Tak Sekadar Gengsi, Ini Alasan Para Miliarder Membeli Klub Olahraga

Sejumlah miliarder tak ragu mengeluarkan duit membeli klub olahraga seperti klub basket dan klub sepak bola dengan beragam tujuan.

JEDA.ID— Sejumlah miliarder tak ragu mengeluarkan duit membeli klub olahraga seperti klub basket dan klub sepak bola Bukan tanpa alasan mereka merogok kocek dalam-dalam untuk memiliki klub olahraga. Demi bisa terus meningkatkan kekayaan yang dimiliki, para miliarder dunia termasuk orang-orang kaya di Tanah Air membeli klub olahraga untuk berinvestasi.

Laporan terbaru yang dirilis UBS dan PWC mengungkap sektor olahraga kini menjadi primadona para miliarder untuk berinvestasi. John Matthews, salah satu penulis dari laporan tersebut, mengatakan, berinvestasi di olahraga bukan hanya untuk memuaskan ego mereka semata.

Seperti dilansir Liputan6.com dari Business Insider, belum lama ini, para miliarder memiliki hasrat yang besar untuk menorehkan namanya dalam sejarah. Matthews menilai, salah satu cara yang banyak ditempuh adalah dengan berinvestasi di bidang seni dan olahraga.

Tak sedikit miliarder yang kini jadi tulang punggung investor di klub olahraga. Alasan utama mereka melakukan hal ini adalah karena dengan membeli sebuah klub mereka bisa memiliki koneksi dengan komunitas yang bisa mendukung kemajuan bisnisnya yang lain.

“Jadi pemilik klub olahraga bukan hanya soal gengsi. Di Amerika Serikat dan Eropa, ini merupakan cara para miliarder untuk mempromosikan komunitas dan menorehkan jasa lebih besar sebagai orang yang mengantar klub tersebut menjadi sukses,” tutur James Matthews.

Lebih lanjut, jadi pemilik klub olahraga juga membuka kesempatan miliarder untuk merambah bidang bisnis yang lain. Dalam laporan yang dirilis UBS dan PWC dikatakan, sebanyak 109 miliarder merupakan pemilik dari 140 merek olahraga ternama.

“Seorang miliarder memberitahukan saya, mereka membeli klub olahraga bukan untuk menjadi kaya. Langkah ini justru bisa membuka pintu kesempatan untuk bertemu dengan sosok-sosok luar biasa antara bintang film, pemuka agama, hingga pebisnis terkenal,” lanjut Matthews.

Sebagai contoh, konglomerat Tiongkok, Wang Jianlin, beberapa waktu lalu membeli 20 persen saham Atletico Madrid. Pembelian tersebut membuat pemilik perusahaan properti Grup Dalian Wanda ini menjadi miliarder Asia terbaru yang berinvestasi di bidang olahraga di Eropa.

Dalian Wanda adalah perusahan pengembang terbesar di Tiongkok yang memiliki dan mengoperasikan 107 plaza ritel Wanda di seluruh Asia, serta memiliki 62 hotel di 53 kota.

Miliarder Indonesia

Tak kalah dengan para miliarder dunia, pengusaha Indonesia kembali berinventasi dengan membeli klub di luar negeri. Terbaru, Como 1907 klub asal Italia resmi diakusisi oleh Grup Djarum melalui SENT Entertainment LTD.

Dikutip detikcom dari Laprovincia di Como, perusahaan ini memang berbasis di London namun mereka disokong penuh oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang yang memiliki Djarum. Kedua orang ini masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia. Kabar dibelinya Como oleh SENT Entertainment mencuat sejak April lalu.

Como yang saat ini berkutat di Serie C sempat menembus Serie A pada musim 2002-2003. Namun seusai keberhasilan tersebut prestasi mereka merosot. Tim ini dinyatakan bangkrut pada 2004 dan baru kembali bangkit pada 2017.

Como menambah daftar klub luar negeri yang pernah dimiliki oleh pengusaha Indonesia. Sebelum Lariani, berikut ini adalah klub yang pernah diakusisi oleh para pengusaha Tanah Air dirangkum dari berbagai sumber.

1. Tranmere Rovers (Inggris)

Selain Como, Tranmere Rovers juga diakusisi oleh pengusaha Indonesia di tahun ini. Klub kasta ketiga Liga Inggris ini sahamnya dibeli oleh Santini Group. Santini Group didirikan oleh Indonesia yaitu Sofjan Wanandi pada 1994. Kini tiga Wandi, Lukito, dan Paulus Wanandi memiliki perusahaan ini.

