Kuasai 6 Literasi Dasar Agar Siap Hadapi Era Industri 4.0

Setidaknya ada enam literasi dasar yang harus dikuasai masyarakat. Literasi dasar tersebut berperan sangat penting dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.

JEDA.ID–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menyatakan nyawa dari gerakan pendidikan adalah literasi. Muhadjir juga menyampaikan literasi tak melulu soal membaca buku. Menghadapi era industri 4.0 setidaknya ada 6 literasi dasar yang wajib dikuasai.

“Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca, seseorang akan memiliki perspektif baru. Kemudian, dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat,” kata Mendikbud seperti dikutip dari laman Gerakan Literasi Nasional, Senin (9/9/2019).

Muhadjir Effendy mengapresiasi pencapaian literasi yang telah tercapai dengan baik. Pada masa awal kemerdekaan 97% penduduk Indonesia masih buta aksara. Namun, sekarang sudah lebih dari 98% masyarakat Indonesia melek aksara. Mendikbud juga menyampaikan pentingnya peran pendidikan dasar untuk generasi mendatang.

”Tugas kita sekarang adalah meningkatkan peran pendidikan dasar untuk menyongsong abad XXI. Mempersiapkan generasi emas tahun 2045, menyongsong era industri 4.0,” tegas Muhadjir Effendy dikutip dari laman Kemendikbud.

Setidaknya ada enam literasi dasar yang harus dikuasai masyarakat. Literasi dasar tersebut berperan sangat penting dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari. Berikut enam literasi dasar dirangkum dari Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud.

1.Literasi Baca Tulis

Literasi baca tulis merupakan hal dasar. Ini meliputi kemampuan untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersirat maupun tersurat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan serta potensi diri.

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud melakukan penelitian pada lebih dari 6.500 siswa SMA. Hasilnya, kemampuan siswa Indonesia dalam literasi cukup bagus.

”Hasilnya, dari sisi kemampuan, anak-anak kita cukup bagus. Oleh karena itu, kita harus menjaga optimisme ini. Jangan mengatakan tingkat literasi orang Indonesia rendah,” kata Dadang Sunendar, Kepala Badan Pembinaan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud.

literasi dasar

Ilustrasi literasi dasar (Freepik)

Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), PISA 2015, rata-rata nilai membaca siswa Indonesia yang berumur 15 tahun yaitu 397. Rata-rata tersebut berada di bawah negara Peru yang memiliki rata-rata 398.

Sedangkan, penelitian PISA dengan sampel seluruh provinsi di Indonesia, rata-rata nilai membacanya 489. Angka tersebut cukup bagus untuk rata-rata membaca siswa.

”Hasilnya [penelitian PISA], dari interval 200-800, rata-ratanya 489. Artinya, tingkat kemampuan anak Indonesia 61%. Sampel diambil dari seluruh provinsi. Tiap provinsi diambil dua kabupaten [perdesaan dan perkotaan]. Dalam satu kabupaten diambil sepuluh sekolah. Jadi, jumlahnya 289 sekolah,” tambah Dadang Sunendar.

2.Literasi Numerasi

Literasi dasar berikutnya adalah numerasi. Numerasi dan matematika merupakan dua hal yang berbeda. Perbedaan terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan.

Pengetahuan matematika saja tak membuat seseorang memiliki numerasi. Namun, numerasi mencakup aplikasi konsep dan kaidah matematika dalam situasi nyata. Sebagian siswa di Indonesia menganggap matematika sulit untuk dipelajari dan dimengerti.

Menurut penelitian pada 2010 oleh Guru Besar Matematika Universitas Gadjah Mada, Widodo, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan matematika dianggap sulit. Pertama, faktor buku, tak banyak ihwal matematika terbitan Indonesia menyajikan soal dalam bentuk konteks. Hasilnya, matematika terasa abstrak dan sulit dipelajari.

Alasan kedua, 11,35% guru matematika tak memiliki kompetensi pengajaran yang memadai. Sehingga, saat siswa bertanya, guru tidak mampu menjawab. Ketiga, pola pikir (mindset) bahwa matematika itu sulit. Mindset tersebut telah ditanamkan sejak kecil. Akibatnya, mucul persepsi dan perilaku bahwa matematika sulit dan tidak menyenangkan.

