Ahok Ditempel Media Asing

Erick Thohir secara resmi menyatakan penunjukan Ahok sebagai Komisaris Pertamina kemarin, Jumat, 22 November 2019.

JEDA.ID – Erick Thohir menunjuk Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Komisaris Utama PT Pertamina. Kabar Ahok bakal dijadikan bos BUMN menjadi rangkaian sorotan media asing setelah kasusnya yang menghebohkan 2016 lalu.

Menteri BUMN Erick mengatakan sosok Ahok dilirik pemerintah karena memiliki latar belakang dan karakter pendobrak yang dimilikinya. Karakter tersebut merupakan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin BUMN pada saat ini.

Erick Thohir secara resmi menyatakan penunjukan Ahok sebagai Komisaris BUMN Pertamina kemarin, Jumat, 22 November 2019. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu rencananya bakal menggeser posisi Tanri Abeng.

Nama Ahok terus menjadi sorotan utama ketika terutama soal heboh kasus penistaan agama 2016 silam. Ucapan Ahok mengutip ayat suci Alquran, Surat Al-Maidah ayat 51 menjadi viral hingga mendapat banyak perlawanan.

Basuki Tjahaja Purnama kembali menjadi sorotan bahkan sebelum namanya benar-benar menjadi Komisaris Utama BUMN PT Pertamina. Setelah diangkat namanya terus dibicarakan bahkan oleh pengamat dan media asing.

Sedangkan sejumlah media asing punya analisis masing-masing mengenai pengangkatan Ahok. Media Singapura, Straits Times, menjadi yang paling awal mengulas ini.

Komut BUMN

Dilaporkan 21 November 2019, The Straits Times memandang positif penunjukan Ahok sebagai figur yang mampu menciptakan efisiensi dan memberantas korupsi di Pertamina.

Media itu pun menggambarkan Ahok sebagai sosok reformis. The Straits Times juga menyinggung bahwa penunjukan ini berlangsung setelah Ahok menjalani hukuman dua tahun penjara kasus penistaan agama.

Sementara media asal AS, New York Times, memaparkan perjalanan kasus Ahok dan mengambil alasan Erick Thoir, menteri BUMN, kenapa menunjuk Ahok.

“Kami membutuhkan figur terobosan untuk menempatkan semua ini sejalan dengan target. Beri kami kesempatan untuk bekerja dan melihat hasilnya,” kata Erick Thohir.

Nikkei Asian Review, media finansial besar asal Jepang, melihat penunjukan Ahok sebagai langkah reformasi untuk Pertamina.

Media Prancis Agence Frence Presse atau AFP yang mengangkat judul “Jakarta ex-governor tapped for job at state energy firm Pertamina: reports.”

Dalam pemberitaannya, AFP memulai reportasenya dengan menyebut Ahok dipenjara selama hampir dua tahun atas kasus penistaan agama. “Dia dikukuhkan Jumat untuk mengawasi kinerja eksekutif di perusahaan energi Indonesia yang dilanda skandal korupsi,” ulas AFP.

Politisi kelahiran Manggar, Bangka Belitung itu, disebut merupakan Gubernur non-Muslim yang dipunyai Jakarta dalam 50 tahun terakhir. Selain itu, Ahok yang disebut merupakan sekutu Presiden Joko Widodo atau Jokowi tersebut juga sosok pemimpin pertama dari etnis Tionghoa.

Penunjukan itu, dilaporkan Reuters, menjadi momen penting kembalinya Ahok sebagai pejabat publik setelah dibebaskan pada Januari lalu.

Dalam laporan itu, disebutkan bahwa ada juga yang menentang keputusan Erick Thohir, dengan serikat pekerja Pertamina menentang penunjukan Ahok.

Menteri BUMN Erick Thohir pun mencoba untuk mempertahankan keputusan tersebut. “Beri kami waktu untuk bekerja, mari kita lihat hasilnya,” tegasnya.

Kasus Penistaan

Nama Ahok memang menjadi sorotan terutama ketika dia divonis bersalah atas kasus penistaan agama setelah mengutip ayat suci Alquran, tepatnya Surat Al-Maidah ayat 51 pada 2016 lalu.

Saat itu, media asing juga ramai-ramai menyoroti penetapan Ahok sebagai tersangka penistaan agama. Komisioner Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) bahkan turut memprotes keputusan aparat penegak hukum Indonesia dan meminta mengkaji ulang hukum yang menjerat Ahok.

Ahok juga kembali mendapat sorota media-media ternama dunia usai bebas Januari 2019 lalu. Media ternama Amerika Serikat, The New York Times memberitakan bebasnya Ahok dalam artikel berjudul “Governor Convicted of Blasphemy Freed From Indonesian Prison”.

“Seorang politisi Kristen polarisasi yang komentar-komentar kampanyenya menyulut aksi-aksi protes terbesar dalam beberapa tahun di Indonesia yang mayoritas Muslim, bebas Kamis ini setelah menjalani hampir dua tahun penjara karena penistaan agama,” demikian ditulis New York Times mengawali artikelnya, Kamis (24/1/2019).

Media Australia

Media terkemuka Australia, ABC News juga mengangkat berita ini dalam artikel berjudul “Is the release of former Jakarta governor Ahok a political liability or an asset for Joko Widodo? “

Dalam artikelnya, media tersebut mengutip pernyataan Tim Lindsey, direktur Pusat Hukum Indonesia, Islam dan Masyarakat di University of Melbourne, Australia. Lindsey menyatakan bahwa pembebasan Ahok terjadi di saat masa sensitif dalam politik Indonesia, hanya tiga bulan menjelang pemilihan presiden.

“Apa pun yang terjadi pada saat ini yang terhubung dengan politik agama atau Jokowi [Joko Widodo] akan berdampak,” ujarnya kepada ABC, Kamis (24/1/2019).

Lindsey menambahkan bahwa tidak ada keraguan bahwa upaya akan dilakukan untuk mengubahnya menjadi masalah besar oleh lawan-lawan Jokowi.

Media South China Morning Post juga menulis bebasnya Ahok dengan judul yang menarik: “Ex-Jakarta governor Ahok: out of jail … and into arms of ex-wife’s bodyguard”.

Dalam artikelnya, media tersebut menyisipkan mengenai rencana Ahok untuk menikahi perempuan muda bernama Puput Nastiti Devi, seorang polwan berpangkat Bripda yang dulunya merupakan pengawal mantan istri Ahok, Veronica Tan.

Media ternama Australia lainnya, Sydney Morning Herald juga mengangkat berita ini dengan judul “Ahok release a reminder of ‘weaponised’ blasphemy law in Indonesia”.

Media ini mengutip komentar Harsono, seorang periset di Human Rights Watch Indonesia yang menyebut bahwa Ahok tak akan mundur dari politik, namun kembalinya Ahok ke politik tak akan terjadi dalam waktu dekat.

“Dia selalu memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah publik dan dia merupakan politisi alami,” ujarnya seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Pembebasan Ahok juga diberitakan oleh media terkemuka AS lainnya, Washington Post, media Singapura, Straits Times, media ngetop Inggris, The Guardian dan media-media asing lainnya.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.