Klub dimana Egy Maulana Vikri bermain ini sahamnya 10 persen dimiliki oleh PT Veritra Sentosa Internasional (Paytren). Paytren merupakan perusahaan milik Yusuf Mansur.

Ustaz yang namanya cukup terkenal di Indonesia tersebut membeli saham Lechia pada 2018 yang lalu. Ia diyakini harus menggelontorkan sebesar 2,5 juta Euro atau sekitar Rp41,2 miliar untuk memiliki 10 persen saham tim kasta tertinggi Liga Polandia tersebut.

2. Leicester City (Inggris)

Juara Liga Inggris musim 2015/2016 ini sahamnya pernah 20 persen dimiliki oleh orang Indonesia yaitu Imam Arif. Ia memiliki saham The Foxes pada 2011. Setahun kemudian, Imam memilih melepas sahamnya tersebut ke perusahaan pemilik saham mayoritas Liecester, King Power. Perusahaan yang asal Thailand tersebut 100 persen memiliki saham Leicester.

DC United sempat diakusisi oleh Erik Thohir pada 2012 lalu. Ia bersama rekannya Jason Levien mememilik saham klub Major League Soccer (MLS) ini sebesar 78 persen.

Enam tahun berselang tepatnya pada Agustus 2018, Thohir kemudian melepas sahamnya di DC United. Saham milik Thohir tersebut kini sepenuhnya dikuasai oleh Levien. Ia saat ini menjadi presiden DC United bersama Stephen Kaplan.

3. Inter Milan (Italia)

Selain DC United, Erick Thohir juga sempat menguasai saham Inter Milan. Ia mengakusisi 70 persen saham Inter Milan yang sebelumnya dimiliki Massimo Moratti. Namun serupa dengan saat di DC United, Thohir kemudian juga memutuskan kembali melepas kepemilikan sahamnya. Ia hanya tiga tahun memegang pucuk tertinggi kekuasaan di Inter.

Thohir menjual sahamnya ke Suning Grup sebesar 39 persen sehingga ia hanya memiliki 31 persen Saham Inter. Pengaruh Thohir untuk La Beneamata sepenuhnya hilang usai ia memutuskan menjual sisa sahamnya di Inter kepada perusahaan asal Hongkong, Lion Rock pada Januari 2019.

4. CS Vise (Belgia)

Saham Vise pernah diakusisi oleh Bakrie Group pada 2011 lalu. Pengaruh dari kepemimpinan Bakrir Group membuat beberapa pemain Indonesia sempat bermain di tim Liga Belgia ini.

Nama-nama seperti Alfin Tuasalamony, Syamsir Alam, hingga Yandi Sofyan sempat mentas di sana. Bakrie Group kemudian memutuskan melepas saham mereka di Vise tiga tahun berselang usai berkuasa. Ia menjual saham mereka ke investor lokal.

5. Brisbane Roar (Australia)

Sebelum Vise, Bakrie Group terlebih dahulu mengakusisi saham Brisbane Roar. Mereka pertama kali mengakusisi Brisbane Roar saham Brisbane Roar pada 2011 sebesar 70 persen. Grup ini kemudian membeli 30 saham sisanya sehingga mereka sepenuhnya menguasai tim asal Australia ini.

Sampai saat ini Bakrie Group masih memiliki saham mayoritas Brisbane. Jabatan presiden klub yang berdiri 62 tahun yang lalu tersebut kini dipegang oleh Rahim Soekasah.

6. Verbroedering Denber FC (Liga Belgia)

Pengusaha asal Sumatra Utara ini menggerakkan bisnisnya di bidang perkebunan sawit. rumah sakit hingga sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Walau punya latar pengusaha, tetapi nama dan sepak terjangnya di sepak bola nasional sudah cukup dikenal.

Sihar Sitorus pernah menjadi Ketua Komite PSSI pada 2011 dan juga tercatat sebagai anggota Exco PSSI. Tak hanya itu, pengusaha ini juga telah mendirikan empat klub antara lain, Medan United FC, Medan Chiefs, Pro Duta Football Club dan Nusaina FC.

Bisnis sepak bolanya tak berhenti di Indonesia. Pada 2015 silam dia dikabarkan membeli klub di kasta ketiga Liga Belgia, Verbroedering Denber FC. Tak hanya dijadikan bisnis, pembelian saham itu juga untuk mengembangkan sepak bola Tanah Air. Bukti konkritnya dia lakukan dengan mengirim tiga pemain asal Indonesia ke Belgia untuk meniti karier sepak bola di klub miliknya itu.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.