Gambaran Tes Asesmen Kompetensi Minimum Pengganti UN

Format soal Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia yang digelar sejak 2017 mengombinasikan format soal objektif dan soal construct responsive.

JEDA.ID–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter mulai 2021.

Sebelum mengganti UN, Kemendikbud sudah mengembangkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) sejak 2017.

”UN ini hanya menilai satu aspek saja yakni kognitifnya. Bahkan enggak semua aspek kognitif kompetensi dites, dan lebih banyak ke penguasaan materinya dan belum menyentuh karakter siswa secara lebih holistik,” terang Nadiem di Jakarta sebagaimana dilansir dari Antara, Rabu (11/12/2019).

Mulai 2021, Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter akan menggantikan UN. Ada beberapa perbedaaan UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

Jika UN diselenggarakan pada akhir jenjang sekolah, Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter akan diselenggarakan pada pertengahan jenjang sekolah.

Di Balik Mendikbud Nadiem Makarim Minta Waktu 100 Hari ke Jokowi

Kompetensi yang diukur benar-benar minimum yakni literasi dan numerasi. Literasi bukan mengukur kemampuan membaca tapi menganalisis suatu bacaan. Sedangkan numerasi yakni kemampuan menganalisis dan menggunakan angka.

Penilaian juga dilakukan dengan survei karakter. Hal itu bertujuan untuk mengetahui ekosistem sekolah. Selama ini, lanjut dia, yang dimiliki hanya data kognitif tanpa mengetahui bagaimana pengamalan Pancasila diterapkan.

”Penilaian ini dilakukan di tengah jenjang, dengan harapan memberikan kesempatan pada guru untuk melakukan perbaikan. Ini sifatnya formatif berguna bagi sekolah dan juga siswa,” papar mantan bos Gojek itu.

Pemetaan Capaian Pendidikan

Sebelum mengumumkan UN diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, Kemendikbud sudah mengembangkan AKSI sejak 2017. Program ini dikembangkan Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendikbud.

Sebagaimana dikutip dari laman Puspendik Kemendikbud, AKSI merupakan program pemetaan capaian pendidikan. Ini untuk memantau mutu pendidikan secara nasional ataudaerah yang menggambarkan pencapaian kemampuan siswa melalui survei yang sifatnya longitudinal.

Pada 2017, program AKSI dilakukan dengan berfokus kepada beberapa mata pelajaran tertentu khususnya kemampuan literasi dan scince dengan target ada anak sekolah usia 15 tahun.

Kemudian model soal sudah dibuat interaktif dengan berbagai variasi. Ada 1.000 siswa dari 200 sekolah yang mengikuti program ini.

Tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, pada 2018 sampelnya tidak hanya siswa, namun juga sekolah. Siswa dan sekolah yang dilibatkan bertambah menjadi 2.000 siswa dari 250 sekolah.

SMA Pradita Dirgantara

Ilustrasi kegiatan siswa di SMA Pradita Dirgantara (https://sma.praditadirgantara.sch.id)

Pada 2019, tes AKSI dilakukan pada 22-25 Juli 2019 dan 29 Juli-1 Agustus 2019 di sekolah-sekolah yang menjadi sampel di 34 provinsi. Lewat format Question & Answer, Puspendik Kemendikbud memberikan gambaran mendetail tentang AKSI.

Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia terbagi menjadi dua jenis yaitu AKSI untuk sekolah dan AKSI survei. AKSI untuk sekolah adalah tools yang disediakan oleh Puspendik Balitbang Kemdikbud.

Daftar Jurusan Kuliah Termurah di Perguruan Tinggi Negeri

Ini berupa modul formatif asesmen yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa pada topik-topik esensial di pelajaran bahasa, matematika, dan IPA.

Sedangkan AKSI Survei adalah program pemetaan capaian pendidikan untuk memantau mutu pendidikan secara nasional/daerah yang menggambarkan pencapaian kemampuan siswa yang dilakukan melalui survei yang sifatnya longitudinal.

Asesmen kompetensi itu punya beberapa manfaat, yaitu memperkaya penilaian formatif di sekolah, menjadi alat bagi guru untuk mendiagnosis kemampuan siswanya pada topik-topik yang subtansial, dan menjadi inspirasi kepada guru untuk memperkaya konteks dan level kognitif dalam penilaian tingkat kelas.

Hampir mirip dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter akan diselenggarakan pada pertengahan jenjang sekolah yaitu kelas 4, 8, dan 11, AKSI juga dilaksanakan di pertengahan jenjang sekolah yaitu Kelas 2, 4, 8, dan 10.

Tes Berbasis Komputer

Bagaimana dengan tes asesmen kompetensi? AKSI menggunakan sistem tes yang berbasis komputer atau computer based test. Instrumen yang digunakan dalam AKSI untuk sekolah adalah instrumen kognitif yang terdiri dari modul tes matematika, sains/IPA, dan membaca.

Sedangkan instrumen yang digunakan dalam AKSI Survei adalah instrumen kognitif dan instrumen angket. Instrumen kognitif AKSI Survei terdiri dari soal-soal matematika, sains/IPA, dan membaca. Instrumen angket AKSI Survei terdiri dari angket kepala sekolah, guru, dan siswa.

Di laman Puspendik Kemendikbud disebutkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia adalah salah satu upaya untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan kompetensi siswa.

Didesain sebagai penilaian formatif yang ringkas, mencakup topik-topik yang esensial dan fundamental, disajikan dalam bentuk aplikasi komputer, berupa modul, sehingga memudahkan replikasi (penggandaan) dan dokumentasi data.

“AKSI terdiri atas tiga modul besar, yaitu Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Setiap modul terdiri dari paket tes yang mencakup satu topik spesifik dengan jumlah maksimal 20 butir sehingga cukup untuk dilaksanakan pada satu jam tatap muka pembelajaran.”

Format soal Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia mengombinasikan format soal objektif dan soal construct responsive. Modul aplikasi tidak hanya terdiri dari modul melakukan tes, namun juga modul penilaian untuk menentukan kebenaran jawaban siswa, serta modul hasil analisis.

Perbandingan Gaji Guru di Indonesia dan Beberapa Negara Lain

Agar siswa merasakan manfaat dari setiap modul untuk kehidupan mereka, pengantar satu halaman yang mengupas urgensi topik tersebut pada kehidupan serta relevansi dengaan kompetensi dasar yang termuat dalam kurikulum disajikan.

Mengenai penilaian, dilakukan menggunakan aplikasi AKSI untuk Sekolah. Soal-soal pilihan ganda akan diskor otomatis oleh sistem. Sedangkan soal-soal isian dan uraian dilakukan secara manual oleh guru dengan menggunakan bantuan aplikasi.

Untuk penskoran soal isian dan uraian, tersedia pedoman penskoran di dalam aplikasi. Pedoman penskoran ini digunakan guru sebagai acuan dalam memberikan skor.

Hasil penskoran otomatis dan penskoran guru tersebut akan dioleh oleh sistem sehingga sistem akan menampilkan data jawaban siswa dan skor per siswa.

Puspendik Kemendikbud menyatakan hasil AKSI untuk Sekolah dapat menampilkan capaian per siswa. Capaian per siswa dapat diketahui setelah guru melakukan penskoran berbasis sistem.

Sedangkan hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia Survei hanya akan menampilan capaian dengan satuan analisis kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.