• Mon, 26 February 2024

Breaking News :

AUMR dan RAISA, 2 Robot Asisten Medis Karya Anak Bangsa

Usaha terus dilakukan untuk melawan pandemi Covid-19, salah satunya di bidang teknologi dengan mengembangkan robot sebagai asisten medis.

JEDA.ID- Usaha terus dilakukan untuk melawan pandemi Covid-19, salah satunya di bidang teknologi dengan mengembangkan robot sebagai asisten medis.

Sejumlah negara telah membuat robot-robot sebagai pembantu perawat bagi pasien Covid-19 seperti di China, Jepang, hingga Italia.

Kini di Tanah Air, juga sudah ada robot-robot serupa yang diharap mampu menjadi anunisi baru dalam perang melawan Covid-19.

Para peneliti Telkom University (Tel-U) berkolaborasi dengan Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) dan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) belum lama ini meluncurkan Autonomous UVC Mobile Robot (AUMR).

AUMR merupakan sebuah sistem yang integral dengan memfungsikan mobile robot sebagai alat sterilisasi dan disinfeksi ruang isolasi medis pasien Covid-19.

Alat ini memanfaatkan sinar ultraviolet tipe C atau disingkat dengan UVC pada panjang gelombang 254nm.

Inaktivasi Virus

Peneliti Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Irwan Purnama menjelaskan, sistem UVC yang digunakan adalah UVC dengan panjang gelombang 254nm. Panjang gelombang ini mendekati panjang gelombang gemirsidal puncak yaitu 262nm, di mana ukuran tersebut adalah yang paling mematikan untuk virus.

“Kegunaan UVC adalah untuk inaktivasi microba khususnya virus. Keunggulannya penggunaan UVC adalah sterilisasi dan desinfeksi yaitu tidak meninggalkan residu,” terangnya saat diwawancarai pada Jumat (10/4/2020) lalu.

“Seperti halnya penggunaan kimia basah sehingga akan sangat cocok digunakan di ruang isolasi, UVC diharapkan bisa meng-inaktivasi virus yang menyebar dalam bentuk aerosol di udara, droplet atau yang menempel pada permukaan benda pada peralatan medis di ruangan isolasi tersebut,” sambungnya.

Irwan juga menyebutkan, pemanfaatan AUMR bukan untuk level masyarakat (rumah tangga), bahkan untuk pengoperasiannya di rumah sakit pun, ruang harus bebas dari manusia.

“Bila ada tenaga medis atau pasien di dalamnya harus terlindungi dari paparan UVC. UVC bisa menyebabkan kanker kulit atau katarak pada mata dalam jangka panjang. Karena itu, kami menggabungkan UVC dengan mobile robot ini untuk menghindari peran manusia dalam proses sterilisasi tersebut,” paparnya.

Idealnya, Irwan menyebutkan, UVC yang dibawa oleh AUMR ini bisa mensterilisasi dirinya sendiri dari paparan virus selama proses sterilisasi itu berlangsung.

“Tapi sampai saat ini kita belum melakukan pengecekan bagian blankspot di AUMR yang tidak terkena cahaya sinar UVC yang dibawanya,” ungkapnya.

Bikin Disinfektan Sendiri dari Bahan Rumah Tangga, Perhatikan Benar Caranya

Uji Efektivitas

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ratih Asmana Ningrum menyebutkan satuan kerjanya berperan untuk uji efektivitas robot sebagai sterilizer. Proses pengujian alat dilakukan di laboratoroum BSL-3 di Cibinong.

Mengenai teknis pengujian alat, Ratih menjelaskan pihaknya menguji kemampuan robot untuk mensterilisasi ruangan. “Untuk tahap awal, kami menguji dulu kemampuannya terhadap bakteri, jadi akan dibandingkan jumlah bakteri sebelum dan sesudah penyinaran,” jelasnya.

Pengujian dilakukan di beberapa tipe ruangan : ruangan tekanan positif (seperti ruangan operasi), ruangan tekanan negatif (ruangan isolasi) dan ruang umum”

Sebagai informasi, peran Tel-U dlm pengembangan AUMR ini, selain dalam bidang pendanaan adalah membuat platform mobile robot yang sudah siap diintegrasikan dan digunakan, laboratorium pembuatan prototipe, dan SDM yang membantu pembuatan prototipe tersebut.