Masalah dasar di atas dapat diatasi dengan menguatkan keterampilan literasi numerasi. Oleh karena itu, penting untuk mendorong keterampilan numerasi siswa.

3.Literasi Sains

belajar sains

Ilustrasi belajar sains (Freepik)

Literasi sains mencakup kecakapan memahami fenomena alam dan sosial di sekitar kita termasuk hal dasar yang wajib dikuasai. Selain itu, juga mencakup kecakapan mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah.

Literasi sains penting untuk menghadapi tantangan abad ke 21. Wujud pembinaan literasi sains di Indonesia salah satunya Olimpiade Sains Nasional (OSN).

4.Literasi Finansial

Bagi sebagian orang literasi finansial mungkin dianggap belum terlalu penting. Padahal literasi ini saalh satu hal dasar yang penting di era kini. Literasi finansial mencakup pengetahuan dan kecakapan mengaplikasikan pemahaman konsep, risiko, keterampilan, dan motivasi dalam konteks finansial.

Hal ini penting untuk mendidik masyarakat agar sadar dan paham pengelolaan keuangan secara bijak serta sesuai kebutuhan. Sudah banyak aplikasi atau website yang bisa memberikan panduan dalam literasi finansial.

5.Literasi Digital

Literasi digital merupakan kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk mendapat informasi serta berkomunikasi. Kini literasi digital berperan penting dan menjadi masalah dasar dalam kehidupan. Hal itu membuat masyarakat mampu berkomunikasi lancar dengan lebih banyak orang.

literasi dasar

Ilustrasi literasi digital (Freepik)

Era keterbukaan informasi dan banjir informasi menjadikan masyarakat harus melek terhadap dunia digital. Banyak sisi positif, namun ada juga sisi negatif seperti hoaks, fintah, hingga ujaran kebencian.

6.Literasi Kebudayaan dan Kewargaan

Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sedangkan, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Upaya meningkatkan literasi budaya penting untuk menghadapi kuatnya arus budaya global. Sedangkan literasi kewarganegaraan diperlukan untuk mendorong pemerataan masyarakat dalam wawasan kebangsaan.

”Kuncinya adalah akses. Perluasan dan pemerataan akses. Maka arah kebijakan peningkatap literasi budaya dan kewarganegaraan pun harus didorong untuk memperluas serta meratakan akses publik terhadap keanekaragaman budaya dan kesatuan imajinasi kebangsaan,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud, Fitra Ardha.

Gerakan literasi dasar sampai tingkat nasional tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat agar berwawasan luas. Penguasaan enam literasi dasar sangat penting untuk mengahadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Enam gerakan literasi dasar di atas merupakan salah satu gerakan Kemendikbud untuk menuntaskan buta aksara. Tak bisa dimungkiri masih ada sebagian warga Indonesia yang belum melek huruf.

Angka Melek Huruf

Salah satu parameter yang bisa digunakan adalah angka melek huruf (AMH) yang menggambarkan persentase penduduk yang mampu membaca sekaligus menulis. Tulisan tersebut minimal kalimat sederhana yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut data Statistik Pendidikan 2017, pencapaian AMH tertinggi ada pada umur 15 tahun-24 tahun (99,66%). Sementara itu, pada kelompok umur 15 tahun ke atas, memiliki capaian paling rendah.

Sebaran AMH 2017 menurut provinsi, rata-rata sembilan dari sepuluh penduduk di masing-masing provinsi sudah melek huruf. Hal itu terjadi di beberapa provinsi, kecuali di Papua.

Pada kelompok umur 15 tahun-59 tahun dan 15 tahun ke atas, angka melek huruf lebih rendah. Hal itu terjadi khususnya di Papua perdesaan yang rata-rata baru enam dari sepuluh penduduknya melek huruf.

Menurut data statistik pendidikan 2018, pencapaian AMH tertinggi berdasarkan umur, tetap pada kelompok 15 tahun—24 tahun (99,71%). AMH 15 tahun ke atas juga mengalami peningkatan 0,16% dibandingkan pada 2017.

Sementara itu, pencapaian AMH menurut provinsi, penduduk Papua memiliki angka melek huruf yang cukup rendah. Maksudnya, secara rata-rata tujuh dari sepuluh penduduk Papua melek huruf.

Ditulis oleh : Atina Firdausa Qisthi/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.