ada sejak zaman Belanda.

Sebagaimana dikutip dari Buku SMK Dari Masa ke Masa yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015 lalu disebutkan sekolah kejuruan yang didirikan Belanda memiliki tiga corak yaitu corak kewanitaan, sekolah teknik, dan sekolah pertanian.

Kala itu ada beberapa jenis sekolah teknik. Misalnya Ambachts School van Soerabaia yaitu sekolah teknik malam hari untuk anak-anak Indo dan Belanda yang bekerja siang hari. Sekolah ini berdiri sejak 1853 di Surabaya.

Kemudian ada Burger Avond School yang harus waktu pendidikannya 2 tahun. Ini adalah sekolah pertukangan yang digabungkan dengan Hoogere Burger School (HBS sama dengan sekolah menenah umum) yang berdiri pada 1876.

Pada 1885 Burger Avond School mulai dipisahkan dari HBS. Setelah berdiri sendiri, lama pendidikan menjadi 4 tahun dan mata pelajarannya diperluas menjadi sekolah teknik. Pada 1912, sekolah ini menjelma menjadi Koningin Emma School (KES).

Sekolah teknik yang dikhususnya bagi bangsa Eropa juga ada yaitu Europeese Ambacht School. Sekolah yang bahasa pengantarnya bahasa Belanda ini berdiri sejak 1900. Siswa di sekolah ini harus menempuh pendidikan selama 3 tahun.

Ada pula Koningin Weihelmina School (KWS) yang berdiri pada 1901 dengan lama pendidikana 3 tahun. Bebrapa tahun berselang ada KWS-B dengan jurusan mesin, bangunan sipil, dan pertambangan.

Pada 1913, lama pendidikan 3 tahun menjadi 4 tahun. Jurusan bangunan sipil juga dipecah sejak 1921 menjadi bangunan sipil dan bangunan air. Jurusan mesin juga berkembang pada 1926 dengan menjadi jurusan mesin khusus dan listrik.

Paling akhir adalah Middelbare Technise School  (Sekolah Teknik Menengah) yang kemudian menjadi cikal bakal STM.

Belum Jadi Perhatian

Repro Kemendikbud

Setelah era Belanda berlalu, saat zaman Jepang berkuasa sempat muncul kembali Sekolah Pertukangan (Ambachts School dan Ambachts Leergang) di samping STM.

”Sebuah STM dibuka oleh Balai Kota Bandung [Bandung Sichoo] bertempat di STM Ciroyom sekarang. Pada zaman Belanda, Balai Kota Bandung menyelenggarakan kursus teknik di Coroyom. STM yang dibuka pada zaman Jepang ini lamanya 3 tahun dan sempat mempunyai siswa sebanyak 360 orang. Jurusan yang dibuka adalah mesin, listrik dan bangunan,” sebagaimana tertulis di buku itu.

Setelah kemerdekaan, pendidikan teknik dan kejuruan belum menjadi perhatian. Sebelum 1969 telah ada 126 STM di samping 565 Sekolah Teknik (ST) dengan tujuan memberikan pelatihan teknik.

Namun tujuan pendidikan tidak ditetapkan secara jelas sehingga tidak sesuai dengan kesempatan kerja bagi para lulusannya, Kebanyakan guru, orang tua, dan anak STM memandang STM sebagai sebagai batu loncatan untuk pendidikan yang lebih tinggi, bukan untuk persiapan memasuki dunia kerja.

Era 1970-an, SMK mulai menjadi perhatian yaitu sekolah yang disiapkan untuk menciptakan generasi muda siap kerja. Kala itu muncul Kurikulum SMK tahun 1976/1977 sebagai panduan pendidikan anak STM dan SMK lainnya.

”Jumlah jam praktik ditingkatkan dari 10% menjadi 30- 50% dari keseluruhan program pendidikan, yaitu dari 4 jam pelajaran menjadi 12-20 jam pelajaran per minggu.”

Lewat kurikulim itu pula digalakkan metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan siswa melakukan praktik bukan guru yang melakukan demonstasi di hadapan siswa. Kemudian muncul lagi Kurikulum 1984 yang ikut mengubah pola pendidikan anak STM.

Misal menerapkan sistem kredit semester (SKS), ada program inti hingga program pilihan, sampai pelajaran teori diintegrasikan ke dalam pelajaran praktik untuk mata pelajaran yang sama.

Kebutuhan Dunia Industri

Repro: Kemendikbud

Di masa-masa berikutnya, SMK yang kala itu namanya sangat beragam mulai STM, SMEA, dan lainnya terus tumbuh. Selama awal 1990-an, siswa SMK mencapai 1.331.196 orang.

Pada masa ini kemudian muncul Kurikulum 1994. Era ini mulai dikenal konsep Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan kerja sama dengan dunia usaha dan industri semakin kuat dan melembaga.

Era 2000-an, SMK tumbuh pesat karena hubungan dengan pihak industri semakin baik. Pemerintah sudah sangat menyadari pentingnya mengembangkan pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia.

Anak STM yang merupakan bagian dari SMK jumlahnya terus tumbuh. Pada 2017/2018 ada 13.710 SMK di Tanah Air yang menampung 4,9 juta siswa. Dari jumlah itu, sebagian besar adalah laki-laki termasuk anak STM.

Tumbuhnya siswa SMK dari tahun ke tahun menjadi tantangan besar utamanya agar kompetensi yang mereka miliki menyambung dengan kebutuhan dunia industri.

Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program pendidikan vokasi link and match pada 2019.

Hingga tahap kesepuluh peluncuran program ini, jumlah yang terlibat telah melampaui target dengan mencapai 2.604 SMK dan 885 industri.

”Kami berharap, pelaku industri untuk terus melakukan pembinaan dan pengembangan kepada SMK di wilayahnya. Selain itu, kepada para kepala SMK untuk proaktif dalam mengembangkan link and match dengan dunia industri,” tutur Menperin Airlangga Hartarto sebagaimana dikutip dari laman Kemendikbud.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.