Siapa Sesungguhnya yang Layak Disebut Generasi Micin?

Data Riskedas 2018 menyebutkan konsumsi micin di kalangan generasi milenial bisa dibilang yang paling tinggi dibandingkan generasi lainnya.

JEDA.ID–Generasi micin. Itulah ungkapan yang kerap muncul untuk menggambarkan perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak bisa dimengerti, terutama di media sosial. Bila dilihat dari konsumsi micin, siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai generasi micin?

Penelitian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2018 lewat Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memotret konsumsi makanan yang mengandung bumbu penyedap.

Kemenkes menyebut bumbu penyedap seperti vetsin, kaldu instan, dan bumbu masak lainnya. Tentu ini termasuk juga micin atau MSG (monosodium glutamate). Bila dilihat dari karakteristik kelompok umur, penduduk Indonesia usia tua paling sedikit mengonsumsi bumbu penyedap.

Dari 58.717 responden yang usianya di atas 65 tahun, sebanyak 71,6% mengaku mengonsumsi makanan mengandung bumbu penyedap lebih dari 1 kali setiap hari.

Sisanya, 11,1% makan makanan mengandung micin 1-6 kali sepekan dan 17,2% menikmati makanan mengandung bumbu penyedap kurang dari 3 kali dalam sebulan.

Angka 71,6% pada kelompok umur lansia yang mengonsumsi makanan mengandung micin lebih dari satu kali sehari itu adalah angka paling kecil dibandingkan kelompok umur lainnya.

Potret Tiap Generasi

makan junk food

Ilustrasi makan junk food (Freepik)

Rekor tertinggi mengonsumsi makanan mengandung bumbu penyedap lebih dari satu kali dalam sehari adalah 79% di kelompok umur 20-24 tahun dan 30-34 tahun.

Bila dikategorikan penduduk usia 20-24 tahun pada 2018 adalah mereka yang lahir tahun 1994-1998. Sedangkan usia 30-34 tahun adalah kelahiran 1984-1980. Dua kelompok umur ini masuk golongan generasi milenial atau generasi Y.

Generasi milenial adalah mereka yang lahir pada 1981-1994. Dari data Riskedas 2018 menyebutkan konsumsi micin di kalangan generasi milenial bisa dibilang yang paling tinggi dibandingkan generasi lainnya.

Selain usia 20-24 tahun dan 30-34 tahun, ada kelompok usia 25-29 tahun yang juga kategori milenial. Konsumsi makanan mengandung penyedap rasa lebih dari satu kali dalam sehari di kelompok usia ini mencapai 78,5%.

Lalu bagaimana dengan generasi lainnya misal generasi Baby Boomers, generasi Z, dan Alpha. Generasi Baby Boomers adalah mereka yang lahir di tahun 1946-1964. Artinya saat riset dilakukan, mereka berusia antara 54-72 tahun.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan konsumsi micin di generasi ini lebih rendah dari kalangan milenial. Misalnya di kelompok umur 55-59 tahun, konsumsi makanan mengandung bumbu penyedap lebih dari 1 kali dalam sehari adalah 76%. Jumlah itu turun untuk kelompok umur 60-64 tahun menjadi 74,5%.

Generasi X atau yang pada 2018 termasuk paruh baya karena berusia 38-53 tahun konsumsi micinnya cukup tinggi, namun masih di bawah generasi milenial.

Contohnya pada kelompok umur 40-44 tahun, konsumsi makanan mengandung micin lebih dari 1 kali dalam sehari mencapai 78,9%. Kemudian juga di kelompok umur 45-49 tahun, konsumsi per hari mencapai 78 tahun.

Menariknya, generasi kekinian misal generasi Z dan Alpha, konsumsi makanan mengandung micin seharinya cenderung mirip dengan generasi X. Generasi Z yang pada 2018 berusia 8-23 tahun, konsumsi makanan mengandung micin seharinya berada di kisaran 77%-78%.

Kelompok umur 5-9 tahun misalnya. Mereka menikmati makanan mengandung penyedap rasa lebih dari 1 kali dalam sehari sekitar 77,4%. Sedangkan di kelompok umur 14-19 tahun sekitar 78,3%.

Untuk generasi Alpha yang usianya di bawah 8 tahun pada 2018 lalu, konsumsi makanan mengandung micinnya adalah 76% lebih dari satu kali setiap hari.

Pro-Kontra Micin

generasi micin

Micin (Freepik)

Konsumsi MSG alias micin selama ini kerap mengundang pro-kontra. MSG adalah garam natrium dari asam glutamat. Jadi asam glutamat adalah asam amino (semacam senyawa organik) yang terbentuk secara alami.

Micin kali pertama ditemukan profesor asal Jepang pada 1908 bernama Kikunae Ikeda. Kikune mendapati MSG dapat memperkuat rasa makanan yang tadinya hanya asin garam biasa, terasa lebih kaya dengan rasa gurih atau dikenal dengan sebutan umami.

Konsumsi micin menjadi perdebatan sejak 1960-an. Banyak orang menganggap MSG memberi dampak buruk pada kesehatan. Beragam penelitian dilakukan untuk mengetahui dampak negatif micin bagi kesehatan manusia.

Salah satu yang paling terkenal adalah eksperimen oleh peneliti Universitas Washington, John W. Olney. Kala itu dia menemukan bahwa suntikan dosis MSG yang sangat besar di bawah kulit tikus yang baru lahir menyebabkan berkembangnya jaringan mati di otak.

Akibatnya saat tikus tumbuh dewasa, mereka menjadi kerdil, gemuk, dan beberapa di antaranya ada yang mandul. Olney juga mengulang penelitiannya pada monyet rhesus dengan memberi mereka MSG secara oral dan mencatat hasil yang sama.

Namun, 19 penelitian lain pada monyet yang dilakukan oleh peneliti lain gagal menunjukkan hasil yang sama. Studi pada manusia juga gagal menemukan bukti tersebut.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 71 orang sehat, para peneliti memberi subjek tambahan dosis MSG atau plasebo berbentuk kapsul. Hasilnya, peneliti tetap menemukan adanya gejala awal masalah dari micin.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) meminta Federasi Masyarakat Amerika untuk Biologi Eksperimental untuk melihat semua bukti yang ada dan memutuskan apakah MSG benar-benar makanan jahat atau tidak.

Dari berbagai penelitian lanjutan yang dilakukan dampak MSG tidak bersifat menyeluruh alias hanya bereaksi pada kelompok individu tertentu yang memiliki sensitivitas tinggi. Itu hanya terjadi jika micin diberikan dalam dosis besar (lebih dari 2 gram).

Saat ini rata-rata kita hanya mengonsumsi MSG sekitar 0,55 gram per hari lewat makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat pun menetapkan micin bahan bumbu masakan yang aman, sama seperti garam, merica, dan gula.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.