Robot RAISA

Robot Assistant ITS-Unair (RAISA) (Liputan6.com)

Robot Assistant ITS-Unair (RAISA) (Liputan6.com)

Belum lama ini, Robot Assistant ITS-Unair (RAISA) telah diserah terimakan kepada Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya. Robot ini merupakan hasil kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan Universitas Airlangga (Unair).

Robot ini dibuat untuk membantu dan meminimalkan kontak langsung antara tenaga medis dengan pasien Corona Covid-19. Robot ini diserahterimakan Rektor ITS Prof. Mochamad Ashari kepada RS Universitas Airlangga (RSUA) di Gedung Pusat Robotika ITS, Selasa (14/4/2020) seperti dilansir Liputan.com.

Robot karya ITS dan Unair ini untuk membantu tenaga medis dalam menangani pasien virus Corona Covid-19, yang dirawat di Rumah Sakit Unair. Robot Raisa ini didesain untuk bisa mengirim berbagai macam keperluan seperti obat, makanan, alat pelindung diri face shield ke pasien, atau ke tenaga medis.

Robot ini dilengkapi dengan sensor dan digerakkan oleh operator, sehingga bisa berjalan menuju kamar pasien Corona Covid-19, yang telah ditentukan. Menariknya lagi, robot Raisa ini memiliki monitor yang bisa berkomunikasi dua arah, seperti pasien bisa ditanya keluhan dan bisa mengambil temperatur.

Minimalkan Kontak Langsung

Robot ini dapat meminimalkan kontak langsung tim medis, dengan pasien Covid-19, sehingga mencegah risiko penularannya. Keunggulan lain, robot Raisa ini tidak memerlukan alat pelindung diri sehingga bisa menghemat APD.

Kerja sama ITS dan Unair juga akan membuat empat unit robot, tetapi saat ini masih satu robot yang sudah siap dioperasikan. Sedangkan tiga lainnya masih dalam proses mekanik dan elektroniknya.

Robot Raisa harganya mencapai Rp50 juta– Rp70 juta per unit. Robot ini diharap benar-benar bisa meringankan tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19.

Jangan Asal Bikin Cairan Diffuser, Waspadai Bahaya yang Mengintai

Bersama Pemprov Jatim

Rektor ITS, Prof Dr Mochamad Ashari mengungkapkan, proyek tersebut telah dilakukan bersama dengan Unair dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) untuk menyelesaikan satu persatu masalah yang ditimbulkan oleh ada pandemi Corona Covid-19.

“Kami berharap kontribusi yang diberikan dapat memberikan manfaat untuk para tenaga medis maupun masyarakat,” ujar dia.

Rektor yang akrab disapa Ashari ini memaparkan, RAISA telah dirancang oleh orang-orang yang handal dan tim robot ITS yang sudah memenangkan berbagai lomba di mancanegara.

“Dengan menggandeng orang-orang medis dari RSUA, semakin melengkapi fitur pada robot yang akan dibutuhkan pasien nantinya,” ujar guru besar Teknik Elektro ITS ini.

Tetap Butuh Perawat

Sementara itu, Direktur Utama RSUA Nasronudin juga mengapresiasi atas hasil kerja sama yang dilakukan. Ia mengungkapkan, banyak tenaga medis di Unair membutuhkan pengaplikasian teknologi dari ITS.

“Robot ini mampu memberikan pelayanan kepada pasien yang sedang diisolasi seperti mengantar makanan, pakaian, maupun obat-obatan,” ungkapnya.

Dokter yang akrab disapa Nasron tersebut menambahkan, walaupun dengan ada robot ini, pasien juga tetap memerlukan perawat. Setidaknya intensitas interaksinya saja yang berkurang.

“Perlunya sentuhan hati dan interaksi langsung dibutuhkan juga sesekali untuk mendukung psikologi dari pasien Covid sendiri,” ujar dokter 63 tahun tersebut.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.